Ketika Sudaryono Kembali Menggaungkan Revolusi Putih di Hari Susu Nusantara

4 Min Read
Ketika susu menjadi kebutuhan wajib bagi generasi emas (foto: istimewa)

DMNETWORK — Gaung Revolusi Putih kembali terdengar pada peringatan Hari Susu Nusantara 2026. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menginisiasi Gerakan Revolusi Putih Nasional dengan tujuan meningkatkan konsumsi susu masyarakat sekaligus memperbesar populasi sapi perah nasional.

Bagi Sudaryono, susu bukan sekadar komoditas peternakan. Susu merupakan bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia untuk menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045.

Namun sesungguhnya, Revolusi Putih bukanlah gagasan baru.

- Iklan -
Ad imageAd image

Jauh sebelum menjadi bagian dari agenda pemerintah saat ini, konsep tersebut telah lama diperkenalkan oleh Hashim Djojohadikusumo dan Prabowo Subianto sebagai sebuah gerakan nasional untuk memperbaiki kualitas gizi masyarakat melalui peningkatan konsumsi protein hewani, terutama susu.

Gagasan yang lahir lebih dari satu dekade lalu itu membawa harapan besar. Indonesia dibayangkan mampu meningkatkan konsumsi susu masyarakat, memperkuat peternakan rakyat, mengurangi ketergantungan impor, serta menjadikan susu sebagai bagian dari budaya konsumsi harian keluarga Indonesia.

Namun perjalanan waktu menunjukkan bahwa cita-cita besar tidak selalu mudah diwujudkan.

Hingga hari ini, produksi susu segar dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Sebagian besar kebutuhan industri pengolahan susu masih bergantung pada pasokan impor. Di sisi lain, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia juga masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa Revolusi Putih yang pernah digaungkan belum sepenuhnya mencapai tujuan yang dicita-citakan.

- Iklan -
Ad image

Hambatan yang dihadapi tidak sedikit. Populasi sapi perah tumbuh relatif lambat, regenerasi peternak belum berjalan optimal, investasi sektor persusuan masih terbatas, sementara industri hilir berkembang lebih lambat dibandingkan kebutuhan pasar yang terus meningkat.

Padahal, Indonesia memiliki banyak daerah yang sesungguhnya dapat menjadi motor penggerak kebangkitan industri susu nasional. Salah satunya adalah Salatiga, Jawa Tengah, yang selama ini dikenal sebagai kawasan peternakan sapi perah dan sentra produksi susu rakyat. Kehadiran koperasi-koperasi susu serta tradisi peternakan yang kuat menunjukkan bahwa fondasi Revolusi Putih sebenarnya telah lama tersedia di tingkat akar rumput.

Karena itu, ketika Sudaryono kembali menggaungkan Revolusi Putih pada Hari Susu Nusantara 2026, publik melihatnya bukan sekadar pengulangan slogan lama.

Ada konteks baru yang membuat gagasan tersebut kembali relevan.

Program Makan Bergizi Gratis yang saat ini dijalankan pemerintah membutuhkan dukungan pasokan protein dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Kebutuhan susu nasional diperkirakan akan meningkat seiring meluasnya cakupan program tersebut. Pada titik inilah Revolusi Putih menemukan momentum barunya, yakni sebagai jembatan antara agenda perbaikan gizi nasional dan kebangkitan sektor peternakan sapi perah Indonesia.

Sudaryono menegaskan bahwa peningkatan populasi sapi perah, penguatan produksi susu dalam negeri, serta perluasan akses susu bagi anak-anak sekolah harus menjadi agenda bersama. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari perbaikan kualitas gizi sejak usia dini.

Tantangan ke depan bukan lagi merumuskan konsep Revolusi Putih. Konsep itu sudah ada sejak lama. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan gagasan tersebut hidup dalam bentuk kebijakan yang konsisten, investasi yang memadai, produksi yang meningkat, serta budaya konsumsi yang tumbuh di tengah masyarakat.

Sebab ukuran keberhasilan Revolusi Putih bukanlah seberapa sering istilah itu diucapkan dalam pidato, melainkan seberapa banyak peternak yang sejahtera, seberapa besar produksi susu nasional meningkat, dan seberapa banyak anak Indonesia yang memperoleh gizi lebih baik.

Hari Susu Nusantara 2026 menjadi pengingat bahwa Revolusi Putih masih merupakan pekerjaan yang belum selesai. Setelah lama menjadi cita-cita, kini saatnya gagasan tersebut diuji dalam kenyataan. (Redaksi)

Share This Article