BANYUMAS, DMNETWORK – Gagasan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia (TMI), Don Muzakir, mengenai tiga pilar organisasi, yakni sosial, politik, dan corporate, mulai diwujudkan di tingkat daerah. Salah satu implementasinya dilakukan oleh TMI Wilayah Adat Bonokeling, Kabupaten Banyumas, melalui pendirian perusahaan berbadan hukum bernama PT Jangkar Bumi Pekuncen.
Perusahaan tersebut berkedudukan di Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Jabatan Direktur Utama diemban oleh Edi Sudarnoto, sedangkan Komisaris Utama dipercayakan kepada Rusito, tokoh warga adat Bonokeling yang berdomisili di Jakarta.
Langkah tersebut menjadi implementasi konkret dari pilar corporate yang selama ini disampaikan Don Muzakir dalam berbagai forum kaderisasi Tani Merdeka Indonesia. Menurut Don Muzakir, organisasi petani tidak cukup hanya bergerak dalam bidang sosial dan advokasi kebijakan, tetapi juga harus membangun kekuatan ekonomi yang dikelola secara profesional agar mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
Konsep corporate yang dimaksud bukan menjadikan organisasi semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan membangun kelembagaan usaha yang sehat, transparan, dan profesional untuk menjawab kebutuhan riil petani. Melalui kelembagaan tersebut, petani diharapkan memiliki akses yang lebih kuat terhadap sarana produksi, pembiayaan, pemasaran hasil panen, hingga pengembangan usaha pertanian yang memberikan nilai tambah.
Direktur Utama PT Jangkar Bumi Pekuncen, Edi Sudarnoto, mengatakan bahwa perusahaan didirikan sebagai instrumen ekonomi yang sepenuhnya berpihak kepada petani anggota Tani Merdeka Indonesia, khususnya di Wilayah Adat Bonokeling.
“PT Jangkar Bumi Pekuncen dibentuk untuk menjembatani berbagai kebutuhan petani. Mulai dari penyediaan sarana produksi pertanian, penguatan jaringan pemasaran hasil panen, pengembangan usaha bersama, hingga membuka peluang kemitraan dengan berbagai pihak. Kami ingin petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga memiliki posisi yang kuat dalam rantai bisnis pertanian,” ujar Edi.
Menurut dia, pendekatan tersebut sejalan dengan visi Tani Merdeka Indonesia yang mendorong petani naik kelas melalui penguatan kelembagaan ekonomi. Organisasi tidak hanya hadir sebagai ruang konsolidasi sosial, tetapi juga menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Edi menambahkan, keberadaan PT Jangkar Bumi Pekuncen diharapkan mampu menjadi model pengembangan corporate Tani Merdeka Indonesia di berbagai daerah. Dengan pengelolaan yang profesional, perusahaan dapat menjadi jembatan antara petani, pemerintah, lembaga keuangan, dunia usaha, dan pasar sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung oleh anggota.
Melalui langkah tersebut, TMI Wilayah Adat Bonokeling menunjukkan bahwa konsep sosial, politik, dan corporate yang digagas Don Muzakir tidak berhenti sebagai gagasan organisasi, melainkan mulai diwujudkan dalam bentuk kelembagaan ekonomi yang diharapkan mampu memperkuat daya saing petani sekaligus mendukung agenda pembangunan pertanian nasional.