MAGELANG, DMNETWORK – Pemandangan menarik terlihat saat penyaluran bantuan pangan di Desa Pasuruhan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (2/6/2026). Di tengah antrean warga yang menunggu giliran mengambil bantuan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng, tampak Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kota Magelang ikut berdiri bersama masyarakat lainnya.
Tidak ada jalur khusus. Tidak ada perlakuan istimewa. Sebagai penerima manfaat yang namanya tercatat dalam daftar bantuan pangan pemerintah, ia tetap mengikuti prosedur seperti warga lainnya.
Ketika ditanya mengapa ikut mengambil bantuan tersebut, jawabannya sederhana.
“Emang nggak punya beras, ya tetap diambil undangan sembako ini,” katanya sambil tersenyum, disambut tawa warga yang berada di dekatnya.
Suasana itu menjadi gambaran bahwa program bantuan pangan pemerintah menyasar masyarakat berdasarkan data penerima manfaat, bukan berdasarkan kedekatan politik maupun organisasi. Bahkan bagi pendukung Presiden Prabowo Subianto yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan relawan, tidak ada perlakuan khusus dalam proses penyaluran bantuan.
Masyarakat datang membawa undangan dan identitas diri, kemudian mengantre sesuai urutan untuk menerima bantuan yang disalurkan oleh Badan Pangan Nasional melalui Perum Bulog.
Bagi sebagian warga, antrean tersebut justru menjadi ruang perjumpaan sosial. Mereka saling bercengkerama sembari menunggu giliran dipanggil petugas.
Ketua DPD TMI Kota Magelang itu sendiri bukan sosok baru dalam gerakan kerakyatan. Sebelum terbentuk sebagai DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Magelang, gerakan yang dipimpinnya berawal dari aktivitas kelompok perempuan tani yang bergerak secara swadaya mendampingi keluarga petani dan masyarakat pedesaan.
Kegiatan mereka saat itu banyak berfokus pada ketahanan pangan rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan, hingga penguatan ekonomi keluarga petani. Seiring waktu, jaringan yang dibangun semakin luas dan kemudian berkembang menjadi bagian dari organisasi Tani Merdeka Indonesia yang memiliki struktur lebih formal.
Transformasi dari gerakan perempuan tani menjadi DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Magelang membawa organisasi tersebut lebih aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendampingan petani, serta program-program yang berkaitan dengan ketahanan pangan masyarakat.
Meski demikian, kehadiran sang ketua di tengah antrean bantuan pangan menunjukkan bahwa kehidupan organisasi dan kehidupan sehari-hari masyarakat sering kali tidak memiliki jarak yang jauh. Di balik atribut organisasi dan aktivitas sosial yang dijalankan, mereka tetap menjadi bagian dari warga yang menghadapi kebutuhan rumah tangga yang sama.
Program bantuan pangan yang disalurkan pemerintah pada hari itu memberikan 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng kepada setiap keluarga penerima manfaat. Bagi banyak warga, bantuan tersebut menjadi tambahan yang berarti untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga.
Di tengah antrean yang mengular, tidak tampak sekat antara pengurus organisasi, relawan, maupun warga biasa. Semua menunggu giliran yang sama, membawa undangan yang sama, dan pulang dengan bantuan yang sama.
Barangkali justru di situlah makna sederhana dari sebuah program sosial pemerintah terlihat: ketika bantuan diterima tanpa membedakan latar belakang, status organisasi, maupun pilihan politik penerimanya.