DMNETWORK.COM — Kehadiran para bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 di Kabupaten Magelang kembali menarik perhatian masyarakat. Dalam perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur, rombongan bhikkhu tersebut singgah di Kelenteng Hok An Kiong yang berada di kawasan Pecinan Muntilan.
Persinggahan tersebut bukan hanya menjadi bagian dari perjalanan spiritual lintas agama dan budaya, tetapi juga menghidupkan kembali perhatian publik terhadap sejarah panjang Kelenteng Hok An Kiong Muntilan sebagai salah satu pusat budaya Tionghoa tertua di wilayah Magelang.
Kelenteng yang berdiri megah di Jalan Pemuda No.100 Muntilan itu selama ini dikenal bukan hanya sebagai tempat ibadah Tri Dharma, melainkan juga simbol toleransi dan harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Kelenteng Hok An Kiong Muntilan Simpan Sejarah Panjang
Kelenteng Hok An Kiong Muntilan diketahui pertama kali dibangun pada tahun 1878. Pada masa awal berdirinya, bangunan kelenteng masih sangat sederhana dengan material utama berupa bambu.
Saat itu, kawasan Muntilan berkembang sebagai salah satu jalur perdagangan penting di wilayah Kedu. Aktivitas ekonomi yang semakin ramai mendorong tumbuhnya komunitas Tionghoa di kawasan Pecinan Muntilan.
Keberadaan komunitas tersebut kemudian melahirkan kebutuhan akan tempat ibadah dan pusat aktivitas sosial masyarakat Tionghoa setempat.
Seiring berkembangnya perdagangan dan jumlah warga, bangunan kelenteng dipindahkan ke lokasi yang sekarang pada tahun 1906. Struktur bangunan mulai diperkuat menggunakan tembok dan rangka kayu agar lebih kokoh.
Renovasi Besar Bentuk Arsitektur Khas Tionghoa
Perjalanan waktu membuat Kelenteng Hok An Kiong Muntilan terus mengalami penyempurnaan. Renovasi besar dilakukan pada tahun 1929 dan menghasilkan bentuk arsitektur khas Tionghoa yang masih bertahan hingga sekarang.
Ciri khas bangunan terlihat dari dominasi warna merah, ornamen naga, ukiran artistik, serta altar pemujaan yang memiliki nilai budaya tinggi.
Keindahan arsitektur tersebut menjadikan kelenteng ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga salah satu destinasi wisata budaya dan religi di Kabupaten Magelang.
Banyak wisatawan maupun peziarah datang untuk melihat langsung bangunan bersejarah yang masih terjaga keasliannya tersebut.
Makna Filosofis Nama Hok An Kiong
Nama Kelenteng Hok An Kiong Muntilan juga memiliki filosofi mendalam. Kata “Hok” berarti rezeki atau keberuntungan, “An” berarti keselamatan, sedangkan “Kiong” bermakna istana atau tempat suci.
Secara keseluruhan, nama tersebut dapat dimaknai sebagai tempat yang membawa keselamatan, kesejahteraan, dan keberuntungan bagi masyarakat. Nilai filosofis itu hingga kini masih dipegang kuat oleh komunitas Tri Dharma maupun masyarakat sekitar yang hidup berdampingan secara harmonis.
Hio Lo Raksasa Jadi Daya Tarik Utama
Salah satu daya tarik paling terkenal dari Kelenteng Hok An Kiong Muntilan adalah keberadaan Hio Lo atau wadah dupa raksasa. Wadah dupa berbahan perunggu dan kuningan tersebut memiliki berat sekitar 3,8 ton dengan diameter mencapai 178 sentimeter.
Ukuran besar dan bentuk artistiknya membuat Hio Lo di kelenteng ini disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Benda bersejarah tersebut menjadi ikon penting sekaligus simbol spiritual yang menarik perhatian banyak pengunjung.
Selain digunakan dalam aktivitas peribadatan, Hio Lo juga kerap menjadi objek fotografi wisatawan yang datang ke kawasan Pecinan Muntilan.
Persinggahan Bhikkhu IWFP 2026 Perkuat Simbol Toleransi
Kehadiran para bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace 2026 di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan dinilai memperkuat pesan toleransi dan keberagaman di Kabupaten Magelang.
Indonesia Walk for Peace sendiri merupakan perjalanan spiritual yang diikuti para bhikkhu menuju Candi Borobudur sebagai bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan dan perdamaian.
Persinggahan di kelenteng tua tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan lintas agama dan budaya dapat berjalan harmonis di tengah masyarakat Indonesia.
Masyarakat sekitar pun menyambut hangat kedatangan para bhikkhu yang beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Borobudur.
Muntilan Dikenal sebagai Kota Toleransi
Muntilan selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan sejarah panjang keberagaman budaya dan agama di Jawa Tengah. Di wilayah tersebut berdiri berdampingan masjid, gereja, vihara, hingga kelenteng yang menjadi simbol kehidupan masyarakat multikultural.
Keberadaan Kelenteng Hok An Kiong Muntilan menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah sosial dan budaya kawasan tersebut. Tidak hanya bagi komunitas Tionghoa, kelenteng ini juga menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperlihatkan kuatnya semangat toleransi di tengah masyarakat.
Destinasi Wisata Budaya yang Terus Dijaga
Selain menjadi tempat ibadah, Kelenteng Hok An Kiong Muntilan kini berkembang sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang cukup dikenal di Magelang.
Arsitektur klasik, nilai sejarah, hingga suasana Pecinan Muntilan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Masyarakat berharap bangunan bersejarah tersebut terus dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi generasi mendatang.
Persinggahan para bhikkhu IWFP 2026 di lokasi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa toleransi, keberagaman, dan harmoni sosial tetap menjadi kekuatan utama masyarakat Indonesia hingga saat ini.(*)