AMT, Mujar Sangkerta dan Panggung Teater Yogyakarta

17 Min Read
Ilustrasi gambar (DMNETWORK)

Ada satu sisi dari diri Ali Musthofa Trajutisna yang baru belakangan saya pahami lebih lengkap.

DMNETWORK – Selama ini, ketika menulis tentang AMT, ingatan saya lebih banyak tertuju kepada sosoknya sebagai pemikir, penggerak organisasi, aktivis, penggagas pendidikan, orang yang banyak berbicara tentang ekonomi rakyat, kebudayaan, Islam, koperasi, sampai politik. Ia seperti selalu berada di tengah lalu lintas gagasan.
Tetapi ternyata ada jalan lain yang pernah dilaluinya.Jalan kesenian.
Dan cerita itu kembali saya temukan ketika suatu hari saya bermain ke Yogyakarta dan bertemu dengan Mujar Sangkerta, seorang seniman kriya yang tinggal di Bantul. Pertemuan dengan Mas Mujar seperti membuka sebuah pintu lama.
Di balik pintu itu ternyata ada Yogyakarta pada masa ketika saya memandang AMT sebagai figus yang benar benar saya kagumi sebagai sosok pelopor dan motivator dalam hidup, mungkin umurku dengan beliau hanya 10 Tahun.
Ketika seni, gerakan mahasiswa, kebudayaan, pemikiran keagamaan dan kegelisahan sosial belum mempunyai sekat-sekat yang terlalu tegas.
Mujar sendiri mengenal AMT ketika ia masih menjadi mahasiswa Seni Rupa di FSRD-ISI Yogyakarta, yang saat itu kampusnya berada di Gampingan.
Menurut cerita Mas Mujar, AMT pernah datang bersama Mas Adi Mulyo, diajak Mas Badrus Zaman, untuk bersilaturahmi ke kontrakan mereka di sekitar Gang Arjuna, Wirobrajan, sebelah utara Gang Werkudoro, tidak jauh dari Kantor PPM DIY.
Tahun itu sekitar 1985.
Saya membayangkan suasana Yogyakarta pada masa itu. Jalanan Yogja masih sepi, naik motor Honda 70 atau Yamaha bebek. Sambil menghabiskan sore di jalanan Jogja.
Dan kontrakan mahasiswa bukan sekadar tempat tidur dan makan. Ia bisa menjadi ruang diskusi, ruang berkesenian, ruang bertukar gagasan, bahkan semacam laboratorium kecil untuk menguji keberanian anak-anak muda.
Orang datang membawa cerita. Orang pulang membawa gagasan. Kadang-kadang yang dibicarakan adalah seni. Kadang agama. Kadang politik. Kadang kehidupan rakyat. Dan sering kali semuanya bercampur menjadi satu. AMT berada dalam lingkungan semacam itu.

