Baratayudha selalu lahir ketika manusia lebih sibuk mempertahankan singgasana daripada menjaga keseimbangan.
Oleh: Aris Munandar
DMNETWORK – Ada masa ketika perang hanya dikenali lewat dentuman meriam, bau mesiu, dan tanah yang menjadi kuburan. Kini perang bekerja dengan cara yang lebih halus. Ia mengenakan jas, berbicara dalam bahasa hukum, lalu memasuki gedung-gedung yang dibangun untuk menjaga keadilan.
Di negeri ini, perang tidak hanya berlangsung di lereng gunung yang dikeruk menjadi galian C. Ia juga merambat ke ruang-ruang yang semestinya menjadi benteng terakhir kepercayaan publik. Berkas dibuka. Pernyataan dibalas pernyataan. Rekaman dijawab dengan rekaman. Publik menonton, sementara kebenaran seperti sedang mencari tempat berpijak.
Orang Jawa mengenal Baratayudha. Banyak yang mengingatnya sebagai perang antara Pandawa dan Kurawa.
Padahal, yang sesungguhnya bertempur bukan sekadar dua keluarga. Yang bertarung adalah hasrat untuk berkuasa, kesetiaan, harga diri, dan pilihan hidup.
Baratayudha selalu lahir ketika manusia lebih sibuk mempertahankan singgasana daripada menjaga keseimbangan.
Di tengah hiruk pikuk itu, ingatan saya melayang ke Pekuncen.
Di sana, masyarakat Bonokeling mewariskan sebuah kisah tentang leluhur mereka, Kiai Bonokeling. Dalam tradisi yang hidup turun-temurun, beliau dikisahkan meninggalkan pusaran kekuasaan dan akhirnya menetap di sebuah kawasan yang kemudian dikenal sebagai Pekuncen. Pilihan itu bukan untuk membangun istana, melainkan membuka tanah, menanam padi, dan mengajarkan bahwa kehidupan bertumpu pada sawah, bukan pada takhta.
Entah berapa banyak versi sejarah yang dapat diperdebatkan.
Tetapi sering kali sebuah kebudayaan tidak bertahan karena kepastian tanggal, melainkan karena keteguhan nilai.
Barangkali itulah sebabnya masyarakat Bonokeling hingga hari ini tetap memuliakan tanah.
Mereka merawat benih, menjaga lumbung, dan menghormati musim. Sawah bukan hanya sumber pangan, tetapi juga sekolah kesabaran. Di sana orang belajar bahwa padi tidak pernah tumbuh karena dipaksa. Ia hanya tumbuh jika bumi, air, dan langit saling mengizinkan.
Baratayudha mengajarkan kemenangan melalui peperangan.
Bonokeling mengajarkan kemenangan melalui penanaman.
Yang satu meninggalkan padang Kurusetra.
Yang lain meninggalkan hamparan sawah.
Mungkin itu sebabnya, ketika hari ini kita menyaksikan apa yang disebut sebagai “perang bintang” di ruang-ruang kekuasaan.
Kita patut bertanya: apakah semua pertarungan memang harus dimenangkan?
Sebab petani memahami sesuatu yang sering dilupakan para pemburu kuasa.
Benih tidak pernah berlomba dengan benih lain. Ia hanya berusaha menjadi padi.
Air tidak berebut menjadi sungai terbesar. Ia hanya mengalir menuju kehidupan.
Dan tanah tidak pernah meminta tepuk tangan. Ia diam, tetapi dari diamnya itulah lahir makanan bagi sebuah bangsa.
Mungkin Indonesia tidak sedang kekurangan orang yang pandai bertarung.
Yang mulai langka adalah orang-orang yang bersedia menanam.
Kiai Bonokeling, dalam ingatan masyarakatnya, seolah meninggalkan pesan sederhana: bila kekuasaan membuat manusia lupa pada bumi, pulanglah ke sawah.
Sebab sawah tidak mengajarkan cara mengalahkan orang lain. Sawah hanya mengajarkan bagaimana kehidupan terus ditumbuhkan.
Aris Munandar adalah petani tinggal di magelang