DMNETWORK — Di sudut desa yang jalannya masih menyisakan debu musim kemarau dan lumpur musim hujan, hiduplah seorang tua yang tidak lagi menghitung hidup dengan ukuran milik. Ia tidak tampak seperti orang penting. Mobil kijang tuanya lebih sering batuk daripada meraung. Catnya kusam, pintunya kadang harus dibanting dua kali agar benar-benar rapat. Tetapi dari mobil itulah sering turun bantuan, nasihat, jalan keluar, bahkan kadang sekadar sebungkus beras untuk dapur yang asapnya mulai jarang mengepul.
Orang-orang desa mula-mula hanya mengenalnya sebagai lelaki sepuh yang suka datang ke sawah tanpa dipanggil. Ia duduk di gubuk kecil, memandangi batang padi sambil berbincang tentang pupuk, tentang air irigasi, tentang harga gabah yang selalu lebih cepat jatuh daripada harga rokok di warung. Lama-lama orang mengerti, yang dipikirkan lelaki itu bukan dirinya sendiri. Ia seperti orang yang sudah selesai dengan urusan pribadi, lalu menyerahkan sisa umurnya kepada kepentingan orang banyak.
Ada manusia yang setelah tua menjadi ringan tangan. Ada pula yang menjadi ringan hati. Orang tua itu keduanya.
Setiap pagi, sebelum ayam benar-benar turun dari tenggerannya, pikirannya sudah berjalan lebih dulu mengelilingi desa. Apa yang harus diperbaiki? Siapa yang perlu dibantu? Jalan mana yang harus dicor? Anak siapa yang belum bisa sekolah? Sawah siapa yang kekurangan air?
Dan seperti lazimnya desa, niat baik tidak selalu berjalan di atas permadani. Kadang justru melewati batu-batu kecil bernama iri hati, prasangka, dan gunjingan. Ada yang menuduh ia mencari nama. Ada yang bilang ia sedang membangun pengaruh. Desa memang tempat yang unik. Orang bisa lebih cepat percaya kabar burung daripada kenyataan di depan mata.
Tetapi lelaki tua itu tampaknya sudah kebal terhadap bunyi mulut manusia. Ia mendengarkan fitnah seperti orang mendengar suara tonggeret di musim panas: ramai, tetapi tidak penting.
Suatu hari datang seorang warga menemuinya. Wajahnya kusut seperti sawah gagal panen. Ia ingin menjual tanah. Barangkali karena kebutuhan hidup yang tak bisa lagi ditawar. Barangkali karena anaknya sakit. Barangkali karena utang lebih cepat tumbuh daripada tanaman di ladangnya.
“Belilah tanah saya,” kata orang itu lirih.
Orang tua itu terdiam sebentar. Matanya memandang jauh ke arah pohon kelapa di tepi desa, seakan sedang berbicara dengan masa lalu.
Lalu ia berkata pelan, kalimat yang kemudian lama dikenang orang-orang:
“Aku sudah bukan waktunya mengumpulkan barang-barang lagi. Apalagi membeli tanah untuk investasi. Dulu mungkin iya. Dulu aku pernah merasa bahwa kejayaan itu ditandai dengan banyaknya yang dimiliki. Tapi umur mengajariku hal lain. Hari ini waktuku justru membuang barang-barang yang dulu kukumpulkan.”
Kalimat itu meluncur tanpa nada menggurui. Ia mengatakannya seperti orang yang selesai bertengkar dengan dirinya sendiri.
Di zaman ketika manusia berlomba menambah sertifikat tanah, menambah bangunan, menambah angka di rekening, orang tua itu justru berbicara tentang mengurangi. Tentang melepaskan. Tentang betapa lucunya manusia yang sepanjang hidup sibuk menumpuk sesuatu yang nanti akan ditinggalkan juga.
Namun ia tidak berhenti pada petuah.
“Oke,” katanya lagi. “Tanah itu kubeli. Tapi nanti akan dihibahkan untuk masyarakat sini. Untuk pertanian. Untuk kemaslahatan warga.”
Begitulah. Pada tangan orang lain, tanah mungkin berubah menjadi pagar tinggi dan papan bertuliskan: tanah milik pribadi. Tetapi pada tangan lelaki tua itu, tanah berubah menjadi jalan bagi orang banyak.
Tak lama kemudian tanah itu benar-benar dibeli. Bukan untuk vila. Bukan untuk kebun pribadi. Bukan pula untuk diwariskan kepada anak-cucu agar nama keluarga makin panjang kekuasaannya. Tanah itu diserahkan kepada yayasan masyarakat desa. Dikelola bersama. Ditanami bersama. Hasilnya pun untuk kepentingan bersama.
Desa lalu mulai mengenalnya dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai orang kaya. Sebab orang kaya di negeri ini terlalu banyak untuk dihitung. Tetapi sebagai manusia yang sudah berhasil mengalahkan kerakusan dirinya sendiri. Dan itu jauh lebih sulit.
Orang-orang kemudian sering melihat mobil kijang tuanya melintas sore hari. Jalannya pelan, seperti pemiliknya yang tidak lagi tergesa mengejar dunia. Kadang di dalam mobil ada bibit tanaman. Kadang ada karung pupuk. Kadang hanya ada dirinya sendiri dengan wajah letih tetapi damai.
Barangkali memang beginilah bentuk kemewahan yang sesungguhnya: ketika seseorang tidak lagi sibuk memperbesar rumahnya sendiri, melainkan memperluas manfaat hidupnya bagi orang lain.
Dan desa kecil itu, entah sadar atau tidak, sedang belajar satu pelajaran penting dari seorang tua sederhana: bahwa manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia simpan, tetapi dari seberapa banyak yang rela ia lepaskan.