Prabowo Singgung BBM untuk Orang Kaya, Isyarat Subsidi Energi Makin Difokuskan bagi Masyarakat Miskin

3 Min Read
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan program biodiesel B50 di Karawang sekaligus menegaskan subsidi BBM harus lebih tepat sasaran. (YouTube/Sekretariat Presiden)

DMNETWORK.COM – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa masyarakat mampu seharusnya bersedia membayar bahan bakar minyak (BBM) dengan harga lebih mahal memberi sinyal kuat mengenai arah kebijakan subsidi energi pemerintah. Di tengah upaya menjaga ruang fiskal negara, subsidi diproyeksikan semakin difokuskan kepada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat meresmikan implementasi mandatori biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Dalam pidatonya, Presiden mengatakan Indonesia mendapat perhatian dari sejumlah negara karena dinilai berhasil menjaga harga BBM bagi masyarakat kecil tanpa mengambil langkah menaikkan harga secara menyeluruh.

“Saya kaget sendiri, tokoh dunia membicarakan Indonesia. Indonesia kok berhasil tidak panik, tidak menaikkan BBM untuk rakyat kecil. Kalau untuk orang kaya tidak masalah,” kata Prabowo.

Pernyataan tersebut tidak hanya berbicara mengenai harga BBM, tetapi juga memperlihatkan pendekatan pemerintah terhadap reformasi subsidi energi. Selama bertahun-tahun, subsidi BBM kerap menjadi sorotan karena dinilai masih dinikmati oleh kelompok masyarakat yang sebenarnya memiliki daya beli tinggi.

- Iklan -
Ad imageAd image

Sindiran Bernada Canda kepada Pengusaha

Dalam acara itu, Prabowo turut menyapa sejumlah tokoh dunia usaha yang hadir, antara lain Presiden Direktur PT Adaro Energy Indonesia Tbk Garibaldi “Boy” Thohir, Presiden Direktur PT Indika Energy Tbk Arsjad Rasjid, dan Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Perkasa Roeslani.

Dengan gaya santai, Presiden menyindir bahwa pemilik kendaraan mewah semestinya tidak keberatan apabila membeli BBM dengan harga yang lebih tinggi.

“Boy, iya Boy. Kau tidak ada masalah Boy. Arsjad, kau berani pakai Lamborghini ya harus bayar mahal dong. Rosan juga enggak ada masalah kan Rosan?” ujarnya yang disambut tawa para hadirin.

Meski dikemas sebagai candaan, pernyataan tersebut mengandung pesan bahwa subsidi merupakan instrumen perlindungan sosial, bukan fasilitas yang dinikmati secara merata tanpa mempertimbangkan kemampuan ekonomi.

B50 Menjadi Bagian Strategi Ketahanan Energi

Pada kesempatan yang sama, Prabowo meresmikan penerapan biodiesel B50, yakni kebijakan pencampuran 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit ke dalam bahan bakar solar.

Menurut Presiden, kebijakan ini menempatkan Indonesia sebagai negara pertama yang menerapkan biodiesel B50 secara nasional.

- Iklan -
Ad image

“Kita dibicarakan di dunia. Kita leading dalam mengurangi emisi karbon,” ujar Prabowo.

Selain mendukung target penurunan emisi karbon, implementasi B50 dipandang sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui optimalisasi sumber daya domestik. Dengan meningkatnya penggunaan biodiesel berbasis sawit, pemerintah berharap ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil dapat terus ditekan.

Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian teknologi. Lebih dari itu, penerapan B50 menjadi simbol kemampuan Indonesia mengelola kekayaan alamnya sendiri sebagai fondasi pembangunan ekonomi dan kemandirian energi.

Apabila dikaitkan dengan pernyataan mengenai BBM bagi masyarakat mampu, peluncuran B50 memperlihatkan dua arah kebijakan yang berjalan beriringan, yakni memperkuat pasokan energi nasional melalui sumber daya dalam negeri sekaligus menata ulang distribusi subsidi agar lebih efektif, tepat sasaran, dan tidak membebani anggaran negara secara berlebihan.(*)

Share This Article