KARANGANYAR, DMNETWORK — Demplot Tani Merdeka Indonesia Jawa Tengah di Desa Bolon, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, tidak hanya dikembangkan sebagai lahan percontohan pertanian hortikultura. Kawasan seluas 2.100 meter persegi tersebut juga tengah dipersiapkan menjadi pusat informasi, edukasi, dan pemberdayaan petani, peternak, nelayan air tawar, serta pelaku usaha mikro di Jawa Tengah.
Di lokasi yang sebelumnya berupa lahan kurang produktif itu, berbagai tanaman hortikultura seperti cabai, bayam, jagung, kacang panjang, dan terong tumbuh subur. Namun pengembangan kawasan tidak berhenti pada sektor pertanian tanaman pangan semata.
Pengelola demplot mulai menyiapkan pengembangan sektor peternakan terpadu yang akan menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat. Saat ini di lokasi sudah terdapat beberapa ekor kambing dan tiga ekor kuda. Ke depan, kawasan tersebut akan diperluas menjadi pusat pengembangan peternakan rakyat yang mencakup ayam petelur, ayam pedaging, kambing, hingga kuda-kuda lokal unggulan.
Menurut pengelola, sebanyak 500 ekor ayam petelur dijadwalkan mulai masuk ke kawasan demplot dalam waktu dekat. Kehadiran ternak tersebut diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana usaha peternakan skala rakyat dapat dikelola secara efisien dan berkelanjutan.
Selain itu, pengembangan budidaya perikanan air tawar juga masuk dalam rencana kawasan terpadu tersebut. Konsep yang dibangun adalah menghadirkan ekosistem pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu kawasan yang saling mendukung.
Dengan konsep tersebut, petani maupun peternak yang berkunjung tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga dapat mempelajari proses produksi, manajemen usaha, pengolahan limbah menjadi pupuk organik, hingga strategi pemasaran hasil usaha.
Di tengah kawasan berdiri sebuah rumah joglo yang menjadi pusat aktivitas sosial dan edukasi. Pendopo tersebut tidak hanya digunakan sebagai tempat diskusi dan pelatihan, tetapi juga direncanakan menjadi studio podcast yang aktif setiap hari.
Melalui podcast tersebut, para petani, peternak, pelaku UMKM, hingga masyarakat desa akan diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman, tantangan, dan gagasan mereka secara langsung.
Berbeda dengan forum resmi yang sering menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi atau pejabat, podcast ini dirancang untuk menghadirkan suara dari lapangan. Mereka yang setiap hari bergulat dengan persoalan harga hasil panen, pakan ternak, permodalan usaha kecil, hingga pemasaran produk lokal akan menjadi narasumber utama.
Pengelola berharap podcast tersebut dapat menjadi jembatan informasi antara masyarakat akar rumput dengan para pemangku kebijakan, sekaligus menjadi sarana berbagi pengetahuan antarpetani dan pelaku usaha kecil.
“Petani dan masyarakat kecil sering memiliki pengalaman yang luar biasa, tetapi tidak memiliki ruang untuk menyampaikan gagasannya. Melalui podcast ini, mereka bisa berbicara langsung kepada masyarakat luas,” ujar pengelola.
Ke depan, Demplot Tani Merdeka Colomadu diharapkan berkembang menjadi pusat pembelajaran terpadu yang melayani masyarakat Karanganyar, Surakarta Raya, hingga berbagai daerah di Jawa Tengah. Tidak hanya sebagai tempat menanam dan beternak, tetapi juga sebagai ruang bertemunya pengetahuan, pengalaman, teknologi, dan aspirasi masyarakat desa.
Di tengah perubahan sektor pertanian yang semakin kompleks, keberadaan pusat pembelajaran seperti ini diharapkan mampu memperkuat posisi petani dan peternak sebagai pelaku utama pembangunan pangan nasional. (Rist)