DMNETWORK.COM – Pemerintah terus memperkuat sistem pengamanan dan perlindungan jamaah haji Indonesia menjelang puncak ibadah di Mina, Arab Saudi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiagakan tim khusus Mobile Crisis Rescue atau MCR di kawasan Jamarat untuk mengantisipasi situasi darurat saat prosesi lontar jumrah berlangsung.
Tim Mobile Crisis Rescue disebar di sejumlah titik strategis di kawasan Mina guna memberikan respons cepat terhadap berbagai kondisi yang berpotensi membahayakan keselamatan jamaah.
Keberadaan tim ini menjadi bagian penting dari strategi pengamanan pemerintah di tengah tingginya mobilitas jamaah selama fase lontar jumrah yang dikenal sebagai salah satu momen paling krusial dalam pelaksanaan ibadah haji.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, menjelaskan bahwa Mobile Crisis Rescue merupakan tim respons cepat yang bertugas menangani kondisi darurat di lapangan.
Menurutnya, tim tersebut memiliki sejumlah fungsi utama, mulai dari memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, hingga membantu mengurai kepadatan jamaah di area rawan penumpukan massa.
“Tim ini disiagakan langsung di kawasan Jamarat dan jalur perlintasan jamaah. Mereka akan merespons cepat setiap kondisi darurat yang terjadi di lapangan,” ujar Maria Assegaff dalam keterangannya, Jumat, 29 Mei 2026.
Posko Mobile Crisis Rescue ditempatkan di berbagai lokasi strategis, baik di area utama Jamarat maupun di jalur pergerakan jamaah dari tenda menuju lokasi lontar jumrah.
Penempatan petugas di sejumlah titik tersebut bertujuan agar proses pemantauan situasi dapat dilakukan secara real-time sehingga jamaah yang membutuhkan bantuan bisa segera ditangani.
Selain fokus pada penanganan darurat, keberadaan MCR juga menjadi bagian dari upaya menciptakan penyelenggaraan ibadah haji yang lebih aman, tertib, dan ramah bagi seluruh jamaah Indonesia.
Layanan ini dirancang untuk memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti jamaah lanjut usia, penyandang disabilitas, hingga jamaah perempuan yang memerlukan pendampingan lebih intensif.
Maria menegaskan bahwa perlindungan jamaah menjadi prioritas utama pemerintah selama pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci.
Karena itu, petugas tidak hanya berjaga di sekitar tenda jamaah, tetapi juga ditempatkan di jalur pergerakan utama, pos pemantauan, hingga lokasi yang berpotensi mengalami kepadatan tinggi.
“Setiap jamaah yang membutuhkan bantuan harus bisa ditangani dengan cepat. Petugas kami siaga di berbagai titik untuk memastikan keselamatan jamaah,” tegasnya.
Memasuki 11 Dzulhijjah 1447 Hijriah, jamaah haji Indonesia mulai melaksanakan rangkaian lontar tiga jamarah, yaitu Jamarah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Prosesi lontar jumrah menjadi salah satu tahapan ibadah yang memerlukan pengaturan ketat karena melibatkan jutaan jamaah dari berbagai negara yang bergerak menuju kawasan Jamarat dalam waktu bersamaan.
Tingginya mobilitas jamaah di area tersebut membuat pemerintah Indonesia bersama otoritas Arab Saudi terus memperkuat sistem pengamanan dan layanan kesehatan.
Kementerian Haji dan Umrah juga mengimbau jamaah Indonesia untuk disiplin mengikuti jadwal lontar jumrah sesuai pembagian kloter masing-masing. Jamaah diminta tidak berangkat sendirian dan tetap bergerak bersama rombongan agar lebih mudah dipantau petugas selama perjalanan menuju lokasi lontar.
Selain itu, jamaah juga diingatkan untuk menghindari waktu-waktu larangan lontar yang biasanya bertepatan dengan suhu ekstrem dan potensi kepadatan tinggi. Pada periode tersebut, jamaah disarankan tetap berada di tenda untuk menjaga kondisi fisik serta mengurangi risiko kelelahan akibat cuaca panas.
Petugas juga mengingatkan pentingnya menjaga asupan cairan tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih selama berada di kawasan Mina. Cuaca ekstrem di Arab Saudi saat musim haji dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama bagi jamaah lanjut usia dan mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Untuk memperkuat sistem pengamanan di Mina, pemerintah turut menyiagakan sebanyak 1.356 petugas Satgas Mina di berbagai titik layanan. Petugas Satgas Mina disebar di jalur pergerakan jamaah, pos pemantauan, pusat koordinasi layanan darurat, hingga titik-titik strategis yang rawan terjadi penumpukan massa.
Keberadaan petugas gabungan tersebut diharapkan mampu meminimalkan risiko kecelakaan dan memastikan jamaah dapat menjalankan ibadah dengan aman serta nyaman.
Pemerintah Indonesia juga terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi terkait pengaturan arus jamaah dan sistem pengamanan di kawasan Jamarat.
Langkah antisipasi ini dilakukan sebagai bentuk pembelajaran dari berbagai insiden kepadatan jamaah yang pernah terjadi pada pelaksanaan ibadah haji di tahun-tahun sebelumnya.
Selain pengamanan fisik, layanan informasi kepada jamaah juga diperkuat agar setiap peserta haji memahami jalur pergerakan, jadwal lontar, serta prosedur keselamatan selama berada di Mina.
Pemerintah berharap seluruh jamaah Indonesia dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar tanpa kendala berarti.
Dengan dukungan Mobile Crisis Rescue dan ribuan petugas Satgas Mina, pelaksanaan puncak ibadah haji di kawasan Jamarat diharapkan berlangsung lebih tertib, aman, dan terkendali.(*)