JAKARTA, DMNETWORK – Isu perombakan atau reshuffle kabinet kembali mengemuka di tengah tantangan ekonomi yang masih dihadapi pemerintah. Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang disebut-sebut berpeluang bergeser mengisi posisi Gubernur Bank Indonesia.
Meski demikian, hingga kini pemerintah belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar tersebut. Spekulasi terus berkembang seiring dinamika ekonomi nasional, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai reshuffle kabinet tidak seharusnya dipahami hanya sebagai pergantian pejabat atau distribusi jabatan politik.
Menurut Adi, apabila Presiden Prabowo Subianto memutuskan melakukan perombakan kabinet, langkah tersebut harus diarahkan untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional.
“Yang harus dipahami, sampai hari ini belum ada pernyataan resmi terkait rumor reshuffle itu,” ujar Adi melalui kanal YouTube miliknya, Minggu (7/6/2026).
Ia menilai sektor ekonomi menjadi salah satu bidang yang paling sensitif dalam pemerintahan saat ini. Pelemahan nilai tukar rupiah serta ketidakpastian pasar, menurut dia, memerlukan respons kebijakan yang mampu membangun kembali kepercayaan publik dan pelaku usaha.
Karena itu, reshuffle kabinet, jika benar dilakukan, harus memberikan dampak positif terhadap persepsi pasar dan menunjukkan arah kebijakan ekonomi yang jelas.
“Yang penting, kalau terjadi reshuffle, tujuannya adalah bagaimana menstabilkan ekonomi kembali, terutama agar nilai tukar rupiah bisa kembali menguat dan tidak terus mengalami pelemahan seperti sekarang,” kata Adi.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kepercayaan pasar merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional. Pergantian pejabat pada sektor-sektor strategis, khususnya bidang ekonomi dan keuangan, perlu diikuti dengan kepastian arah kebijakan pemerintah.
Menurut Adi, masyarakat saat ini tidak hanya memperhatikan siapa yang akan diganti atau dipindahkan dari jabatannya, tetapi juga menunggu langkah konkret pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana pasar mendapatkan keyakinan bahwa ekonomi kita berada di jalur yang tepat sehingga proses pemulihan bisa berjalan lebih baik,” ujarnya.
Hingga Minggu (7/6/2026), pemerintah belum memberikan kepastian terkait kemungkinan perubahan susunan kabinet. Namun, menguatnya isu reshuffle menunjukkan bahwa dinamika ekonomi nasional kini turut memengaruhi ruang politik pemerintahan.(GK)