Cerpen Aris Munandar: “Manfaatkan Saya”

7 Min Read
Ilustrasi cerpen karya Aris Munandar "Manfaatkan Saya"

Manusia berubah menjadi mesin kalkulator. Setiap kebaikan harus menghasilkan angka

DMNETWORK – Mereka memanggilnya ketika acara hampir selesai.

Bukan pada awal ketika tepuk tangan masih deras, bukan pula saat kamera-kamera masih berebut sudut terbaik. Ia dipanggil justru ketika sebagian tamu sudah mulai berdiri, panitia menghitung sisa konsumsi, dan para pejabat saling bertukar kartu nama sambil memastikan siapa yang masih layak ditemui.

“Mbah Roso… monggo, satu pesan penutup.”

Lelaki tua itu bangkit. Jalannya pelan, seperti seseorang yang tidak sedang mengejar waktu. Ia meraih mikrofon, memandang wajah-wajah yang memenuhi ruangan, lalu mengucapkan tiga kata yang membuat udara seolah berhenti bergerak.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Manfaatkan saya.”

Bukan “terima kasih”.

Bukan “semoga bermanfaat”.

Bukan pula doa panjang yang lazim menutup sebuah pertemuan.

Hanya tiga kata.

- Iklan -
Ad image

Manfaatkan saya.

Orang-orang saling berpandangan.

Ada yang tersenyum tipis. Ada yang mengernyitkan dahi. Seorang anak muda bahkan sempat mengira pendengarannya keliru.

Sebab selama bertahun-tahun, yang mereka dengar justru sebaliknya.

“Aku dimanfaatkan.”

“Kalau sudah tidak ada kepentingan, mereka menghilang.”

“Orang baik selalu dimanfaatkan.”

Kalimat-kalimat itu beredar dari warung kopi sampai ruang seminar. Di media sosial lebih ramai lagi. Seolah-olah penderitaan paling agung pada zaman ini adalah merasa dimanfaatkan.

Orang berlomba menjadi korban.

Semakin sering merasa dipakai orang lain, semakin tinggi pula martabat yang dibayangkannya.

Lelaki tua itu menggeleng pelan.

“Aneh sekali,” katanya.

“Orang lebih takut dimanfaatkan daripada takut hidupnya tidak pernah bermanfaat.”

Ruangan mendadak hening.

Kalimat itu melayang seperti benih. Tidak jatuh sekaligus. Ia memilih sendiri tanah yang hendak ditumbuhinya.

Mbah Roso lahir dari kampung yang tidak pernah mengenal pagar tinggi.

Pintu-pintu rumah lebih sering terbuka daripada tertutup.

Kalau ada hajatan, seluruh kampung ikut memasak.

Kalau ada kematian, tidak ada undangan, tetapi semua orang datang.

Di kampung itu, cangkul bisa berpindah tangan lebih sering daripada uang.

Tak seorang pun bertanya, “Apa untungnya meminjamkan?”

Mereka hanya percaya bahwa hidup menjadi ringan karena dipikul bersama.

Lalu zaman berubah.

Pagar semakin tinggi.

Rumah semakin besar.

Rekening semakin tebal.

Tetapi hati manusia justru semakin sempit.

Semua dihitung.

Kalau memberi ilmu, berapa honornya?

Kalau mengenalkan orang kepada pejabat, apa komisinya?

Kalau membantu tetangga, apa balas jasanya?

Bahkan senyum pun kadang menunggu keuntungan.

Manusia berubah menjadi mesin kalkulator. Setiap kebaikan harus menghasilkan angka.

Padahal Mbah Roso mengenal banyak orang.

Ia pernah duduk bersama menteri.

Ngopi dengan profesor.

Berdebat dengan aktivis.

Bertukar pikiran dengan kiai.

Masuk ke rumah pejabat tanpa membuat janji.

Tidur di rumah petani tanpa merasa lebih tinggi.

Semua hubungan itu tidak pernah ia simpan sebagai koleksi kebanggaan.

Baginya, relasi bukan piala.

Relasi adalah jembatan.

Dan jembatan kehilangan makna apabila hanya dipandangi pemiliknya.

Karena itu ia selalu berkata,

“Kalau saya mengenal seseorang yang bisa membantu urusanmu, manfaatkan saya.”

“Kalau pengalaman saya bisa menjadi jalan keluar, manfaatkan saya.”

“Kalau ilmu saya bisa mengurangi kebingunganmu, manfaatkan saya.”

“Kalau tenaga saya masih kuat, manfaatkan saya.”

Ia tidak sedang merendahkan diri.

Ia sedang mengembalikan fungsi hidup.