Becak yang Dibungkus Perban

Salah satu cerita Mas Mujar yang paling melekat dalam ingatan saya adalah peristiwa PENAS #1 PPM di Kaliurang pada 1985.
Saat itu Mujar dipercaya membuat setting artistik untuk sebuah instalasi berupa becak.
Becak itu dibungkus perban.
Kemudian diletakkan di sebelah panggung utama. Sekilas mungkin tampak sebagai karya artistik biasa. Tetapi kalau melihat konteks zamannya, becak itu bukan benda yang netral.
Jakarta sedang melakukan penertiban terhadap becak. Becak-becak digusur dari jalan-jalan ibu kota. Bahkan berkembang cerita bahwa becak-becak yang digusur itu dibuang ke laut untuk dijadikan rumpon. Maka sebuah becak yang dibungkus perban mempunyai bahasa visual yang kuat. Ia seperti tubuh yang terluka. Ia membawa persoalan orang-orang kecil ke tengah panggung. Mujar membuatnya menjadi seni. Tetapi seni itu sekaligus menyimpan kritik sosial.
Dalam pekerjaan membuat setting artistik tersebut, Mujar dibantu almarhum Edy, Sudono Yoso, Kumbo Adiguno dan Mas Hendro, teman-teman satu kontrakan. Di sinilah saya mulai melihat hubungan AMT dengan dunia kesenian secara lebih utuh. AMT tidak hidup di luar lingkungan seniman. Ia bergaul dengan mereka. Ia masuk ke ruang-ruang tempat gagasan kebudayaan dibicarakan.Dan kelak, keterlibatan itu tidak berhenti pada pergaulan. AMT ikut menulis. Ia menulis naskah teater. Ketika Nama AMT Masuk ke Panggung.
Mas Mujar kemudian menceritakan pengalaman lain.
Pada puncak penyerahan trophy dan hadiah bagi para pemenang Festival Teater Antar-SLTA, selalu dipentaskan pertunjukan Teater Sangkerta. Mujar menjadi penata setting artistik panggung.
Sutradaranya Yoyok Aryo, yang dikenal dengan nama Ki Bongol.
Musiknya ditangani Hendro. Dan naskahnya ditulis oleh AMT.
Saya berhenti cukup lama ketika mendengar bagian ini. Sebab selama ini AMT dalam ingatan saya adalah seorang yang gemar berbicara dan menulis gagasan. Tetapi di sini saya menemukan AMT sebagai penulis naskah drama. Gagasannya tidak berhenti sebagai tulisan atau percakapan. Gagasannya naik ke panggung. Ia berubah menjadi tokoh. Menjadi dialog. Menjadi konflik. Menjadi gerak. Menjadi suara. Dan akhirnya menjadi pertunjukan yang ditonton orang.

1001001317.jpg
karya Mujar dan pentas teater di jalan Malioboro, tahun 1987 (foto: arsip)
Mujar berada di belakang panggung, membangun ruang visual tempat cerita itu berlangsung. Yoyok Aryo menerjemahkan naskah ke dalam penyutradaraan. Hendro menghidupkan suasana dengan musik.

