Memanas! Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Kuwait, Ketegangan Timur Tengah Kian Genting

5 Min Read
Ilustrasi ketegangan Iran dan Amerika Serikat setelah Iran klaim serang pangkalan AS di Kuwait (gh/Dmnetwork)

DMNETWORK.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran klaim serang pangkalan AS di Kuwait sebagai respons atas serangan udara yang disebut dilakukan Amerika Serikat di sekitar Bandara Bandar Abbas, Iran selatan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan operasi balasan tersebut dilakukan beberapa jam setelah serangan yang diklaim menyasar wilayah strategis di kota pelabuhan Bandar Abbas.

Mengutip laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, serangan balasan terjadi sekitar pukul 04.50 waktu setempat atau sekitar 08.20 WIB. IRGC menyebut operasi itu sebagai peringatan keras kepada pihak lawan agar tidak kembali melakukan agresi militer terhadap wilayah Iran.

“Tanggapan ini adalah peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan begitu saja, dan jika diulangi, respons kami akan lebih tegas,” demikian pernyataan IRGC seperti dikutip Tasnim, Kamis, 27 Mei 2026.

- Iklan -
Ad imageAd image

Hingga kini pihak militer Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim serangan tersebut.

Di tengah meningkatnya tensi kawasan, seorang pejabat Amerika Serikat sebelumnya mengatakan pasukan AS berhasil menembak jatuh empat drone Iran di sekitar Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan kepada Anadolu dengan syarat anonim karena berkaitan dengan operasi militer yang masih berlangsung. Menurut pejabat tersebut, drone Iran dianggap mengancam keamanan pasukan Amerika di kawasan strategis jalur pelayaran internasional tersebut.

Dalam operasi yang sama, AS juga disebut menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang diduga tengah mempersiapkan peluncuran drone kelima.

Pejabat itu menegaskan langkah militer yang dilakukan Washington bersifat defensif dan bertujuan menjaga stabilitas gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati.

- Iklan -
Ad image

“Tindakan-tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata,” ujarnya. Bandar Abbas dan Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dalam konflik Iran AS yang terus memanas dalam beberapa bulan terakhir.

Bandar Abbas merupakan kota pelabuhan penting di Iran selatan yang memiliki peran strategis dalam aktivitas militer dan perdagangan negara tersebut.

Sementara Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Ketegangan di wilayah ini dapat memengaruhi stabilitas energi global karena sebagian besar distribusi minyak Timur Tengah melintasi perairan tersebut.

Situasi keamanan di Selat Hormuz juga menjadi perhatian negara-negara besar dunia karena dampaknya terhadap ekonomi internasional. Ketegangan terbaru ini juga berkaitan dengan operasi militer sebelumnya yang dilakukan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM.

Pada awal pekan, CENTCOM mengonfirmasi adanya serangan di Iran selatan yang menyasar lokasi peluncuran rudal serta kapal-kapal Iran yang diduga tengah berupaya memasang ranjau di kawasan strategis.

Pemerintah Iran mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata. Pernyataan keras dari Teheran semakin memperlihatkan hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali berada dalam fase penuh tekanan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menyampaikan ketidakpuasannya terhadap proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Trump menilai pembicaraan yang berlangsung belum menunjukkan hasil konkret untuk meredakan konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik Iran AS sendiri bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas Teheran melalui rentetan drone dan rudal yang menghantam sejumlah target di kawasan.

Konflik semakin meluas setelah Iran menutup Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas perdagangan energi dunia. Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan.

Namun perundingan lanjutan di Islamabad dilaporkan belum menghasilkan kesepakatan permanen antara kedua pihak. Dalam perkembangan terbaru, Trump memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu.

Meski demikian, pemerintah AS tetap memberlakukan pembatasan terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut menunjukkan situasi keamanan kawasan masih sangat rapuh dan berpotensi kembali memicu konfrontasi militer sewaktu-waktu.

Iran klaim serang pangkalan AS di Kuwait kini menjadi sorotan dunia internasional karena berpotensi memperbesar eskalasi konflik di Timur Tengah yang selama ini menjadi kawasan paling sensitif dalam peta geopolitik global.(*)

Share This Article