DMNETWORK.COM – MAGELANG – Semangat kebersamaan dan rasa syukur kembali mewarnai kehidupan masyarakat lereng Gunung Merapi. Warga Dusun Sengi, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, menggelar Tradisi Merti Dusun Sengi dengan mengarak puluhan tumpeng dan gunungan hasil bumi mengelilingi kampung sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus doa bersama untuk keselamatan warga.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi simbol ungkapan syukur atas hasil pertanian yang diperoleh masyarakat. Di sisi lain, ritual budaya ini juga menjadi harapan agar seluruh warga senantiasa diberi perlindungan dari berbagai bencana, terutama ancaman erupsi Gunung Merapi yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Dusun Sengi sendiri berada di kawasan rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi, sehingga nilai spiritual dan kebersamaan dalam tradisi ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat setempat.
Wujud Syukur dan Doa Keselamatan bagi Warga Lereng Merapi
Sejak pagi hari, warga berdatangan membawa nasi tumpeng lengkap dengan aneka lauk pauk. Hidangan tersebut kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari prosesi adat sebelum didoakan bersama.
Diiringi tabuhan musik tradisional dan pertunjukan kesenian rakyat, masyarakat berjalan kaki mengelilingi dusun sebanyak tiga putaran. Di barisan depan, sejumlah pria memikul dua gunungan hasil bumi yang berisi berbagai komoditas pertanian sebagai lambang kemakmuran dan rasa syukur atas panen yang diperoleh.
Salah seorang warga, Herry, mengatakan bahwa Tradisi Merti Dusun Sengi tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga sarana memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Tradisi ini juga untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar memberikan keselamatan dan menjauhkan masyarakat dari marabahaya Merapi,” ujarnya, Selasa, 9 Juni 2026.
Kirab Budaya Perkuat Persatuan dan Gotong Royong Warga
Usai kirab selesai dilaksanakan, seluruh warga berkumpul di lapangan dusun untuk mengikuti doa bersama yang dipimpin sesepuh desa.
Suasana berlangsung penuh khidmat. Warga duduk lesehan sambil mengikuti setiap doa yang dipanjatkan, sesekali terdengar lantunan ucapan “Amin” yang menggema dari seluruh peserta sebagai bentuk harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Mantan Kepala Dusun Sengi, Narno, menyampaikan bahwa tradisi ini memiliki pesan penting untuk menjaga keharmonisan masyarakat.
Menurutnya, selain sebagai bentuk rasa syukur, merti dusun juga menjadi momentum memperkuat nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan gotong royong yang telah lama menjadi identitas masyarakat Dusun Sengi.
“Poin keduanya yaitu kita masyarakat Dusun Sengi semoga ke depannya lebih baik, guyub rukun, dan semangat gotong royong semakin terjaga,” ungkap Narno.
Pentas Wayang Kulit dan Seni Tradisional Meriahkan Perayaan
Rangkaian Tradisi Merti Dusun Sengi semakin semarak dengan digelarnya pertunjukan wayang kulit yang menjadi hiburan bagi masyarakat.
Pagelaran tersebut menghadirkan dalang Ki Jumbuh Siswanto yang membawakan lakon penuh pesan moral sekaligus menjadi bagian dari pelestarian seni budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.
Selain wayang kulit, sejumlah kelompok kesenian tradisional turut menampilkan pertunjukan yang disambut antusias oleh warga dan tamu undangan.
Di sela-sela keramaian, terlihat anak-anak mengenakan pakaian adat lengkap dengan blangkon. Dengan wajah ceria, mereka berlarian sambil mempersiapkan diri untuk tampil menari bersama kelompok seni lainnya, menambah semarak suasana perayaan budaya tersebut.
Kembul Bujono Jadi Simbol Kebersamaan Masyarakat
Sebagai puncak acara, masyarakat melaksanakan tradisi kembul bujono atau makan bersama di atas tikar secara lesehan.
Seluruh tumpeng yang sebelumnya dibawa warga kemudian disantap bersama dalam suasana penuh keakraban. Momen ini menjadi simbol persatuan tanpa memandang latar belakang sosial, sekaligus mempererat hubungan antarwarga melalui kebersamaan yang sederhana namun penuh makna.
Sambil menikmati hidangan, warga saling bercengkerama dan berbagi cerita, menciptakan suasana hangat yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat pedesaan.
Salah seorang warga, Malikatun, berharap tradisi yang terus dilestarikan tersebut membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat. “Semoga masyarakat semakin makmur dan kehidupan warga menjadi lebih ayem,” harapnya.
Bagi masyarakat Dusun Sengi, Tradisi Merti Dusun Sengi bukan sekadar perayaan budaya tahunan. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur, solidaritas sosial, pelestarian warisan leluhur, serta ikhtiar spiritual dalam menghadapi kehidupan di kawasan lereng Gunung Merapi yang sarat dengan tantangan alam. Melalui budaya yang terus dijaga, masyarakat berharap nilai kebersamaan dan keselamatan akan tetap terpelihara untuk generasi mendatang.(*)