Catatan Redaksi: Ketika Mas Dar Tertunduk di Hadapan Anak-anak Korban MBG

6 Min Read
Sudaryono Tegaskan SPPG Tak Boleh Lalai, Sanksi Berat Menanti Usai Kasus Keracunan MBG (Instagram/sudaru_sudaryono)

DMNETWORK.COM – Ada kalanya sebuah peristiwa tidak membutuhkan banyak kata untuk menjelaskan beratnya sebuah persoalan. Cukup dengan seseorang tertunduk, terdiam beberapa saat, lalu mengusap air mata yang jatuh tanpa banyak suara.

Momen itu terlihat ketika Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menjenguk anak-anak yang dirawat setelah mengalami gangguan kesehatan dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Minggu, 16 Agustus 2026, sehari sebelum bangsa ini memperingati 81 tahun kemerdekaan. Di sebuah ruang perawatan, suasananya tentu jauh dari gemuruh perayaan kemerdekaan. Tidak ada panggung. Tidak ada pidato. Tidak ada tepuk tangan.

Yang ada ialah anak-anak yang terbaring sakit dan orangtua yang menyimpan kecemasan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Di hadapan mereka, Sudaryono tertunduk.

Beberapa kali ia mengusap air matanya.

Gambar itu menyampaikan sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan melalui konferensi pers dan deretan angka. Ada empati yang muncul ketika seorang pejabat berdiri berhadapan langsung dengan warga yang terdampak sebuah program negara.

Sudaryono datang bukan untuk merayakan keberhasilan program. Ia datang ketika program yang berada dalam tanggung jawab lembaganya justru sedang menghadapi persoalan.

Di situlah empati seorang pejabat diuji.

- Iklan -
Ad image

Bukan Sekadar Angka

Dalam laporan resmi, korban dapat dihitung: berapa orang yang mengalami gangguan kesehatan, berapa yang dibawa ke rumah sakit, berapa yang masih menjalani perawatan.

Tetapi bagi seorang ibu atau ayah, anak yang terbaring di rumah sakit bukanlah angka.

Ia adalah anak yang setiap pagi dibangunkan untuk sekolah. Anak yang seharusnya pulang membawa cerita tentang pelajaran, teman-teman dan cita-cita. Bukan pulang dengan tubuh lemah lalu harus dirawat di rumah sakit.

Karena itu, kedatangan Sudaryono menjadi penting untuk dilihat bukan hanya sebagai agenda seorang pejabat negara.

Ia datang menemui manusia.

Ia mendengar keluhan orangtua. Ia melihat langsung kondisi anak-anak. Dan ketika emosinya tidak lagi sepenuhnya bisa ditahan, air mata menjadi bahasa yang lebih jujur daripada kalimat-kalimat birokratis.

Mas Dar tertunduk.

Barangkali pada saat itu yang ada di kepalanya bukan hanya pertanyaan tentang siapa yang salah. Tetapi juga pertanyaan yang lebih sederhana sekaligus lebih berat: bagaimana mungkin makanan yang disiapkan untuk menyehatkan anak-anak justru membuat mereka harus dirawat?

Pertanyaan itulah yang semestinya menjadi pusat perhatian.

MBG Bukan Sekadar Program

Makan Bergizi Gratis adalah program besar. Skalanya besar, anggarannya besar, penerimanya jutaan.

Namun semakin besar sebuah program, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.

Satu kesalahan kecil dalam rantai penyediaan makanan dapat berubah menjadi persoalan besar ketika makanan tersebut dikonsumsi oleh banyak anak sekaligus.

Dalam investigasi awal kasus Karo, BGN menemukan sekitar 200 hingga 300 ekor ikan tidak disimpan di dalam freezer dan dibiarkan pada suhu ruang selama sekitar 12 jam atau lebih.

Temuan tersebut tentu harus diselidiki secara serius. Tetapi ia belum boleh diperlakukan sebagai kesimpulan akhir mengenai penyebab gangguan kesehatan para siswa.

Pemeriksaan medis, pemeriksaan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi dan seluruh rantai produksi harus diperiksa secara menyeluruh.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya reputasi sebuah dapur MBG.

Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Empati Harus Berujung Tanggung Jawab

Air mata seorang pejabat tentu bukan ukuran keberhasilan sebuah kebijakan.

Empati tidak cukup berhenti pada rasa iba.

Justru setelah seseorang tertunduk dan mengusap air mata, pekerjaan menjadi lebih berat.

Harus ada keberanian mencari penyebab.

Harus ada evaluasi.

Harus ada perbaikan.

Dan bila ditemukan kelalaian, harus ada pertanggungjawaban.

Di sinilah sikap Sudaryono perlu dibaca secara utuh. Kunjungannya kepada korban menunjukkan bahwa persoalan MBG bukan sekadar persoalan administrasi atau target distribusi makanan. Di balik setiap kotak makanan terdapat anak-anak dan keluarga yang mempercayakan sebagian kebutuhan mereka kepada negara.

Kepercayaan itu mahal.

Jangan sampai ia rusak hanya karena prosedur yang diabaikan.

Sehari Menjelang Kemerdekaan

Ada ironi kecil pada peristiwa itu.

Sehari menjelang peringatan kemerdekaan, ketika hampir seluruh negeri bersiap mengibarkan Merah Putih, seorang pejabat negara justru berdiri di samping tempat tidur anak-anak yang sakit.

Kemerdekaan semestinya memang bukan hanya tentang upacara dan bendera.

Kemerdekaan juga tentang kemampuan negara memastikan rakyatnya aman.

Tentang anak-anak yang bisa makan tanpa rasa takut.

Tentang orangtua yang tidak perlu cemas ketika anaknya menerima makanan dari program pemerintah.

Dan tentang pejabat yang tidak alergi terhadap kenyataan ketika kenyataan itu tidak sesuai dengan laporan di atas kertas.

Maka, biarlah gambar Sudaryono yang tertunduk dan mengusap air mata itu menjadi catatan kecil dalam perjalanan besar MBG.

Bukan untuk membangun citra.

Bukan pula untuk menghapus kesalahan yang mungkin terjadi.

Melainkan sebagai pengingat bahwa di balik kebijakan negara selalu ada manusia.

Jika empati Mas Dar hari itu benar-benar lahir dari perjumpaan langsung dengan penderitaan anak-anak, maka empati itu harus diterjemahkan menjadi kerja yang lebih keras: memastikan makanan aman, memperbaiki pengawasan, menutup celah kelalaian dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Sebab anak-anak yang terbaring di rumah sakit tidak membutuhkan pejabat yang hanya merasa sedih.

Mereka membutuhkan negara yang belajar dari kesalahan.

Dan barangkali, di situlah makna paling sunyi dari kemerdekaan: negara hadir bukan hanya ketika rakyat berdiri tegak di depan tiang bendera, tetapi juga ketika rakyat sedang terbaring lemah dan membutuhkan pertolongan.(*)

Share This Article
error: Content is protected !!