Barangkali memang manusia lebih mudah menghitung gabah daripada menghitung karunia.
DMNETWORK – Di kampung kami, ada seorang lelaki tua yang dicurigai tidak pernah bertengkar dengan nasib. Namanya Kasan.
Tidak ada yang benar benar tahu usianya. Rambutnya telah memutih lebih dahulu daripada tembok suraunya. Jalannya pelan, tetapi wajahnya selalu seperti seseorang yang baru selesai menerima kabar baik.
Yang membuat orang heran bukanlah kemiskinannya, bukan pula kesederhanaannya. Melainkan satu kalimat yang tidak pernah berubah.
“Alhamdulillah.”
Anak anak kecil hafal. Pedagang pasar hafal. Tukang becak hafal. Bahkan anjing yang sering tidur di gardu ronda mungkin ikut hafal, andaikata ia mengerti bahasa manusia.
Kalimat itu keluar setiap kali hidup datang dengan wajah apa pun.
Suatu pagi Kasan menemukan uang seribu rupiah di depan warung.
“Alhamdulillah.”
Sore harinya, ia menerima pelunasan hasil penjualan sebidang kebun peninggalan orang tuanya. Nilainya hampir satu miliar rupiah. Ia kembali berkata, “Alhamdulillah.”
Orang orang saling pandang.
Dan dalam kamus lelaki tua itu, seribu rupiah dan satu miliar memang berasal dari langit yang sama.
Suatu pagi, dompetnya hilang di pasar. Isinya memang tidak banyak. Hanya uang belanja, kartu identitas, dan selembar foto istrinya yang sudah meninggal belasan tahun silam.
Tetangga datang membantu mencari. Ada yang menyalahkan pencopet. Ada yang menyalahkan pasar. Ada pula yang menyalahkan umur tua yang mulai pelupa.
Kasan duduk di bangku bambu.
“Alhamdulillah.”
Seorang pemuda kehilangan kesabaran.
“Pak Kasan, apa tidak ada kata lain selain Alhamdulillah?”
Lelaki tua itu tersenyum kecil.
“Ada.”
“Lalu kenapa tidak dipakai?”
“Karena kata itu paling ringan dibawa hati.”
Mereka tidak memperoleh dompet itu kembali. Tetapi pagi itu, beberapa orang pulang membawa sesuatu yang tidak mereka cari.
Musim berganti. Hujan datang terlalu rajin. Sawah Kasan terendam. Bibit yang baru berumur dua minggu rebah seperti doa yang belum sempat selesai diucapkan. Tetangganya mengeluh.
“Pekerjaan setahun habis.”
Kasan mengangguk. “Alhamdulillah.”
“Masih Alhamdulillah?”
“Iya.”
“Di mana letak syukurnya?”
Kasan memungut segenggam lumpur. “Tanah masih ada.”
“Panennya gagal.”
“Tapi tanahnya belum hilang.”
Orang itu diam.
Memang manusia lebih mudah menghitung gabah daripada menghitung karunia.
Ada satu peristiwa yang paling sering dibicarakan warga.
Anak bungsu Kasan batal menikah. Undangan sudah dicetak.
Sound dan tratak sudah terpasang, pinjam tetangga.
Masakan hampir disiapkan. Lalu calon pengantin memilih pergi bersama lelaki lain. Rumah itu mendadak lengang. Saudara datang membawa wajah iba.
Kasan justru menyambut mereka dengan teh panas.
“Alhamdulillah.”
Seorang kerabat tidak tahan.
“Pak Kasan, kali ini saya benar benar tidak mengerti.” Lelaki tua itu menuangkan teh ke dalam cangkir.
“Asapnya naik.”
“Iya.”
“Nanti juga hilang.”
“Iya.”
“Begitulah kecewa.”
Tidak ada lagi yang bertanya.
Kadang jawaban terbaik memang hanya sepanjang uap yang perlahan menghilang.
Aku sering memikirkan lelaki tua itu. Mungkin ia bukan orang yang paling sabar.
Mungkin pula ia pernah menangis ketika tidak ada yang melihat.
Tetapi ia tampaknya memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak orang. Bahwa hidup bukanlah daftar kemenangan.
Hidup adalah kemampuan menerima perubahan tanpa kehilangan arah pulang.
Manusia terlalu sering menjadikan syukur sebagai hadiah setelah keinginan terpenuhi.
Padahal, mungkin syukur justru rumah tempat hati berlindung ketika keinginan itu tidak jadi datang.
Pada suatu subuh, Kasan meninggal dunia. Tanpa suara gaduh. Tanpa meninggalkan utang. Tanpa meninggalkan pesan panjang.
Di meja kecil dekat tempat tidurnya hanya ada sebuah tasbih yang sudah kusam, mushaf yang mulai menguning, dan secarik kertas.
Tulisan di atasnya pendek.
“Kalau bahagia membuatmu lupa bersyukur, bahagiamu terlalu kecil. Kalau musibah membuatmu lupa bersyukur, musibahmu terlalu besar di matamu. Padahal Tuhan selalu lebih besar daripada keduanya.”
Sejak hari itu, warga kampung masih sering mengucapkan “Alhamdulillah.”
Sebagian mengucapkannya ketika panen. Sebagian ketika anaknya lulus sekolah. Sebagian lagi ketika sembuh dari sakit.
Namun, sesekali, terdengar pula seseorang mengucapkannya pelan setelah kehilangan. Mungkin mereka mulai mengerti.
Bahwa syukur bukanlah tepuk tangan untuk nasib baik. Ia adalah cara paling bijak untuk mengatakan kepada kehidupan, “Aku tetap percaya, meski hari ini bukan hari yang kupilih.”
Magelang, 12 juli 2026
Teruntuk alm Buya Syakur Yasin, guruku.