Wayang Milehnium Wae dan Bahasa Bambu: Tafsir Kebudayaan Ki Mujar Sangkerta di Panggung M.O.R.S.A 2026

5 Min Read
Mujar Sangkerta kerta dan karya instalasi Morsa (foto: rist)

YOGYAKARTA, DMNETWORK — Di tengah gemuruh perkembangan teknologi dan perubahan lanskap budaya global, seni tradisi Indonesia terus menemukan cara untuk berbicara kepada zamannya. Salah satu ikhtiar itu hadir melalui karya instalasi bambu dan Wayang Milehnium Wae garapan Ki Mujar Sangkerta yang akan menjadi bagian penting dalam perhelatan M.O.R.S.A Event 2026 (Musik Tradisional, Orkestra, Sastra Nusantara) di Amphitheater Purawisata Yogyakarta, 23 Juni 2026.

Karya tersebut tidak hadir sekadar sebagai pelengkap artistik sebuah pertunjukan. Instalasi yang dikerjakan bersama Mas Eko, Pak Telo Hartono, Mbak Ratih, Mbak Ana, serta generasi muda Ananda Abi dan Alisia itu merupakan sebuah ruang ekspresi budaya yang memadukan kekuatan material tradisional dengan gagasan kebudayaan yang relevan bagi masyarakat masa kini.

Bambu menjadi elemen utama dalam karya tersebut. Material yang selama berabad-abad dekat dengan kehidupan masyarakat Nusantara itu dirangkai menjadi struktur artistik yang menghadirkan kesan monumental sekaligus membumi. Dalam pandangan budaya Jawa, bambu bukan sekadar tanaman, melainkan bagian dari perjalanan hidup masyarakat, mulai dari rumah tinggal, alat musik, peralatan pertanian, hingga berbagai ritual sosial dan kebudayaan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Karakter bambu yang lentur namun kokoh menjadi simbol ketahanan budaya Nusantara. Ia mampu mengikuti arah angin tanpa kehilangan pijakan. Filosofi inilah yang tampaknya ingin dihadirkan melalui instalasi karya Ki Mujar Sangkerta, bahwa kebudayaan Indonesia memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan zaman tanpa tercerabut dari akar tradisinya.

Di tengah lanskap bambu tersebut hadir sosok Wayang Milehnium Wae, sebuah karya yang menawarkan pembacaan baru terhadap tradisi pewayangan. Nama “Milehnium Wae” sendiri menghadirkan nuansa khas masyarakat Jawa yang akrab dan komunikatif. Ia terasa ringan, tetapi menyimpan pesan yang mendalam tentang bagaimana tradisi dapat terus hidup dalam ruang sosial yang terus berubah.

Jika wayang pada masa lalu menjadi media pendidikan, penyebaran nilai moral, dan refleksi kehidupan masyarakat, maka Wayang Milehnium Wae mencoba memperluas fungsi tersebut ke dalam konteks abad ke-21. Karya ini menghadirkan dialog antara warisan budaya leluhur dengan realitas masyarakat yang kini hidup di tengah dunia digital, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang bergerak tanpa batas.

Melalui pendekatan visual yang segar, Wayang Milehnium Wae tidak menempatkan tradisi sebagai peninggalan masa lalu yang harus dipajang dan dijaga dari perubahan. Sebaliknya, tradisi dipandang sebagai sumber energi kreatif yang dapat terus melahirkan bentuk-bentuk baru sesuai kebutuhan zamannya.

Perspektif itulah yang menjadikan karya ini relevan dengan semangat M.O.R.S.A Event 2026. Perhelatan budaya yang mempertemukan akademisi, budayawan, seniman, penyair, musisi orkestra, pembaca puisi, pelaku teater, paduan suara, hingga pegiat kebudayaan dari berbagai latar belakang tersebut mengusung gagasan besar tentang pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menjaga keberlangsungan budaya Indonesia.

- Iklan -
Ad image

Dalam satu panggung, publik akan disuguhkan perpaduan musik tradisional, orkestra, sastra Nusantara, puisi kebangsaan, monolog, multimedia budaya, audio visual, marching band, serta berbagai bentuk pertunjukan seni tradisional Indonesia. Di antara seluruh rangkaian itu, instalasi bambu dan Wayang Milehnium Wae berfungsi sebagai penanda visual yang memperkuat identitas dan narasi besar acara.

Kehadiran karya tersebut juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui pengulangan bentuk-bentuk lama secara utuh. Pelestarian dapat dilakukan melalui proses penciptaan yang membuka ruang tafsir baru tanpa meninggalkan nilai dasar yang diwariskan para pendahulu.

Di tangan para seniman, bambu berubah menjadi bahasa visual. Wayang menjadi medium refleksi. Ruang pertunjukan menjelma ruang percakapan kebudayaan. Setiap elemen tidak hanya menyuguhkan keindahan artistik, tetapi juga mengajak publik untuk merenungkan kembali hubungan antara manusia, tradisi, dan masa depan.

Melalui karya instalasi ini, Ki Mujar Sangkerta bersama tim kreatifnya menghadirkan pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan yang disimpan, melainkan energi yang terus dihidupkan. Ia tumbuh melalui kreativitas, kolaborasi, dan keberanian untuk membaca zaman tanpa kehilangan identitas.

Pada akhirnya, M.O.R.S.A Event 2026 bukan hanya sebuah pertunjukan seni. Ia merupakan momentum kebudayaan yang mempertemukan berbagai ekspresi kreatif Nusantara dalam satu ruang bersama. Di antara alunan musik, pembacaan sastra, pertunjukan teater, dan orkestrasi budaya yang megah, instalasi bambu serta Wayang Milehnium Wae akan berdiri sebagai simbol bahwa tradisi Indonesia selalu memiliki cara untuk tetap hidup, berbicara, dan memberi makna bagi generasi yang terus bergerak menuju masa depan.

Share This Article