AMT berada di awalnya. Di naskah. Di kata-kata. Di gagasan. Tetapi teater tidak pernah menjadi pekerjaan seorang diri. Itulah yang menarik dari cerita ini.
AMT mungkin menulis naskah, tetapi Mujar yang harus membuat panggung itu mempunyai tubuh. Yoyok yang harus membuat cerita bergerak. Hendro yang memberikan bunyi dan suasana.
Mereka bekerja bersama.
Dan dari kerja bersama itulah sebuah gagasan memperoleh kehidupan.
Yogyakarta: Kota yang Menjadi Panggung
Untuk memahami hubungan AMT dengan dunia teater, kita perlu melihat Yogyakarta pada masa itu.
Yogyakarta pada dekade 1980-an hingga 1990-an adalah kota dengan denyut kebudayaan yang kuat. Kampus menjadi salah satu pusat pentingnya. Seni rupa, sastra, musik dan teater tumbuh beriringan dengan aktivitas mahasiswa dan komunitas.
Di lingkungan IAIN Sunan Kalijaga, misalnya, sudah ada Teater ESKA. Nama ESKA merupakan akronim fonologis dari Sunan Kalijaga. Kelompok ini lahir pada 1980 dari lingkungan Kelompok Seni Ushuluddin dan kemudian berkembang menjadi lembaga kesenian tingkat institut. Pementasan pertamanya, Kesadaran yang Kembali, dipentaskan pada Oktober 1980. Pada 1982, ESKA memperoleh pengakuan formal melalui SK Rektor.
Yang menarik, ESKA bukan sekadar kelompok mahasiswa yang bermain drama untuk hiburan.
Sejarahnya menunjukkan adanya pergulatan untuk mempertahankan ruang kesenian di dalam kampus. Ketika struktur kemahasiswaan berubah pada 1989-1990-an, ESKA memang kemudian ditempatkan sebagai UKM. Namun, menurut sejarah resmi UIN Sunan Kalijaga, mereka tetap mempertahankan sikap independen dan tidak mengikatkan diri pada kebijakan Dewan/Senat Mahasiswa maupun kebijakan kampus.
Bagi saya, ini penting.
Sebab dari sini kita bisa memahami bahwa teater kampus pada masa itu bukan sekadar kegiatan tambahan.
Ia bisa menjadi ruang kebebasan berpikir. Ruang kritik.
Ruang pencarian identitas. Ruang perjumpaan antara agama, seni dan persoalan masyarakat.
ESKA sendiri mengalami beberapa fase dalam perjalanan artistiknya. Kajian sejarah tentang ESKA mencatat bahwa pada masa awal, teater digunakan sebagai media kritik terhadap berbagai persoalan masyarakat, termasuk persoalan di lingkungan kampus. Kemudian berkembang kuat sebagai teater dakwah, sebelum memasuki fase yang disebut sebagai teater hikmah pada awal hingga pertengahan 1990-an.
Pada 1990, misalnya, ESKA mementaskan Tengul karya Arifin C. Noer di auditorium IAIN Sunan Kalijaga dengan arahan Hamdy Salad. Seusai pertunjukan juga digelar diskusi antarpenyair Yogyakarta.
Jadi panggung teater dan diskusi berjalan beriringan.
Pertunjukan selesai, percakapan belum selesai. Panggung ditutup, gagasan justru mulai bergerak. Dari Kampus, Kritik Sosial Menemukan Bentuk
Memasuki 1990-an, suasana dunia teater Yogyakarta menjadi semakin menarik.
Di lingkungan UGM lahir Teater Garasi pada 4 Desember 1993. Pada masa awalnya, kelompok ini berada di dalam kampus dan menjadi laboratorium penciptaan teater yang mempertemukan seniman dari berbagai disiplin. Kegiatan awalnya bahkan bernama Apresiasi Seni dan Politik. Ini bukan kebetulan.
Seni dan politik memang sedang sering berpapasan.
Teater Garasi, misalnya, pada masa awal melakukan kegiatan yang mempertemukan diskusi politik dan seni. Pada 1995 mereka mementaskan Wah karya Putu Wijaya di Purna Budaya. Pada tahun-tahun berikutnya mereka mengembangkan pertunjukan yang semakin eksperimental.
Di tempat lain, Teater ESKA terus bergerak dengan jalur sendiri.
Di berbagai ruang kampus, sanggar dan komunitas, anak-anak muda sedang mencari bahasa untuk membicarakan zamannya.
Dan bahasa teater ternyata cukup lentur untuk itu. Ia bisa bicara tentang agama. Bisa bicara tentang cinta. Bisa bicara tentang kemiskinan. Bisa bicara tentang kekuasaan. Bisa pula bicara tentang manusia yang sedang kehilangan arah.
