DMNETWORK – Banyak orang berkata, menjadi petani adalah jalan menuju kemiskinan. Lahan seribu atau dua ribu meter dianggap tidak akan pernah mampu mengubah nasib. Paling-paling hanya cukup untuk mengisi dapur, itu pun jika musim sedang berpihak.
Kalimat-kalimat semacam itu lahir dari mereka yang mengenal sawah hanya dari jendela mobil atau lembar laporan. Mereka menghitung hasil panen dengan angka, tetapi tidak pernah menghitung berapa kali seorang petani menelan kecewa ketika benih yang baru tumbuh justru menjadi santapan hama.
Bertani bukan sekadar pekerjaan. Bertani adalah kesanggupan berdialog dengan waktu. Di sawah, manusia tidak dapat memerintah alam. Yang bisa dilakukan hanyalah memahami iramanya. Ada saat tanah harus dibajak, ada saat benih harus dititipkan kepada bumi, ada saat pupuk diberikan, dan ada masa ketika petani hanya mampu menunggu sambil memandang langit, berharap hujan datang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
Di situlah hati bekerja lebih keras daripada ambisi. Ambisi ingin panen secepat mungkin, tetapi alam tidak pernah mengenal kata tergesa. Alam hanya mengenal kesabaran.
Setiap musim tanam selalu membawa cerita baru. Ketika padi mulai menghijau, tikus datang lebih dulu merayakan pesta. Mereka bukan sekadar memakan bulir, melainkan menggerogoti batang hingga tanaman roboh sebelum waktunya. Burung kuntul berbondong-bondong turun ke sawah. Sebagian memang mencari siput dan serangga, tetapi langkah-langkahnya yang panjang sering menginjak bibit yang baru saja ditanam. Belalang, ulat, kupu-kupu, wereng, penggerek batang, hingga berbagai serangga lain seolah memiliki kalender sendiri untuk datang bersamaan.
Petani tidak pernah benar-benar sendirian di sawah. Ia selalu ditemani begitu banyak makhluk yang sama-sama menginginkan hasil dari tanah itu.
Kadang hanya dalam satu malam, harapan yang dipelihara berbulan-bulan lenyap begitu saja. Tikus merampasnya tanpa suara. Paginya, petani hanya berdiri memandang batang-batang yang rebah. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Tidak ada pidato. Yang terdengar hanyalah desir angin dan napas panjang yang berusaha menerima kenyataan.
Karena itulah, pahit getir petani sering kali berbeda dengan cerita yang terdengar dari podium-podium kekuasaan. Dalam pidato, hasil panen dibacakan sebagai statistik. Di sawah, panen adalah air mata, doa, tenaga, dan keyakinan yang ditanam bersama setiap benih.
Namun, anehnya, petani selalu kembali ke sawah.
Setelah gagal, ia kembali membajak. Setelah rugi, ia kembali menanam. Setelah panennya habis dimakan hama, ia kembali menebar benih dengan harapan yang sama besarnya seperti musim pertama.
Mungkin karena petani memahami satu hal yang mulai dilupakan banyak orang: kehidupan tidak dibangun oleh kemenangan yang terus-menerus, melainkan oleh keberanian untuk memulai kembali.
Sawah akhirnya bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah ruang tempat manusia belajar rendah hati. Di sana tidak ada jabatan yang dapat memerintah hujan, tidak ada kekuasaan yang mampu menghentikan angin, dan tidak ada kekayaan yang bisa memaksa benih tumbuh sebelum waktunya.
Maka, menjadi wong tani sesungguhnya bukan sekadar profesi. Ia adalah laku hidup. Sebuah jalan yang mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya soal hasil panen, melainkan juga tentang kesabaran yang tidak pernah habis, ikhtiar yang terus diperbarui, dan keyakinan bahwa setiap butir padi yang menguning selalu lahir dari tangan-tangan yang memilih bertahan ketika banyak orang telah menyerah.
Aris Munandar, petani dan senang menulis