Nitrobacter sebagai bakteri yang mengubah nitrit menjadi nitrat sehingga unsur nitrogen lebih mudah diserap tanaman
TEMANGGUNG, DMNETWORK – Suasana pembelajaran di Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Soropadan, Jalan Raya Magelang-Semarang Km 13, Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, tetap berlangsung antusias meski peserta telah mengikuti rangkaian pelatihan sejak pagi hingga larut malam.
Pada hari kedua Pelatihan Budidaya Tembakau Angkatan V dan VI, materi mengenai teknologi Nitrobacter disampaikan oleh Andi dan Gondo di Kelas C. Keduanya mengulas peran Nitrobacter sebagai bakteri yang mengubah nitrit menjadi nitrat sehingga unsur nitrogen lebih mudah diserap tanaman. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sekaligus mendukung sistem budidaya tembakau yang lebih ramah lingkungan.
Meski jadwal pelatihan cukup padat, suasana kelas tidak berlangsung kaku. Menyadari para peserta mulai kelelahan setelah mengikuti materi sejak pagi, Andi dan Gondo beberapa kali menyisipkan guyonan dan contoh-contoh sederhana dari pengalaman di lapangan. Cara penyampaian yang santai membuat peserta tetap fokus mengikuti materi hingga sesi diskusi berakhir pada malam hari.
Diskusi berlangsung hidup dengan banyaknya pertanyaan dari peserta. Harno, peserta asal Kabupaten Klaten, mengangkat persoalan penerapan Nitrobacter di lahan tembakau yang selama ini masih bergantung pada pupuk kimia. Ia mempertanyakan waktu aplikasi yang paling efektif agar bakteri dapat bekerja optimal dan memberikan manfaat nyata terhadap pertumbuhan tanaman.
Sementara itu, Turhamun, peserta dari Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, menanyakan efektivitas Nitrobacter pada kondisi lahan dengan tingkat kesuburan yang berbeda. Ia juga meminta penjelasan mengenai kombinasi penggunaan Nitrobacter dengan pupuk organik maupun pupuk anorganik agar hasilnya tetap maksimal di tingkat petani.
Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Andi menjelaskan bahwa keberhasilan penggunaan Nitrobacter sangat dipengaruhi kondisi tanah, kandungan bahan organik, kelembapan, serta ketepatan waktu aplikasi. Karena itu, petani tidak hanya dituntut menggunakan produk hayati, tetapi juga memahami kondisi biologis tanah agar mikroorganisme dapat berkembang dengan baik.
Gondo menambahkan, teknologi hayati tidak dimaksudkan menggantikan seluruh pupuk kimia secara instan, melainkan meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga kebutuhan pupuk dapat ditekan secara bertahap. Dengan tanah yang semakin sehat, produktivitas tanaman diharapkan meningkat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pertanian.
Selain teori, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai teknik pengembangan kultur Nitrobacter, proses fermentasi, hingga tata cara aplikasi di lapangan. Materi tersebut menjadi bekal agar para petani mampu menerapkan teknologi hayati secara mandiri sesuai kondisi lahan masing-masing.
Pelatihan Budidaya Tembakau Angkatan V dan VI yang diselenggarakan Bapeltan Soropadan diharapkan mampu memperkuat kapasitas petani dalam menerapkan budidaya tembakau yang produktif, efisien, dan berkelanjutan. Antusiasme peserta yang tetap aktif berdiskusi hingga malam menjadi gambaran besarnya keinginan petani untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi pertanian.***