DMNETWORK – Ada bangsa yang berganti rezim berkali-kali, tetapi watak peradabannya tetap bertahan. Iran termasuk salah satunya.
Dahulu orang menyebutnya Persia. Nama berganti, dinasti berganti, agama negara berganti, tetapi satu hal tetap: mereka selalu tahu bagaimana memperlakukan sejarah.
Ketika seorang pemimpin besar wafat, mereka tidak sekadar menggali liang. Mereka tentu jugs menggali sejarah.
Orang berbondong-bondong datang. Ada yang membawa doa, ada yang membawa air mata, ada pula yang membawa kamera. Begitulah zaman sekarang. Bahkan kesedihan pun kadang harus mendapat sudut pengambilan gambar yang baik.
Lalu mata kita melirik ke Indonesia.
Siapa yang datang?
Duta Besar.
Bukan Menteri Luar Negeri. Bukan pula presiden. Hanya Duta Besar.
Jangan buru-buru kecewa. Dalam diplomasi, ukuran penghormatan tidak selalu ditentukan oleh panjang iring-iringan mobil atau banyaknya jas hitam yang turun dari pesawat. Ada bahasa yang tidak diucapkan, tetapi dipahami oleh sesama diplomat. Kadang kehadiran seorang duta besar sudah cukup untuk mengatakan, “Kami datang menghormati.” Tidak lebih, tidak kurang.
Diplomasi memang aneh. Ia seperti wayang. Yang bergerak di depan kelir bukan selalu tokoh yang menentukan cerita. Dalangnya justru duduk di belakang.
Mungkin karena itulah Menteri Luar Negeri tidak hadir. Mungkin ada agenda lain. Mungkin ada pertimbangan strategis. Mungkin pula karena dalam dunia hubungan antarnegara, kata “mungkin” sering lebih panjang umurnya daripada penjelasan resmi.
Di negeri kita, publik sering mengira semakin tinggi pejabat yang dikirim, semakin tinggi pula persahabatan. Padahal hubungan antarnegara bukan hajatan manten. Tidak ada daftar tamu VIP yang menentukan kadar kasih sayang.
Kalau mau jujur, Iran memang bukan negara kecil yang bisa diperlakukan dengan ukuran pikiran kecil. Penduduknya sekitar 89 juta jiwa, wilayahnya lebih dari 1,6 juta kilometer persegi, dan ia berdiri di atas salah satu simpul geopolitik paling rumit di dunia. Ia punya cadangan gas alam raksasa, cadangan minyak yang besar, dan posisi geografis yang membuat setiap geraknya selalu diperhatikan. Dari Teluk Persia sampai Laut Kaspia, dari sejarah Kekaisaran Akhemeniyah sampai Republik Islam hari ini, Iran bukan negara yang bisa dibaca hanya dari satu peristiwa.
Persia sudah berusia ribuan tahun. Mereka pernah memiliki raja-raja yang namanya memenuhi kitab sejarah. Mereka pernah menjadi imperium sebelum sebagian besar bangsa modern mengenal arti negara. Mereka tahu betul bahwa seorang pemimpin akan dimakamkan, tetapi sebuah peradaban tidak ikut dikuburkan.
Barangkali karena itu mereka tidak terlalu sibuk menghitung siapa yang datang dari luar negeri. Mereka lebih sibuk memastikan jutaan rakyatnya ikut mengantar. Dalam tradisi politik seperti itu, kehadiran massa jauh lebih penting daripada protokol. Jalanan yang penuh, doa yang bersahut-sahutan, dan simbol-simbol yang dibawa rakyat sering kali lebih berbicara daripada pidato resmi mana pun.
Sementara kita, kadang lebih senang menghitung kursi kosong daripada membaca makna kehadiran.
Padahal kursi kosong itu sendiri bisa berarti banyak hal. Bisa berarti penghormatan yang diwakilkan. Bisa berarti kehati-hatian. Bisa berarti jarak yang sengaja dijaga. Bisa pula berarti negara sedang memilih bahasa yang paling aman untuk diucapkan di tengah dunia yang terlalu cepat tersinggung. Dalam diplomasi, diam sering bukan kosong. Diam kadang justru penuh perhitungan.
Begitulah tabiat zaman. Kursi yang tidak diduduki sering lebih ramai dibicarakan daripada orang yang benar-benar datang.
Dan di situlah letak masalah kita: kita terlalu sering melihat permukaan, lalu buru-buru menyimpulkan isi laut dari riak di atasnya. Kita lupa bahwa hubungan antarnegara dibangun bukan hanya oleh siapa yang hadir di satu upacara, melainkan oleh sejarah panjang yang tidak pernah masuk siaran langsung. Ada perjanjian dagang, ada kerja sama energi, ada pertukaran pendidikan, ada kepentingan keamanan, ada kalkulasi regional, ada pula kehati-hatian agar satu langkah kecil tidak berubah menjadi salah paham besar.
Iran memahami itu. Mereka bangsa tua yang tahu bahwa simbol tidak pernah berdiri sendirian. Simbol selalu ditemani memori. Dan memori, dalam politik, sering lebih keras daripada pengeras suara.
Maka ketika seorang duta besar hadir, jangan langsung dibaca sebagai ketidakhadiran. Bisa jadi justru itulah bentuk kehadiran yang paling tepat. Tidak semua penghormatan harus datang dengan sorotan kamera paling terang. Tidak semua kedekatan harus diumumkan dengan suara paling lantang. Ada hubungan yang dijaga dengan tenang, ada simpati yang disampaikan tanpa perlu berlebihan, ada penghormatan yang sengaja dibuat sederhana agar tidak mengganggu pesan yang lebih besar.
Barangkali itulah pelajaran dari Persia: peradaban yang matang tidak panik oleh tafsir orang luar. Ia tahu kapan harus menggelar lautan manusia, kapan harus membiarkan protokol bekerja, dan kapan harus membiarkan sejarah berbicara sendiri.
Dan kita, kalau mau belajar, seharusnya juga begitu. Jangan terlalu cepat menilai dari kursi yang kosong. Jangan terlalu mudah mengukur persahabatan dari level pejabat yang datang. Dunia tidak sesederhana daftar tamu undangan. Ada negara yang hadir dengan pidato, ada yang hadir dengan bunga, ada yang hadir dengan duta besar, dan ada pula yang hadir dengan diam yang penuh arti.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang duduk di kursi depan, melainkan apakah kita cukup dewasa untuk memahami mengapa kursi itu dibiarkan kosong.
Dan diplomasi, seperti kopi pahit, baru terasa rasanya setelah dingin. (Redaksi)