Reformasi 1998 mengubah segalanya. Prabowo harus meninggalkan militer. Ia berada di pusaran peristiwa yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan sejarah
Oleh Aris Munandar
DMNETWORK – Politik Indonesia kadang lebih menyerupai sawah daripada gelanggang tinju. Yang menang belum tentu yang paling keras memukul. Sering kali justru yang paling sabar menunggu musim tanam.
Prabowo Subianto tampaknya memahami hukum itu.
Ia tidak lahir dari keluarga politik biasa. Darah yang mengalir dalam dirinya membawa warisan pemikiran ekonomi dari ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, seorang ekonom yang berkali-kali keluar masuk pemerintahan karena perbedaan pandangan politik. Sejak muda, Prabowo memilih jalan yang berbeda. Ia menjadi tentara. Baginya, Indonesia dijaga lebih dahulu sebelum dibangun.
Karier militernya melesat. Dari Komandan Jenderal Kopassus hingga Panglima Kostrad. Banyak yang menduga jalan menuju pucuk kekuasaan tinggal menunggu waktu.
Tetapi sejarah mempunyai kebiasaan yang unik. Ia sering membuka pintu melalui lorong yang gelap.
Reformasi 1998 mengubah segalanya. Prabowo harus meninggalkan militer. Ia berada di pusaran peristiwa yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan sejarah. Ia kemudian tinggal di Yordania. Banyak orang menganggap babak politiknya telah selesai. Dalam hitungan politik praktis, namanya seperti matahari yang tenggelam sebelum senja.
Namun, ada orang yang menganggap kekalahan sebagai titik. Ada pula yang menganggapnya hanya koma. Prabowo memilih koma.
Sekembalinya ke Indonesia, ia tidak langsung membentuk partai. Ia lebih banyak berdiskusi. Berkumpul dengan para akademisi, aktivis, ekonom, tokoh Islam, dan kalangan nasionalis. Ruang-ruang diskusi itu melahirkan satu pertanyaan sederhana.
Mengapa negeri yang begitu kaya masih memiliki begitu banyak rakyat miskin? Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar selesai dijawab hingga hari ini.
Dari pertemuan-pertemuan tersebut lahir Institute for Policy Studies (IPS), sebuah ruang untuk merumuskan gagasan tentang ekonomi kerakyatan, kedaulatan pangan, kemandirian energi, serta perlunya negara hadir melindungi rakyat kecil.
Di sana muncul nama-nama yang kemudian dikenal publik. Fadli Zon dengan ketajaman argumentasinya. Ahmad Muzani yang tenang mengurus organisasi. Suhardi yang merumuskan arah ideologi partai. Hashim Djojohadikusumo yang menopang berbagai kebutuhan organisasi. Mereka bukan sekadar berkumpul untuk mendirikan partai, tetapi sedang menyusun sebuah rumah bagi gagasan yang mereka yakini.
Pada 6 Februari 2008, rumah itu diberi nama Gerakan Indonesia Raya. Gerindra.
Nama yang sederhana, tetapi mengandung cita-cita besar. Indonesia harus berdiri di atas kekuatannya sendiri.
Prabowo kemudian berkeliling dari kota ke kota, dari desa ke desa. Di hadapan petani ia berbicara tentang pupuk.
Di depan nelayan ia berbicara tentang laut. Di kampus ia berbicara mengenai ekonomi nasional. Hampir di setiap pidatonya selalu muncul kalimat yang sama, bahwa kekayaan Indonesia terlalu lama dinikmati segelintir orang, sementara rakyat hanya menjadi penonton di negeri sendiri.
Tahun 2009 menjadi ujian pertama. Ia memilih mendampingi Megawati Soekarnoputri sebagai calon wakil presiden. Pasangan itu kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono.
Sebagian orang berkata, mungkin memang belum waktunya. Prabowo tidak berhenti.
Lima tahun kemudian ia maju sebagai calon presiden. Kali ini melawan Joko Widodo. Ia kalah. Lima tahun berikutnya ia kembali maju. Ia kalah lagi.
Dalam politik Indonesia, tiga kali gagal biasanya cukup untuk mengakhiri sebuah mimpi. Banyak tokoh besar berhenti setelah satu atau dua kekalahan. Sebab kekalahan bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menghabiskan kesabaran para pendukung.
Prabowo memilih jalan yang berbeda. Ia menerima tawaran menjadi Menteri Pertahanan.
Keputusan itu mengundang kritik. Ada yang menyebutnya kompromi. Ada yang mengatakan ia sedang mengubur idealisme. Tetapi waktu kemudian menunjukkan bahwa politik tidak selalu berjalan lurus. Kadang jalan memutar justru lebih cepat sampai.
Selama menjabat Menteri Pertahanan, Prabowo lebih banyak berbicara mengenai modernisasi alat utama sistem persenjataan, penguatan diplomasi pertahanan, dan pentingnya ketahanan nasional. Ia mulai dikenal bukan hanya sebagai oposisi, melainkan sebagai administrator negara.
Lalu datang Pemilu 2024.
Gerindra bukan partai terbesar yang menguasai parlemen. Perolehan suaranya juga tidak mencapai ambang mayoritas. Namun politik Indonesia tidak hanya ditentukan oleh angka kursi. Ia juga ditentukan oleh kemampuan membangun kepercayaan dan menyatukan berbagai kepentingan. Prabowo berhasil melakukannya.
Pada 20 Oktober 2024, ia resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia.
Sumpah jabatan telah selesai diucapkan. Tetapi pekerjaan sesungguhnya baru dimulai.
Prabowo berkali-kali mengatakan bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya diukur dari bendera yang berkibar. Kemerdekaan harus hadir di meja makan rakyat.
Karena itu, salah satu program yang segera dijalankan adalah Makan Bergizi Gratis bagi anak-anak sekolah dan ibu hamil. Program ini bukan sekadar soal makanan, tetapi investasi terhadap kualitas generasi mendatang.
Di sektor pertanian, pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah agar petani memperoleh keuntungan yang lebih layak. Distribusi pupuk bersubsidi dipermudah sehingga petani tidak lagi menghadapi birokrasi yang berbelit. Target swasembada pangan kembali menjadi agenda utama pemerintah.
Di bidang penegakan hukum, pemerintah memperkuat langkah terhadap praktik-praktik yang merugikan negara di sektor sumber daya alam. Tata kelola sawit, timah, minyak, dan berbagai komoditas strategis mulai dibenahi. Upaya penelusuran aset negara yang berada di luar negeri juga menjadi bagian dari agenda besar untuk memperkuat kedaulatan ekonomi.
Apakah semua itu akan berhasil? Belum ada yang bisa menjawab dengan pasti.
Sejarah selalu meminta waktu sebelum memberikan penilaian.
Tetapi jika ada satu pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan Prabowo, mungkin pelajaran itu bukan tentang bagaimana memenangkan pemilu.
Melainkan bagaimana mempertahankan keyakinan ketika hampir semua orang menganggap perjalanan telah selesai.
Prabowoisme, pada akhirnya, bukan sekadar nama seorang tokoh. Ia adalah keyakinan bahwa sebuah cita-cita tidak boleh berhenti hanya karena kalah sekali. Atau dua kali. Atau tiga kali.
Sebab dalam politik, sebagaimana dalam pertanian, yang dipanen bukanlah benih yang paling cepat ditanam.
Melainkan benih yang paling tekun dirawat hingga musim panen benar-benar tiba.
Aris Munandar, spiritualis petani, tinggal di Magelang