Esai tentang Rumah Sastra Ahmad Tohari, Bonokeling, dan Dua Tradisi Literasi Nusantara
Oleh Aris Munandar
DMNETWORK – Jika Rumah Sastra Ahmad Tohari dan Komunitas Adat Bonokeling dilihat sekilas, keduanya tampak berdiri di dua dunia yang berbeda. Yang satu dikelilingi buku, perpustakaan, dan diskusi. Yang lain hidup dalam ritus, pitutur leluhur, serta tradisi yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Namun semakin lama memperhatikan keduanya, semakin terasa bahwa mereka sedang mengerjakan pekerjaan yang sama: menyelamatkan ingatan.
Ahmad Tohari menyelamatkan ingatan melalui kalimat. Bonokeling menyelamatkannya melalui laku kehidupan. Yang satu mengabadikan pengalaman manusia ke dalam halaman-halaman buku. Yang lain menjadikan kehidupan itu sendiri sebagai halaman yang terus dibaca oleh anak cucunya.
Perbedaan itu justru memperlihatkan betapa luasnya makna literasi. Literasi bukan semata kemampuan mengeja huruf, melainkan kemampuan sebuah masyarakat menjaga nilai agar tidak tercerabut oleh zaman. Sebab sebuah bangsa tidak hanya kehilangan masa depannya ketika berhenti membaca, tetapi juga ketika berhenti mengingat.
Novel-novel Ahmad Tohari menjadi contoh bagaimana sastra mampu mengubah pengalaman lokal menjadi percakapan universal. Banyumas yang sederhana tiba-tiba dikenal dunia melalui kisah ronggeng, petani, langgar, dan pergulatan batin masyarakat desa. Apa yang sebelumnya hanya hidup di sebuah kampung, kemudian dibaca oleh orang-orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di tanah Banyumas.
Sebaliknya, Bonokeling mengajarkan bahwa tidak semua pengetahuan harus dibuka untuk semua orang. Ada nilai yang justru tetap hidup karena dijaga dengan penuh tanggung jawab. Tidak setiap tradisi harus dipertontonkan. Tidak setiap ruang sakral harus menjadi objek wisata. Ada batas yang perlu dihormati agar kebudayaan tidak berubah menjadi sekadar tontonan.
Di sinilah negara memikul peran yang tidak sederhana. Pemajuan kebudayaan tidak cukup berhenti pada pembangunan gedung atau penyelenggaraan festival. Yang lebih penting adalah memahami karakter setiap warisan budaya.
Sastra Ahmad Tohari layak didigitalisasi, diterjemahkan, dan diperkenalkan kepada dunia seluas-luasnya. Sebaliknya, tradisi Bonokeling perlu didokumentasikan dengan kebijaksanaan, tanpa memaksa membuka seluruh ruang yang oleh masyarakat adat dianggap ora ilok. Pelestarian tidak selalu berarti membuka semuanya. Kadang pelestarian justru dimulai dengan menghormati batas.
Banyumas akhirnya menghadirkan sebuah pelajaran yang sederhana tetapi mendalam. Peradaban tidak dibangun hanya oleh gedung-gedung megah, juga tidak hanya oleh manuskrip tua. Peradaban bertahan karena ada manusia yang bersedia merawat ingatan.
Rumah Sastra Ahmad Tohari dan Komunitas Adat Bonokeling adalah dua wajah dari semangat yang sama. Yang satu menjaga api melalui tulisan, yang lain menjaganya melalui kehidupan. Api itu boleh menyala dengan cara yang berbeda, tetapi cahayanya menerangi arah yang sama.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, mungkin yang paling dibutuhkan bukan sekadar pengetahuan baru, melainkan kemampuan untuk tetap mengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai-nilai apa yang patut diwariskan. Sebab sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa cepat ia mengikuti zaman, melainkan dari seberapa bijaksana ia menjaga ingatan yang membuatnya tetap menjadi dirinya sendiri.***
Aris Munandar, pelaku budaya dan petani