Dah lunas ya, Bu,” katanya singkat.
Dah lunas ya, Bu,” katanya singkat.
MAGELANG, DMNETWORK – Di tengah rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) dan pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kabupaten Magelang di Pasar Muntilan beberapa waktu lalu, terselip sebuah kisah sederhana yang justru menggambarkan wajah sesungguhnya pasar tradisional.
Seorang laki-laki berpenampilan kumal dengan kulit legam tiba-tiba memasuki lokasi acara. Penampilannya membuat beberapa peserta menoleh. Wajahnya tampak keras, langkahnya cepat, seolah sedang mencari seseorang di antara para tamu yang mengikuti prosesi pelantikan.
Tak lama kemudian, ia menemukan seorang perempuan yang duduk di kursi peserta. Tanpa banyak bicara, laki-laki itu duduk tepat di belakang perempuan tersebut.
Tidak ada sapaan. Tidak ada perbincangan.
Sang perempuan perlahan merogoh tas yang berada di pangkuannya. Ia mengeluarkan uang sebesar Rp300.000, lalu menyodorkannya ke belakang. Laki-laki itu dengan sigap menerima uang tersebut.
Pemandangan itu sempat memunculkan berbagai prasangka dari beberapa orang yang melihat sekilas. Namun, hanya dalam hitungan detik, dugaan itu berubah.
Laki-laki tersebut memasukkan uang Rp300.000 ke sakunya, kemudian mengambil uang kembalian sekitar Rp30.000 dan menyerahkannya kepada perempuan itu.
“Dah lunas ya, Bu,” katanya singkat.
“Iya. Besok lagi ya. Kapan dagangannya datang lagi?” tanya perempuan itu.
“Minggu depan saya bawa barang lagi ke ibu di kios,” jawab laki-laki tersebut.
Barulah orang-orang yang memperhatikan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bukan transaksi mencurigakan, melainkan pelunasan pembayaran barang dagangan antara seorang pedagang kios dengan pemasok yang selama ini menjadi langganannya.
Tidak ada kuitansi. Tidak ada tanda tangan. Yang menjadi jaminan hanyalah kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Peristiwa sederhana itu seakan menjadi potret kecil kehidupan pasar tradisional. Di balik ramainya aktivitas jual beli, masih hidup hubungan sosial yang dibangun atas dasar kejujuran dan saling percaya.
Momentum tersebut berlangsung bersamaan dengan Musyawarah Daerah (Musda) dan pelantikan DPD APPSI Kabupaten Magelang yang digelar di Pasar Muntilan. Forum itu menjadi ajang konsolidasi para pedagang pasar untuk memperkuat organisasi sekaligus merumuskan langkah menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi pasar rakyat.
Dalam musyawarah tersebut, Heri Surahman resmi dilantik sebagai Ketua DPD APPSI Kabupaten Magelang bersama jajaran pengurus periode baru. Pelantikan menjadi awal penguatan organisasi pedagang pasar agar semakin mampu memperjuangkan kepentingan anggotanya sekaligus membangun kemitraan dengan pemerintah daerah.
Ketua DPD APPSI Kabupaten Magelang Heri Surahman mengatakan, kisah sederhana yang terjadi di sela-sela pelantikan itu justru menggambarkan nilai paling mendasar yang dimiliki pasar tradisional.
“Peristiwa seperti itu menjadi bukti bahwa pasar bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Ada kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun antara pedagang dan pemasok. Nilai itu adalah modal sosial yang tidak boleh hilang. APPSI hadir untuk menjaga pasar tetap hidup, bukan hanya sebagai pusat ekonomi rakyat, tetapi juga sebagai ruang yang merawat kejujuran, gotong royong, dan persaudaraan,” ujar Heri Surahman.
Ia menambahkan, kepengurusan APPSI Kabupaten Magelang akan berupaya memperkuat kelembagaan pedagang, meningkatkan daya saing pasar tradisional, serta menjalin kolaborasi dengan pemerintah agar pasar rakyat tetap menjadi penggerak utama ekonomi daerah.
Di tengah prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat, kisah seorang lelaki berpenampilan kumal yang datang hanya untuk menagih pembayaran dagangan menjadi pengingat bahwa kekuatan pasar tradisional sesungguhnya tidak hanya terletak pada besarnya nilai transaksi, melainkan pada kepercayaan yang terus dijaga dari satu tangan ke tangan lainnya. Di pasar, kepercayaan sering kali menjadi mata uang yang nilainya jauh lebih mahal daripada uang itu sendiri. (Rist)