DMNETWORK.COM – Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu kebijakan pemerintah yang memberikan dampak besar terhadap sektor ketenagakerjaan sekaligus memperkuat perputaran ekonomi nasional. Hingga Mei 2026, Program Makan Bergizi Gratis tercatat telah menyerap sekitar 1,28 juta tenaga kerja di berbagai daerah di Indonesia.
Data terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan bahwa jutaan pekerja tersebut tersebar di 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan distribusi makanan bergizi untuk masyarakat. Keberadaan ribuan dapur layanan itu kini menjadi pusat aktivitas ekonomi baru yang melibatkan banyak tenaga kerja lokal.
Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga dirancang untuk memperkuat ekonomi kerakyatan melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok pangan nasional.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu instrumen strategis pemerintah dalam membuka lapangan kerja baru dan menciptakan pasar yang stabil bagi sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan.
Menurut Prabowo, keberadaan dapur-dapur layanan dalam program tersebut mampu menciptakan peluang kerja dalam jumlah besar di berbagai wilayah. Selain itu, kebutuhan bahan pangan yang terus meningkat turut memberikan kepastian pasar bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal.
“Dari MBG saja kita sudah buka 1,2 juta lapangan kerja baru di dapur-dapur. Dan kita pastikan pasar terjamin, offtake terjamin untuk puluhan juta petani, peternak, dan nelayan kita,” ujar Prabowo dalam keterangan resminya.
Pemerintah menilai Program Makan Bergizi Gratis memiliki efek berantai yang luas karena melibatkan banyak sektor sekaligus. Mulai dari penyedia bahan baku, jasa distribusi, tenaga dapur, hingga pelaku usaha kecil di daerah ikut merasakan dampak ekonomi dari program tersebut.
Program Makan Bergizi Gratis saat ini menyasar sekitar 62,45 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Kelompok penerima terdiri dari peserta didik, balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga para santri di berbagai lembaga pendidikan keagamaan.
Besarnya jumlah penerima manfaat membuat kebutuhan produksi makanan bergizi meningkat secara signifikan. Kondisi itu berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di sektor pengolahan makanan dan distribusi pangan.
Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi membutuhkan sumber daya manusia dalam jumlah cukup besar untuk memastikan proses produksi, pengemasan, hingga distribusi makanan berjalan lancar setiap hari.
Pemerintah memandang Program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang lebih sehat sekaligus memperkuat produktivitas nasional di masa mendatang.
Dampak Program Makan Bergizi Gratis juga terasa kuat di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Badan Gizi Nasional mencatat terdapat 142.387 pemasok yang terlibat aktif dalam rantai pasok program tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 59.921 merupakan pelaku UMKM. Selain itu, terdapat 13.306 koperasi, 690 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, 1.410 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta 157 BUMDesma yang turut terlibat mendukung pelaksanaan program.
Keterlibatan UMKM dan koperasi dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat ekonomi lokal. Permintaan bahan pangan dalam jumlah besar dan berlangsung secara berkelanjutan membuat aktivitas ekonomi di daerah bergerak lebih stabil.
Program Makan Bergizi Gratis juga membuka peluang baru bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan distribusi mereka.
Skala kebutuhan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis tergolong sangat besar. Satu dapur layanan atau SPPG rata-rata membutuhkan sekitar 200 kilogram beras per hari untuk memenuhi sekitar 3.000 porsi makanan.
Dalam hitungan bulanan, kebutuhan tersebut mencapai sekitar 4,8 ton beras untuk satu dapur layanan. Selain beras, kebutuhan protein hewani juga cukup tinggi dengan estimasi sekitar 2.800 ekor ayam per bulan di setiap SPPG.
Kebutuhan susu juga menjadi bagian penting dalam penyediaan makanan bergizi. Setiap dapur layanan rata-rata membutuhkan sekitar 450 liter susu per hari atau sekitar 150 mililiter untuk setiap penerima manfaat.
Besarnya kebutuhan pangan tersebut secara langsung menciptakan pasar yang stabil bagi petani, peternak, nelayan, hingga produsen susu lokal. Pemerintah menilai kondisi itu dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga stabilitas ekonomi desa.
Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis akan terus diperluas dan dioptimalkan dalam beberapa tahun mendatang. Selain meningkatkan kualitas gizi masyarakat, program ini diharapkan mampu menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan melibatkan jutaan tenaga kerja dan ratusan ribu pelaku usaha, Program Makan Bergizi Gratis kini tidak hanya dipandang sebagai program bantuan pangan, tetapi juga sebagai strategi besar pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan.
Pemerintah berharap sinergi antara sektor pangan, UMKM, koperasi, dan masyarakat dapat memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang.(*)