Anak-anak muda masih mau menjadi penderes. Ini harus kita lihat sebagai potensi.
BANJARNEGARA, DMNETWORK – Menjelang Hari Tani Nasional 2026, Ketua Tani Merdeka Indonesia (TMI) Wilayah Adat Banokeling, Aris Munandar, tidak hanya menyambangi sawah dan kebun petani.
Aris juga mendatangi komunitas penderes kelapa di Grumbul Gendolan, Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Dalam kunjungan tersebut, Aris didampingi Ritam dan bertemu dengan Hendri Supriyadi, salah seorang penderes yang masih aktif menjalani pekerjaan menyadap nira kelapa.
Di kawasan tersebut, sedikitnya terdapat sekitar 30 penderes aktif yang masih bertahan. Menariknya, sebagian dari mereka merupakan anak-anak muda desa.
Hendri, misalnya, dalam sekali menderes dapat menyadap sekitar 42 pohon kelapa. Dari jumlah pohon tersebut, nira yang dikumpulkan dapat menghasilkan sekitar 6 hingga 8 kilogram gula Jawa.
Produk yang dihasilkan penderes kemudian diolah menjadi gula kelapa atau gula kristal.
Harga jual gula Jawa disebut berada di kisaran Rp20.000 per kilogram, sedangkan gula kristal dapat mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram.

Bagi Aris, keberadaan anak-anak muda yang masih memilih menjadi penderes menunjukkan bahwa pekerjaan di sektor pertanian dan perkebunan masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
“Anak-anak muda masih mau menjadi penderes. Ini harus kita lihat sebagai potensi. Yang penting bagaimana pekerjaan ini bisa memberikan kesejahteraan yang layak bagi mereka,” kata Aris.
Gumelem dan Tradisi Gula Kelapa
Gumelem Kulon bukan wilayah baru dalam produksi gula kelapa.
Penelitian Universitas Muhammadiyah Purwokerto mencatat, Desa Gumelem Kulon merupakan salah satu sentra pengrajin gula kelapa. Data yang digunakan dalam penelitian tersebut menyebut terdapat sekitar 39.662 pohon kelapa yang disadap untuk menghasilkan gula kelapa dengan produksi sekitar 7.349.400 kilogram per tahun.
Persoalan pemasaran juga pernah diteliti secara khusus. Penelitian tentang pemasaran gula kelapa kristal di Gumelem Kulon terhadap 40 produsen menemukan adanya beberapa jalur pemasaran, mulai dari penjualan langsung hingga melalui distributor dan pengecer. Penelitian tersebut juga mencatat persoalan produsen antara lain penentuan harga dan hubungan dengan pembeli.
Sementara itu, Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah mencatat Koperasi Nira Kamukten di Gumelem telah memiliki ratusan anggota penderes. Pada 2022, koperasi tersebut disebut mempunyai 347 anggota dan mampu memproduksi sekitar 40 ton gula semut per bulan serta memasarkannya hingga Amerika dan Eropa.
Data tersebut menunjukkan bahwa nira kelapa sebenarnya tidak berhenti sebagai gula Jawa. Dengan pengolahan dan pemasaran yang tepat, produk tersebut dapat masuk ke pasar yang lebih luas.
Namun, Aris menilai persoalan ekonomi masih menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian.
Ketika Penderes Terikat Ijon
Salah satu persoalan klasik yang masih ditemui adalah hubungan antara penderes dengan pedagang atau pemberi modal melalui sistem ijon.
Dalam praktiknya, pedagang memberikan uang terlebih dahulu kepada penderes. Sebagai gantinya, penderes berkewajiban menyetorkan hasil produksinya kepada pedagang tersebut.
Skema itu dapat membantu penderes ketika membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, pada saat yang sama, hubungan tersebut dapat membuat penderes kehilangan keleluasaan dalam menentukan kepada siapa hasil produksinya akan dijual.
Persoalan serupa juga pernah dicatat Pemerintah Kabupaten Banyumas. Dalam profil industri gula kelapa Kecamatan Cilongok, disebutkan bahwa keterbatasan modal membuat sebagian pengrajin terjebak sistem ijon dengan tengkulak dan harus menyetorkan gula kepada mereka.
Karena itu, Aris menilai peningkatan kesejahteraan penderes tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi.
Petani juga membutuhkan akses modal, pengolahan, kelembagaan, dan pasar yang memungkinkan mereka menentukan sendiri jalur penjualan produknya.
“Yang harus diperhatikan bukan hanya bagaimana penderes menghasilkan gula, tetapi bagaimana mereka mendapatkan harga yang layak. Jangan sampai petani terus terikat kepada tengkulak karena kebutuhan ekonomi,” ujar Aris.
Menurut dia, koperasi maupun kelembagaan petani dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat posisi penderes, terutama dalam pengadaan modal dan pemasaran.
Kunjungan ke komunitas penderes Gumelem tersebut merupakan bagian dari rangkaian Aris menyambangi petani menjelang Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September.
Sebelumnya, Aris juga mengunjungi petani di wilayah adat Banokeling, melihat perkebunan cabai, kakao, tembakau, serta menghadiri peletakan batu pertama pembangunan lumbung padi TMI Banokeling.
Ia juga mencambangi sentra industri gula kristal di wilayah Purbalingga.
Bagi Aris, Hari Tani Nasional tidak cukup dimaknai sebagai peringatan tahunan. Hari Tani menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana petani dan pekerja sektor pertanian memperoleh nilai yang layak dari hasil kerjanya.
Sebab, dari tangan penderes yang memanjat pohon kelapa setiap hari, nira yang awalnya hanya cairan manis dapat berubah menjadi gula Jawa maupun gula kristal yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Persoalannya tinggal bagaimana nilai tersebut tidak berhenti di pasar, tetapi juga benar-benar kembali kepada penderes yang memulai prosesnya dari atas pohon kelapa. (Rist)