Itulah lingkungan kebudayaan yang secara tidak langsung membantu menjelaskan keberadaan AMT.
AMT tidak muncul dari ruang yang steril. Ia berada di tengah zaman yang sedang mencari bahasa baru. Ketika Panggung dan Pergerakan Berdekatan
Pada dekade 1990-an, tekanan politik Orde Baru masih terasa kuat. Kampus menjadi salah satu ruang penting bagi pertumbuhan kritik sosial. Seni tidak selalu tampil sebagai demonstrasi terbuka. Kadang kritik diselipkan melalui naskah, simbol, tubuh pemain, musik, atau bahkan tata panggung.
Karena itu, panggung teater bisa menjadi ruang yang menarik. Di atas panggung, sesuatu yang sulit dikatakan secara langsung dapat dihadirkan dalam bentuk cerita. Penonton memahami sendiri. Tidak perlu semuanya dijelaskan. Dan mungkin inilah salah satu dunia yang membuat AMT tertarik.
Ia adalah orang yang menyukai gagasan.
Tetapi ia juga memahami bahwa gagasan yang hanya berputar di ruang diskusi akan berhenti menjadi milik orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.
Teater menawarkan jalan lain. Gagasan bisa keluar. Menemui penonton. Menjadi pengalaman bersama. Itulah mengapa cerita tentang AMT sebagai penulis naskah teater terasa penting bagi saya. Ia memperlihatkan bahwa kebudayaan bagi AMT bukan sekadar ornamen.
Kebudayaan adalah cara untuk menyampaikan sesuatu.
Kota yang Sedang Berubah
Namun Yogyakarta pada 1990-an bukan hanya kota yang penuh gairah. Ia juga mengalami perubahan.
Gedung Senisono yang telah lama menjadi salah satu pusat kebudayaan Yogyakarta dibongkar pada 1995. Pada tahun yang sama, Purna Budaya di lingkungan UGM juga mengalami perubahan fungsi. Sejumlah catatan sejarah seni pertunjukan Yogyakarta menyebut dekade 1990-an hingga awal 2000-an sebagai periode yang tidak mudah bagi kehidupan teater dan pertunjukan.
Tetapi seni memiliki sifat yang aneh. Ketika satu pintu tertutup, ia mencari pintu lain. Panggung bisa berpindah. Dari gedung pertunjukan ke kampus. Dari kampus ke sanggar. Dari sanggar ke halaman. Dari halaman ke jalan. Dan dari jalan kembali ke ruang-ruang kecil tempat orang-orang muda berkumpul.
Festival Kesenian Yogyakarta menjadi salah satu ruang penting dalam lanskap itu. Pada FKY IX 1997, misalnya, kelompok seperti Teater Garasi, Teater Sila dan Teater Pendopo tampil. Teater Garasi membawa pendekatan yang memadukan musik, tari dan puisi dalam sajian yang eksperimental.
Setahun kemudian, 1998, Indonesia berubah. Krisis ekonomi. Demonstrasi. Ke jatuhan Soeharto. Reformasi.
Dunia kesenian pun ikut bergerak.
FKY X 1998 berlangsung dalam suasana ekonomi dan politik yang sangat berbeda. Dokumentasi tentang festival itu mencatat bahwa perubahan politik dan kejatuhan Orde Baru ikut memengaruhi penyelenggaraan dan pilihan tema kesenian.
Dengan membaca kembali suasana tersebut, saya semakin bisa memahami generasi yang pernah hidup di dalamnya.
AMT dan Mujar berasal dari masa ketika seni tidak selalu dipisahkan dari persoalan masyarakat. Mereka berada dalam zaman ketika seorang mahasiswa seni bisa berdiskusi dengan aktivis.
Seorang penulis bisa berbicara dengan seniman. Seorang pemikir Islam bisa masuk ke ruang teater. Dan sebuah pertunjukan bisa menjadi pintu menuju percakapan tentang kehidupan.
AMT di Antara Kata dan Panggung
Mungkin karena itulah saya tidak lagi melihat AMT sebagai sosok yang hanya berada di belakang meja. Ia memang seorang pemikir. Tetapi pemikirannya bergerak. Ia berpindah dari satu ruang ke ruang lain. Dari diskusi ke tulisan. Dari tulisan ke organisasi. Dari organisasi ke masyarakat. Dan ternyata, dari naskah ke panggung.
Cerita Mujar Sangkerta memperlihatkan satu sisi AMT yang selama ini belum banyak saya ceritakan. Ia adalah bagian dari jaringan pergaulan kebudayaan Yogyakarta.
