Asal Usul Mantra

3 Min Read
Ilustrasi: asal usul mantra

DMNETWORK – Ada orang yang mendengar kata mantra, lalu yang terlintas adalah dunia gaib. Padahal, bagi masyarakat adat Bonokeling, mantra justru lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari daripada bayangan yang menakutkan itu. Mantra bukan milik malam yang gelap. Mantra adalah milik pagi ketika seseorang memulai pekerjaan, milik siang saat hajatan digelar, dan milik senja ketika doa dipanjatkan untuk mereka yang telah pulang.

Bonokeling tidak mengenal mantra sebagai alat mempertontonkan kesaktian. Mereka mengenalnya sebagai bahasa pengabdian. Sebuah ucapan yang dirawat turun-temurun, bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk mengingat bahwa manusia hanyalah tamu yang sedang menumpang hidup.

Di situlah asal usul mantra menjadi menarik. Ia bukan sekadar rangkaian bunyi. Ia adalah doa yang memilih tetap memakai pakaian bahasa Jawa lama. Orang lain menyebutnya mantra, tetapi orang Bonokeling menghidupinya sebagai wirid. Kalimat-kalimat yang diulang bukan agar langit berubah, melainkan agar hati tidak berpindah dari jalan yang diyakini.

Karena itu, mantra hadir dalam seluruh siklus kehidupan. Ketika bayi lahir dan menjalani selapanan, ketika seorang anak disunat, saat mitoni diselenggarakan, ketika keluarga mengadakan hajatan, hingga tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, bahkan seribu hari setelah seseorang meninggal dunia. Mantra mengalir bersama waktu, seperti air yang tidak pernah merasa perlu menjelaskan mengapa ia terus mengalir.

Mungkin inilah yang sering luput dipahami. Orang membaca mantra hanya sebagai teks. Padahal, masyarakat adat membacanya sebagai laku. Yang penting bukan hanya apa yang diucapkan, tetapi siapa yang mengucapkan, bagaimana batinnya, dan kepada siapa kalimat itu dipersembahkan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Sebab mantra Bonokeling selalu bergerak ke tiga arah sekaligus: kepada pepunden sebagai penanda jejak, kepada leluhur sebagai mata rantai kehidupan, dan kepada Sing Gawe Urip, Sang Pencipta Kehidupan, sebagai muara dari seluruh pengabdian.

Dengan cara itu, mantra menjelma menjadi sastra klasik Jawa yang masih bernapas. Ia tidak berhenti sebagai warisan budaya yang dipajang di museum atau diteliti di ruang akademik. Ia hidup di lidah para tetua, di pendapa, di rumah-rumah sederhana, di makam leluhur, dan terutama di dalam kesadaran orang-orang yang percaya bahwa kata-kata memiliki kewajiban moral untuk menjaga keseimbangan hidup.

Barangkali karena itulah mantra tidak pernah selesai diucapkan. Setelah bunyinya hilang, yang tinggal adalah getaran sukma. Dan selama getaran itu masih menghubungkan manusia dengan pepunden, leluhur, dan Sang Pemberi Hidup, selama itu pula mantra tetap hidup, bukan sebagai bunyi, melainkan sebagai spiritualitas yang bersemayam dalam setiap laku.

Aris Munandar, petani yang gemar menulis

- Iklan -
Ad image
Share This Article