Dari Banokeling “Membangkitkan Bioteknologi Pangan Tradisional Indonesia”

3 Min Read
Menjadi petani adalah meminimalisir pikiran dan membudidayakan kesempatan dan peluang rakyat (foto: Arist)

Banokeling: Ketika Fermentasi Menjadi Jalan Kedaulatan Pangan

Oleh Mbah Roso

DMNETWORK – Keyakinan saya terhadap pentingnya bioteknologi pangan tradisional bukan lahir dari ruang kuliah ataupun laboratorium.

Keyakinan itu tumbuh dari pengalaman mendampingi masyarakat adat Banokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Sebagai Ketua Tani Merdeka Indonesia Wilayah Khusus Komunitas Adat Banokeling, saya menyaksikan sendiri bagaimana pengetahuan lokal dapat berjalan seiring dengan inovasi pertanian modern.

Bagi masyarakat Banokeling, bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi. Bertani adalah cara menjaga hubungan dengan alam, melestarikan tradisi, sekaligus menjamin keberlangsungan hidup generasi berikutnya. 

- Iklan -
Ad imageAd image

Hampir seluruh keluarga menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian. Karena itu, berbicara tentang ketahanan pangan di Banokeling berarti berbicara tentang masa depan seluruh komunitas.

Atas dasar itulah kami memperkenalkan budidaya sorgum sebagai tanaman alternatif yang tangguh menghadapi perubahan iklim, hemat air, dan memiliki nilai ekonomi tinggi. 

Namun kami menyadari, keberhasilan sebuah tanaman tidak hanya ditentukan oleh benih yang baik, melainkan juga oleh kesehatan tanah yang menjadi tempatnya tumbuh.

Pendekatan yang kami pilih bukan pertanian yang semakin bergantung pada bahan kimia, tetapi menghidupkan kembali biologi tanah melalui pupuk organik BioMeta. Pupuk ini dikembangkan melalui teknologi fermentasi yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk mempercepat penguraian bahan organik sehingga unsur hara lebih mudah diserap tanaman. 

Bagi kami, fermentasi bukan sekadar teknik membuat tempe atau tape, melainkan juga fondasi untuk mengembalikan kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Hasilnya mulai terlihat. Lahan-lahan yang sebelumnya kurang produktif perlahan kembali hidup. Tanaman sorgum tumbuh baik, sementara masyarakat mulai memahami bahwa pertanian modern tidak selalu identik dengan pupuk sintetis. 

Justru mikroorganisme yang tidak kasatmata menjadi pekerja paling setia dalam menjaga kehidupan tanah.

- Iklan -
Ad image

Perjuangan kami tidak berhenti pada budidaya. Bersama masyarakat adat Banokeling, kami mendorong hilirisasi sorgum agar nilai tambahnya tetap berada di desa. 

Biji sorgum tidak lagi hanya diolah menjadi beras sorgum, tetapi juga menjadi gula sorgum, tepung sorgum, jenang sorgum, hingga roti sorgum. 

Setiap produk membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan keluarga petani, sekaligus memperkenalkan pangan lokal yang lebih sehat kepada masyarakat luas.

Pengalaman di Banokeling mengajarkan bahwa kedaulatan pangan tidak lahir hanya dari tingginya produksi, tetapi dari kemampuan masyarakat menguasai seluruh rantai nilai, mulai dari benih, budidaya, teknologi fermentasi, hingga pengolahan hasil panen. 

Ketika petani mampu memproduksi, mengolah, dan memasarkan hasilnya sendiri, saat itulah mereka tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan baku, melainkan menjadi pelaku utama ekonomi desa.

Saya percaya, apa yang sedang tumbuh di Banokeling hanyalah satu contoh kecil bahwa masa depan pertanian Indonesia dapat dibangun dari desa. 

Kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Keduanya dapat berjalan berdampingan untuk melahirkan sistem pertanian yang produktif, sehat, berkelanjutan, dan berpihak kepada petani.***

Mbah Roso, Aktifis Tani Merdeka Indonesia 

Share This Article