DMNETWORK –Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dijalankan secara nasional pada 2026 merupakan puncak dari gagasan panjang yang dikenal sebagai Revolusi Putih. Program ini lahir dari kesadaran bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pendidikan, tetapi juga oleh kecukupan gizi sejak usia dini. Di balik ambisi besar tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dijawab agar program tidak hanya berhasil dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.
Salah satu tantangan yang muncul adalah persoalan fisiologis penerima manfaat. Tidak semua anak memiliki kemampuan mencerna susu sapi dengan baik. Di sejumlah daerah percontohan, seperti Kota Tangerang, pemerintah menerapkan pendekatan yang lebih adaptif. Anak-anak yang memiliki riwayat intoleransi laktosa atau alergi susu sapi tidak dipaksa mengonsumsi susu. Sebagai gantinya, kebutuhan protein mereka dipenuhi melalui sumber pangan lain seperti telur, daging, ikan, dan lauk hewani segar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan program gizi tidak selalu ditentukan oleh satu jenis komoditas, melainkan oleh kemampuan menyediakan nutrisi yang tepat sesuai kondisi penerima manfaat.
Untuk memahami arah masa depan Revolusi Putih Indonesia, menarik jika dibandingkan dengan pengalaman India melalui program Operation Flood yang dimulai pada 1970. Program yang dipimpin Dr. Verghese Kurien tersebut berhasil mengubah India dari negara pengimpor susu menjadi produsen susu terbesar di dunia. Keberhasilan itu tidak semata-mata ditopang oleh peningkatan konsumsi, melainkan oleh pembangunan ekosistem produksi yang kuat dari tingkat desa.
India membangun kekuatan industri susunya melalui koperasi peternak. Jutaan petani kecil menjadi pemilik sekaligus pelaku utama rantai pasok susu nasional. Sistem ini membuat keuntungan ekonomi kembali ke desa dan mendorong peningkatan produktivitas secara berkelanjutan. Di saat yang sama, India membangun jaringan distribusi nasional yang menghubungkan sentra produksi dengan kota-kota besar sehingga pasokan dan harga dapat lebih stabil.
Faktor penting lainnya adalah keberanian berinovasi. Teknologi pengolahan susu kerbau yang dikembangkan ilmuwan India memungkinkan negara tersebut mengurangi ketergantungan pada teknologi asing dan menciptakan kedaulatan industri berbasis sumber daya lokal.
Sebaliknya, pendekatan Indonesia saat ini cenderung berfokus pada percepatan konsumsi untuk menjawab persoalan stunting dan kekurangan gizi. Orientasi ini membuat pemerintah bergerak cepat menyediakan pasokan pangan dalam jumlah besar, termasuk melalui impor sapi hidup dan keterlibatan korporasi berskala besar. Langkah tersebut dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan sektor hulu dan posisi peternak rakyat dalam rantai nilai yang sedang dibangun.
Apabila pengembangan industri susu nasional hanya bertumpu pada investasi korporasi besar, maka peternak kecil berpotensi menjadi penonton di negeri sendiri. Ketergantungan pada impor juga dapat menciptakan kerentanan baru ketika terjadi gejolak harga global, perubahan kurs, atau gangguan pasokan internasional. Karena itu, keberhasilan Revolusi Putih Indonesia tidak cukup diukur dari jumlah susu yang dikonsumsi anak-anak, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu menggerakkan ekonomi pedesaan.
Dalam konteks tersebut, kebijakan gizi nasional perlu dibangun di atas prinsip fleksibilitas dan kemandirian. Di daerah dengan tingkat intoleransi laktosa tinggi, sumber protein lokal seperti telur, ikan, daging unggas, maupun produk olahan berbasis pangan daerah dapat menjadi alternatif yang sama efektifnya. Pendekatan semacam ini tidak hanya lebih sesuai dengan kondisi masyarakat, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani, peternak, dan nelayan lokal.
Selain itu, penguatan koperasi peternak rakyat harus menjadi agenda strategis. Pengadaan sapi, penyediaan pakan, akses pembiayaan, hingga jaminan pembelian hasil produksi perlu dirancang agar peternak kecil menjadi bagian utama dari ekosistem MBG. Dengan demikian, program gizi nasional dapat berfungsi sebagai instrumen pembangunan ekonomi pedesaan sekaligus peningkatan kualitas manusia.
Pada akhirnya, Revolusi Putih Indonesia berada di persimpangan penting. Ia dapat menjadi sekadar program konsumsi yang bergantung pada pasokan eksternal, atau berkembang menjadi gerakan nasional yang memperkuat produksi pangan domestik dari desa hingga kota. Pilihan arah inilah yang akan menentukan apakah MBG hanya menjadi solusi jangka pendek bagi persoalan gizi, atau menjadi fondasi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan ditopang oleh kemandirian pangan nasional. Redaksi