Bagi Yuda, membuat cerutu sama halnya meracik sebuah karya. Setiap lembar daun memiliki fungsi berbeda, mulai dari filler, binder, hingga wrapper
TEMANGGUNG, DMNETWORK – Di tengah perdebatan panjang mengenai industri hasil tembakau, Yuda Sudarmaji memilih menempuh jalan yang berbeda. Ia tidak sekadar menjadi petani atau pedagang daun tembakau, tetapi berupaya mengangkat tembakau Temanggung ke kelas premium melalui industri cerutu.
Lahir dan besar di lingkungan keluarga petani tembakau di Sidoarjo, Kabupaten Temanggung, Yuda mengaku tidak pernah berhenti belajar. Baginya, tembakau bukan ilmu yang selesai dipelajari di ruang kelas, melainkan pengetahuan yang terus tumbuh mengikuti musim, tanah, dan pengalaman.
“Kalau bicara tembakau, tidak ada orang yang benar-benar ahli. Yang ada adalah orang yang terus belajar setiap musim tanam,” ujarnya saat menjadi narasumber Pelatihan Budidaya Tembakau di Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Soropadan, Selasa (14/7/2026).
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Selama bertahun-tahun, Yuda menggeluti dunia pertembakauan dari hulu hingga hilir. Ia aktif di Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), terlibat dalam Komite Pertembakauan, sekaligus mengembangkan usaha pengolahan tembakau menjadi cerutu premium yang membawa identitas lokal.
Menurut Yuda, masa depan tembakau Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada penjualan daun kering sebagai bahan baku. Nilai tambah harus diciptakan melalui inovasi, pengolahan, dan keberanian menghadirkan produk akhir yang mampu bersaing di pasar premium.

Gagasan itulah yang melahirkan Indonesian Taste Cigar dan Tumenggung Cigar dengan slogan Great Taste for Great People. Melalui kedua merek tersebut, ia berusaha menghadirkan cerutu yang mencerminkan kekayaan karakter tembakau Nusantara.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Selama berabad-abad dunia mengenal Kuba sebagai kiblat cerutu. Reputasi tersebut dibangun oleh perpaduan tanah yang subur, iklim tropis, proses fermentasi yang panjang, serta keterampilan para pelinting yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nama-nama seperti Cohiba, Montecristo, dan Partagás menjadi simbol kualitas sekaligus kemewahan di pasar cerutu dunia.
Namun, menurut Yuda, Indonesia sesungguhnya memiliki potensi yang tidak kalah besar. Temanggung, Klaten, Prambanan, Lombok, hingga sejumlah daerah penghasil tembakau lainnya menyimpan karakter daun yang berbeda-beda. Perbedaan itu bukan kelemahan, melainkan kekayaan yang dapat diracik menjadi identitas rasa khas Indonesia.
“Setiap daerah memiliki habitat dan karakter tembakaunya sendiri. Justru dari situ lahir cita rasa yang khas,” katanya.
Di tangan Yuda, tembakau Temanggung dipadukan dengan tembakau dari Klaten maupun Prambanan untuk menghasilkan profil rasa yang lebih kompleks dan seimbang. Prosesnya tidak berhenti pada budidaya, tetapi berlanjut pada fermentasi, pematangan, penyortiran, hingga pelintingan yang menentukan aroma, tekstur, dan kualitas hisapan.
Bagi Yuda, membuat cerutu sama halnya meracik sebuah karya. Setiap lembar daun memiliki fungsi berbeda, mulai dari filler, binder, hingga wrapper. Kesalahan kecil dalam memilih daun atau proses fermentasi dapat mengubah karakter rasa secara keseluruhan.
Karena itu, cerutu bukan lagi dipandang sebagai produk massal, melainkan karya kerajinan yang memadukan ketelitian, pengalaman, dan sentuhan seni. Nilai ekonominya pun jauh lebih tinggi dibandingkan tembakau rajangan biasa.
Satu batang cerutu premium dapat berbobot sekitar 10 gram dan dipasarkan hingga sekitar Rp250.000 per batang, bergantung pada ukuran, kualitas daun, lama fermentasi, serta eksklusivitas produknya. Di pasar premium, harga sebuah cerutu lebih banyak ditentukan oleh mutu, konsistensi, dan karakter rasa daripada sekadar jumlah produksi.
Meski demikian, bagi Yuda, cerutu bukan semata-mata tentang bisnis.

Ia melihat cerutu sebagai cara menjaga martabat tembakau lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Selama petani hanya menjual daun mentah, nilai ekonomi terbesar akan dinikmati oleh industri pengolahan. Sebaliknya, ketika petani mampu menghasilkan produk jadi dengan merek sendiri, nilai tambah akan tetap berada di daerah asal.
Karena itu, ia berharap semakin banyak generasi muda yang berani memasuki industri pengolahan tembakau, bukan hanya sebagai petani, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang mampu membangun merek dan identitas produk Indonesia.
Bagi Yuda, cerutu Indonesia tidak harus menjadi tiruan Kuba. Justru kekuatannya terletak pada keberanian menampilkan karakter lokal, mulai dari aroma tanah vulkanik Temanggung hingga kekhasan daun tembakau Klaten dan Prambanan. Dari perpaduan itulah ia berharap lahir sebuah cerita baru tentang cerutu Indonesia yang mampu bersaing di pasar premium dunia tanpa kehilangan akar budaya dan identitasnya sendiri.
Sebagai pusat produksi sekaligus pengembangan produknya, Tumenggung Cigar beralamat di Jalan Lingkar Utara Carikan No. 01/03, Kejawen, Gondangwinangun, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah 56255. Dari tempat inilah Yuda bersama timnya terus merawat cita rasa tembakau Temanggung agar dikenal sebagai bagian dari cerutu premium Indonesia yang berkarakter lokal. Rist