Ia mengenal seniman. Ia bergaul dengan mahasiswa seni. Ia menulis naskah teater. Dan naskahnya pernah dimainkan dalam sebuah pertunjukan Teater Sangkerta. Di sisi lain, Mujar bukan sekadar saksi.
Ia adalah bagian dari proses itu. Ia yang mengatur setting artistik.
Ia yang bekerja dari belakang panggung.
Kalau AMT bekerja dengan kata-kata, Mujar bekerja dengan ruang. AMT membangun dunia melalui kalimat. Mujar membangun dunia melalui benda, bentuk, cahaya, dan tata panggung. Keduanya bertemu di satu tempat: teater.
Becak, Perban, dan Naskah
Kini, setelah mendengar cerita Mujar, saya seperti menemukan benang merah. Becak yang dibungkus perban pada 1985. Teater Sangkerta. Naskah AMT. Setting artistik Mujar. Festival teater pelajar. Panggung-panggung kampus. Teater ESKA. Teater Garasi.
Dan kemudian Yogyakarta yang bergerak menuju 1998. Semua itu memang tidak bisa begitu saja disusun menjadi satu garis lurus. Tetapi semuanya berada dalam satu atmosfer kebudayaan.
Atmosfer ketika seni menjadi salah satu cara anak-anak muda membaca zamannya. Becak yang dibungkus perban mungkin hanya sebuah instalasi. Tetapi bagi saya sekarang, ia menjadi semacam pintu masuk untuk memahami AMT. Ada sesuatu yang terluka dalam masyarakat.
Seniman mencoba memperlihatkannya. Penulis mencoba menceritakannya. Teater mencoba memainkannya.
Dan penonton kemudian diajak melihat kembali kehidupan mereka sendiri. AMT mungkin tidak selalu berada di tengah panggung. Tetapi namanya ada di naskah.
Mujar mungkin tidak berdiri di depan penonton. Tetapi tangannya membangun ruang tempat cerita itu berlangsung.
Yoyok Aryo menghidupkan naskah sebagai sutradara. Hendro memberikan napas melalui musik. Dan para pemain membawa semuanya menjadi tubuh manusia di atas panggung. Begitulah sebuah gagasan bekerja. Ia tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hanya masuk melalui sebuah dialog. Kadang melalui musik. Kadang melalui cahaya.
Kadang melalui sebuah becak tua yang dibungkus perban. Dan kadang, puluhan tahun kemudian, ia kembali kepada kita melalui ingatan seorang seniman di Bantul.
Mas Mujar Sangkerta menjadi saksi dari bagian kecil perjalanan itu. Saya mendengarkan ceritanya. Lalu perlahan saya menyusun kembali potongan-potongan AMT.
Ternyata orang yang selama ini saya kenal sebagai penggerak gagasan itu juga pernah hidup sangat dekat dengan dunia panggung. Ia tidak hanya memikirkan masyarakat. Ia juga pernah menuliskan masyarakat dalam sebuah cerita. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan. Ia pernah mengirimkan gagasannya ke atas panggung.
Dan mungkin di situlah saya mulai melihat AMT dengan cara yang berbeda.
Bukan hanya sebagai seorang tokoh yang bergerak dari satu gagasan ke gagasan lain, tetapi sebagai manusia yang percaya bahwa kehidupan harus dibaca dari banyak pintu.
Politik adalah satu pintu. Agama adalah pintu lain. Ekonomi adalah pintu lain lagi.

- Iklan -
Ad imageAd image

Pendidikan, organisasi dan kebudayaan juga demikian.

Dan seni adalah salah satu pintu yang ternyata cukup sering diketuknya.

Kini pintu itu dibuka oleh Mujar Sangkerta.

Di baliknya saya menemukan AMT yang lain.

Seorang penulis naskah.

- Iklan -
Ad image

Seorang sahabat para seniman.

Seorang pengembara gagasan.

Dan seorang manusia yang ternyata pernah membiarkan pikirannya hidup di atas panggung.

Mungkin itulah sebabnya perjalanan mengenang AMT tidak pernah benar-benar selesai.

Setiap kali saya merasa sudah mengenalnya, selalu ada seseorang yang datang membawa satu cerita baru.

Dan cerita baru itu membuat sosok AMT kembali tumbuh.

Kali ini, ia tumbuh dari panggung teater Yogyakarta.

Aris Munandar, seorang petani tinggal di magelang

Share This Article
error: Content is protected !!