JAKARTA, DMNETWORK – Kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di Kampung Pasar Jiung, Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin (1/6/2026) malam. Akibat peristiwa tersebut, sedikitnya 330 kepala keluarga (KK) terdampak dan kehilangan tempat tinggal.
Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat, Syarifudin, mengatakan kebakaran terjadi di dua wilayah rukun warga (RW) dengan cakupan yang cukup luas.
“Kebakaran terjadi di dua RW. Di RW 04 berada di RT 12 sampai RT 16 dengan jumlah 300 KK dan di RW 05 di RT 01 sampai RT 03 dengan jumlah 30 KK,” ujar Syarifudin saat dihubungi, Selasa (2/6/2026).
Menurut Syarifudin, penyebab kebakaran diduga berasal dari korsleting listrik di salah satu rumah warga di RT 14 RW 04. Namun, penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan sumber api dan menghitung total kerugian yang ditimbulkan.
“Penyebab kebakaran diduga dari kelistrikan dari rumah di RT 14 RW 04. Total kerugian masih dalam penyidikan Inafis Polri,” katanya.
Api dengan cepat membesar dan merembet ke rumah-rumah di sekitarnya. Padatnya permukiman, banyaknya bangunan semi permanen, serta penggunaan material yang mudah terbakar menjadi faktor yang mempercepat penyebaran api.
Kondisi tersebut diperparah oleh tiupan angin yang cukup kencang saat kejadian, sehingga kobaran api sulit dikendalikan. Petugas pemadam kebakaran harus bekerja ekstra untuk menjinakkan api di tengah akses jalan yang sempit dan kepadatan warga di lokasi.
Syarifudin mengungkapkan, proses pemadaman sempat mengalami sejumlah kendala. Selain akses menuju titik kebakaran yang terbatas, banyak warga berusaha menyelamatkan barang-barang berharga mereka, sementara sebagian lainnya memadati area kejadian.
“Hambatan saat pemadaman karena akses rumah sempit, banyak penghuni berhamburan menyelamatkan harta bendanya, dan cukup banyak warga yang menonton,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat Agus Apriyanto mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan terhadap warga terdampak untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran.
Menurut Agus, pendataan diperlukan sebagai dasar penyaluran bantuan darurat maupun bantuan lanjutan bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran tersebut.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk di Jakarta. Selain persoalan instalasi listrik yang kerap menjadi pemicu kebakaran, keterbatasan akses keselamatan dan jalur evakuasi juga menjadi tantangan dalam upaya penanganan keadaan darurat di kawasan padat penduduk.(GK)