Suatu hari seorang pemuda bertanya dengan nada khawatir.

“Mbah, bagaimana kalau orang itu hanya datang saat butuh?”

“Biarkan.”

“Nanti Mbah dimanfaatkan.”

“Memangnya kenapa?”

“Ya rugi.”

Mbah Roso tersenyum.

“Air tidak pernah rugi karena diminum.”

Pemuda itu terdiam.

“Api tidak pernah rugi karena menghangatkan.”

“Pohon mangga tidak pernah rugi karena buahnya dipetik.”

“Lalu mengapa manusia justru merasa rugi ketika hidupnya berguna?”

Pemuda itu kehilangan jawaban.

Ada pula yang berkata lebih keras.

“Jangan terlalu baik, Mbah. Nanti diinjak.”

Lelaki tua itu tertawa.

“Tahukah kamu, jalan desa itu setiap hari diinjak ribuan kaki.”

“Apakah jalan itu berhenti menjadi jalan?”

Pertanyaan itu melayang begitu saja.

Kadang manusia terlalu sibuk menjaga harga dirinya hingga lupa menjaga kemanfaatannya.

Ia takut dipakai.

Takut diminta bantuan.

Takut kehilangan waktu.

Takut kehilangan tenaga.

Takut kehilangan nama.

Sampai akhirnya yang benar-benar hilang justru makna hidupnya.

Mbah Roso pernah berkata kepada seorang sahabatnya,

“Kalau suatu hari aku meninggal, aku tidak ingin orang berkata aku orang hebat.”

“Lalu?”

“Cukup katakan, orang tua itu pernah berguna.”

Baginya, itulah gelar paling mahal.

Sebab jabatan selesai.

Kekuasaan selesai.

Popularitas selesai.

Semua akan habis dimakan waktu.

Tetapi manfaat selalu menemukan jalannya sendiri untuk hidup lebih lama daripada pemiliknya.

Beberapa hari setelah pidato itu, sesuatu yang ganjil terjadi.

Orang-orang di kampung mulai saling menyapa dengan kalimat yang belum pernah terdengar sebelumnya.

“Kalau butuh traktor, manfaatkan saya.”

“Kalau butuh kendaraan, manfaatkan saya.”

“Kalau anakmu perlu diajari membaca, manfaatkan saya.”

“Kalau sawahmu belum sempat dipanen, manfaatkan saya.”

Pelan-pelan kampung itu berubah.

Yang kaya tidak sibuk memamerkan hartanya.

Yang pintar tidak sibuk memamerkan ilmunya.

Yang punya jabatan tidak sibuk memamerkan kekuasaannya.

Mereka berlomba-lomba menjadi berguna.

Dan ternyata perlombaan itu tidak pernah melahirkan pecundang.

Sampai pada suatu pagi, kabar yang lebih aneh lagi beredar.

Seluruh warga kampung berkumpul di balai desa.

Mereka membawa spanduk.

Anak-anak ikut berjalan.

Ibu-ibu ikut berbaris.

Para petani datang dengan caping masih menempel di kepala.

Bukan untuk memprotes pemerintah.

Bukan menolak proyek.

Bukan menuntut kenaikan harga gabah.

Mereka justru berteriak bersama-sama,

“MANFAATKAN KAMI!”

“Jangan biarkan hidup kami menganggur!”

“Jangan biarkan ilmu kami berkarat!”

“Jangan biarkan tenaga kami sia-sia!”

“Jangan biarkan pengalaman kami mati bersama usia!”

Orang-orang dari kota menganggap mereka sedang bercanda.

Sebagian wartawan mengira itu pertunjukan seni.

Ada yang menyebutnya aksi satir.

Padahal mereka sedang menyampaikan sesuatu yang telah lama hilang dari peradaban.

Bahwa manusia diciptakan bukan sekadar untuk dihormati.

Bukan sekadar untuk dipuji.

Bukan pula untuk sibuk menjaga agar dirinya tidak dimanfaatkan.

Melainkan agar keberadaannya menjadi manfaat bagi kehidupan yang lain.

Dan sejak hari itu, orang-orang kampung mempunyai ukuran baru tentang kegagalan.

Bukan miskin.

Bukan kalah.

Bukan tidak punya jabatan.

Melainkan ketika tak ada lagi seorang pun yang merasa perlu mengetuk pintunya.

Sebab barangkali nasib paling menyedihkan bagi seorang manusia bukanlah ketika ia terlalu sering dimanfaatkan.

Melainkan ketika dunia telah begitu lengkap tanpa pernah membutuhkan keberadaannya.

Magelang, 12 juli 2026

Share This Article