Mengharukan! 58 Biksu Asia Tenggara Jalan Kaki ke Borobudur, Solo Jadi Persinggahan Waisak

6 Min Read
58 Biksu melakukan Perjalanan spiritual lintas negara itu membawa pesan perdamaian, persaudaraan, serta refleksi kehidupan damai di tengah masyarakat modern. (gh/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – Sebanyak 58 biksu Asia Tenggara yang melakukan perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dijadwalkan tiba di Kota Solo pada Sabtu (23/5/2026) sore. Rombongan biksu tersebut menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Waisak 2026.

Perjalanan spiritual lintas negara itu membawa pesan perdamaian, persaudaraan, serta refleksi kehidupan damai di tengah masyarakat modern. Kehadiran para biksu di Solo pun dipastikan menjadi perhatian masyarakat karena menghadirkan nuansa religius sekaligus budaya yang kuat di Kota Bengawan.

Rombongan biksu Asia Tenggara tersebut sebelumnya melanjutkan perjalanan dari wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Setelah singgah di Solo, mereka akan meneruskan perjalanan menuju kawasan Candi Borobudur yang menjadi pusat perayaan Tri Suci Waisak nasional.

Juru Bicara Panitia Waisak Kota Solo, Pandita Mettasiri Sutrisno, mengatakan para biksu dijadwalkan tiba di Vihara Dhamma Sundara, Pucangsawit, Kecamatan Jebres, sekitar pukul 15.00 WIB.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Saat ini rombongan masih berada di wilayah Ngawi dan sedang menuju Solo,” ujar Sutrisno.

Perjalanan Spiritual Waisak Sarat Makna Perdamaian

Perjalanan para biksu Asia Tenggara menuju Borobudur bukan sekadar agenda seremonial keagamaan. Prosesi berjalan kaki tersebut menjadi simbol pengendalian diri, kesederhanaan hidup, dan penyebaran pesan perdamaian antarumat manusia.

Dalam tradisi Buddha, perjalanan spiritual seperti ini memiliki makna mendalam karena dilakukan dengan penuh disiplin dan ketulusan. Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap Hari Raya Waisak, perjalanan itu juga mencerminkan nilai-nilai universal tentang kedamaian dan kemanusiaan.

Tidak sedikit masyarakat yang menyambut positif perjalanan para biksu karena dianggap membawa energi spiritual sekaligus memperkuat toleransi antarumat beragama di Indonesia.

- Iklan -
Ad image

Kehadiran mereka di Solo bahkan disebut menjadi momen istimewa lantaran baru pertama kali rombongan pejalan kaki Waisak melintasi Kota Bengawan sebelum menuju Magelang.

Disambut Prosesi Membasuh Kaki di Vihara

Setibanya di Vihara Dhamma Sundara, para biksu akan menjalani prosesi penyambutan berupa membasuh kaki. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan kepada para pejalan spiritual yang telah menempuh perjalanan panjang.

Setelah prosesi membasuh kaki, para biksu dijadwalkan mengikuti puja atau doa singkat sebelum beristirahat sejenak di vihara.

Agenda selanjutnya adalah kunjungan menuju Pura Mangkunegaran pada pukul 16.15 WIB. Di lokasi tersebut, para biksu dijadwalkan bertemu dengan KGPAA Mangkunegara X sebagai bagian dari rangkaian penghormatan budaya dan spiritual.

Pertemuan itu dinilai memperlihatkan harmonisasi antara budaya Jawa dan tradisi keagamaan Buddha yang telah lama berkembang di Indonesia.

Selain menjadi pusat budaya, Mangkunegaran juga dikenal aktif mendukung berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan lintas agama di Solo.

Ikuti Kirab Waisak Bersama Wali Kota Solo

Setelah dari Mangkunegaran, rombongan biksu akan melanjutkan perjalanan menuju Loji Gandrung di Jalan Slamet Riyadi sekitar pukul 17.45 WIB.

Dari lokasi tersebut, para biksu bersama Wali Kota Solo Respati Ardi akan mengikuti kirab Waisak menuju Balai Kota Solo.

Kirab diperkirakan dimulai pukul 18.00 WIB dan melibatkan masyarakat serta umat Buddha dari berbagai daerah. Prosesi tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian perayaan Waisak di Solo tahun ini.

Suasana kirab diperkirakan berlangsung khidmat sekaligus meriah karena masyarakat dapat menyaksikan langsung perjalanan para biksu yang membawa misi perdamaian.

Kegiatan itu juga menjadi bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.

Ritual Sakral Memandikan Rupang Buddha

Sesampainya di Balai Kota Solo, para biksu akan mengikuti ritual sakral memandikan rupang Bodhisattva Siddharta Gautama.

Tradisi tersebut merupakan simbol penyucian batin sekaligus penghormatan terhadap kelahiran Sang Buddha. Dalam ajaran Buddha, ritual itu mengandung pesan agar manusia membersihkan diri dari sifat buruk dan memperbanyak kebajikan.

Acara sakral tersebut diperkirakan berlangsung hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Setelah seluruh rangkaian selesai, para biksu akan kembali ke Vihara Dhamma Sundara untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Magelang.

Masyarakat Solo diperkirakan turut memadati sejumlah titik kegiatan karena prosesi Waisak selalu menjadi agenda budaya dan spiritual yang menarik perhatian publik.

Pindapata dan Pelepasan Menuju Magelang

Pada Minggu pagi (24/5/2026), para biksu kembali menjalani agenda keagamaan berupa Sadhana bersama umat Buddha.

Dalam kegiatan tersebut, umat Buddha mempersembahkan dana kepada para biksu sebagai bentuk penghormatan dan praktik kebajikan.

Selanjutnya, prosesi Pindapata akan dimulai pukul 08.00 WIB dari Vihara Dhamma Sundara menuju Balai Kota Solo.

Pindapata merupakan tradisi para biksu menerima makanan dari masyarakat secara langsung. Prosesi itu menjadi simbol hubungan spiritual antara umat dan para biksu.

Setelah kegiatan selesai, Wali Kota Solo Respati Ardi dijadwalkan melepas keberangkatan rombongan menuju Kabupaten Magelang.

Rute perjalanan akan melewati Jalan Slamet Riyadi menuju Purwosari, kemudian Kartasura hingga Klaten. Di Klaten, rombongan dijadwalkan beristirahat di Vihara Bodhivamsa sebelum melanjutkan perjalanan menuju Borobudur.

Pertama Kali Lewat Solo, Bukan Jalur Pantura

Pandita Mettasiri Sutrisno mengungkapkan perjalanan spiritual para biksu melalui Solo merupakan yang pertama kali dilakukan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, perjalanan menuju Borobudur biasanya melewati jalur Pantura. Pemilihan rute melalui Solo disebut memberikan pengalaman baru sekaligus memperluas syiar perdamaian kepada masyarakat.

Menurut Sutrisno, antusiasme masyarakat Solo terhadap kedatangan para biksu juga cukup tinggi. Banyak warga disebut ingin menyaksikan langsung perjalanan spiritual yang sarat nilai kemanusiaan tersebut.

Perjalanan panjang 58 biksu Asia Tenggara menuju Borobudur akhirnya bukan hanya menjadi simbol ibadah keagamaan, tetapi juga pesan moral tentang kesederhanaan, toleransi, dan pentingnya menjaga perdamaian di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks.(*)

Share This Article