Tani Merdeka Desak Percepatan Peternakan Rakyat, Swasembada Susu Nasional Belum Tercapai

7 Min Read
Don Muzakir _ Swasembada Susu Nasional melalui penguatan peternakan sapi perah rakyat Indonesia (gh/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – Swasembada Susu Nasional kembali menjadi sorotan pada peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) ke-18 yang jatuh pada 1 Juni 2026. Momentum tahunan yang lahir sejak 2008 itu sejatinya menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa ketahanan pangan nasional tidak hanya berbicara soal beras, jagung, atau daging, tetapi juga menyangkut ketersediaan susu sebagai sumber gizi masyarakat.

Setelah hampir dua dekade Hari Susu Nusantara diperingati, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan susu dari produksi dalam negeri. Hingga saat ini, produksi susu segar nasional baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan pasar domestik. Sisanya masih bergantung pada impor bahan baku maupun produk susu dari luar negeri.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa agenda Swasembada Susu Nasional masih memerlukan langkah percepatan yang lebih terukur dan berkelanjutan.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional Tani Merdeka Indonesia (TMI), Don Muzakir, menilai perkembangan sektor peternakan sapi perah rakyat belum menunjukkan lompatan signifikan sejak Hari Susu Nusantara pertama kali ditetapkan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Menurutnya, populasi sapi perah nasional hingga kini masih berkisar 600 ribu ekor. Sementara itu, mayoritas peternak rakyat hanya memiliki dua hingga empat ekor sapi perah, sehingga kapasitas produksi susu nasional sulit berkembang secara cepat.

“Tujuan awal Hari Susu Nusantara adalah mendorong pertumbuhan peternakan sapi perah rakyat dan meningkatkan konsumsi susu nasional. Namun hingga saat ini kontribusi produksi susu segar domestik masih sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional,” ujarnya.

Don menegaskan bahwa pemerintah perlu menempatkan peternakan sapi perah rakyat sebagai salah satu sektor prioritas dalam program ketahanan pangan nasional.

Selama ini perhatian terhadap subsektor peternakan sapi perah dinilai belum sebanding dengan potensi ekonomi yang dimilikinya. Padahal sektor tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan sekaligus membuka peluang kerja yang luas bagi masyarakat.

Menurut TMI, pengembangan peternakan sapi perah tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi susu, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan sektor pendukung seperti pakan ternak, jasa kesehatan hewan, industri pengolahan susu, hingga distribusi produk pangan.

- Iklan -
Ad image

Karena itu, organisasi tersebut mengusulkan agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap program Swasembada Susu Nasional melalui kebijakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Salah satu usulan utama yang disampaikan TMI adalah penerbitan regulasi khusus yang menjadi dasar percepatan pembangunan peternakan sapi perah rakyat. Menurut Don, pemerintah dapat menerbitkan Instruksi Presiden atau kebijakan setingkat yang secara khusus mengatur arah pengembangan industri susu nasional.

Regulasi tersebut dinilai penting untuk memberikan kepastian arah pembangunan, memperkuat koordinasi antarinstansi, serta mempercepat investasi di sektor peternakan sapi perah.

Dengan adanya payung hukum yang jelas, berbagai program pengembangan peternakan rakyat dapat dijalankan secara lebih efektif dan berkelanjutan.

TMI meyakini bahwa kebijakan afirmatif dari pemerintah akan menjadi faktor penting dalam mewujudkan target Swasembada Susu Nasional dalam jangka panjang.

Selain persoalan produksi, TMI juga menyoroti masih rendahnya nilai tambah yang diterima peternak sapi perah rakyat.

Selama ini sebagian besar susu segar hasil produksi peternak hanya dijual sebagai bahan baku untuk Industri Pengolahan Susu (IPS). Kondisi tersebut membuat peternak hanya memperoleh keuntungan terbatas dibandingkan nilai ekonomi produk olahan yang dihasilkan.

Padahal, berbagai produk turunan seperti susu pasteurisasi, yoghurt, keju, mentega, maupun produk nutrisi lainnya memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.

Menurut Don, sudah saatnya pemerintah menghadirkan kebijakan yang memberikan kesempatan lebih besar kepada peternak untuk ikut menikmati keuntungan dari rantai nilai industri susu.

Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus menarik minat generasi muda terjun ke sektor peternakan sapi perah. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi pada peternakan sapi perah skala besar terus berkembang di berbagai daerah.

Meski demikian, TMI mengingatkan agar pertumbuhan investasi tersebut tetap melibatkan peternak rakyat melalui pola kemitraan yang adil dan berkelanjutan.
Don mengusulkan sedikitnya 20 persen populasi sapi perah pada peternakan besar dikembangkan melalui sistem plasma bersama peternak rakyat.

Skema tersebut diyakini mampu mempercepat transfer teknologi, meningkatkan produktivitas peternak kecil, serta memperkuat pemerataan manfaat ekonomi dari investasi yang masuk.

Kemitraan yang sehat juga akan membantu mempercepat pencapaian target Swasembada Susu Nasional tanpa mengesampingkan peran peternak tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung produksi susu domestik.

TMI juga melihat peluang besar sektor susu dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Menurut organisasi tersebut, hilirisasi usaha peternakan sapi perah rakyat perlu didorong agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok kebutuhan gizi nasional.

Dengan demikian, peternak tidak hanya berperan sebagai pemasok susu mentah, tetapi juga menjadi produsen berbagai produk olahan yang dapat disalurkan ke sekolah, pesantren, maupun kelompok masyarakat penerima manfaat program MBG.

Jika dikelola secara tepat, langkah ini tidak hanya meningkatkan konsumsi susu nasional tetapi juga memperkuat ekonomi peternak di daerah. Tantangan lain yang dihadapi peternak adalah tingginya harga sapi perah impor yang menjadi sumber utama peningkatan populasi ternak produktif.

Menurut Don, banyak peternak kesulitan menambah jumlah ternak karena keterbatasan modal dan mahalnya harga sapi perah berkualitas. Karena itu, TMI mengusulkan agar pemerintah memberikan subsidi atau skema pembiayaan khusus untuk pembelian sapi perah impor bagi peternak rakyat.

Kebijakan tersebut dinilai dapat mempercepat peningkatan populasi sapi perah nasional sekaligus memperkuat fondasi produksi susu domestik.

Pada usia ke-18 Hari Susu Nusantara, tantangan menuju Swasembada Susu Nasional memang masih besar. Namun dengan keberpihakan kebijakan, penguatan peternakan rakyat, kemitraan yang sehat, serta dukungan investasi yang tepat sasaran, Indonesia memiliki peluang untuk mengurangi ketergantungan impor dan membangun industri persusuan yang lebih mandiri serta berkelanjutan.(*)

Share This Article