Tiga Kali Berganti Kepengurusan, TMI Wonogiri Hadapi Tantangan Geografis dan Karakter Sosial Masyarakat Tani

4 Min Read
Ketua DPD TMI wanagiri dan ketua DPW TMI Jateng

WONOGIRI, DMNETWORK — Pelantikan dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Wonogiri bukan hanya menjadi agenda pengukuhan kepengurusan baru, tetapi juga momentum evaluasi terhadap perjalanan organisasi yang selama ini menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Kabupaten Wonogiri tercatat menjadi salah satu daerah yang mengalami dinamika cukup tinggi dalam pembentukan struktur organisasi Tani Merdeka Indonesia. Hingga saat ini, kepengurusan DPD TMI Wonogiri telah mengalami tiga kali pergantian kepemimpinan sejak organisasi tersebut mulai dibentuk di daerah itu.

Pergantian kepengurusan tersebut tidak terlepas dari sejumlah kendala yang dihadapi dalam proses konsolidasi organisasi. Selain luas wilayah yang mencapai 25 kecamatan dan 294 desa, karakter geografis Wonogiri juga menjadi tantangan tersendiri.

- Iklan -
Ad imageAd image

Sebagian besar wilayah Wonogiri berada di kawasan perbukitan dan pegunungan kapur yang membuat jarak antarwilayah relatif berjauhan. Mobilitas pengurus untuk melakukan konsolidasi hingga tingkat desa membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit dibandingkan daerah-daerah lain yang memiliki akses lebih mudah.

Kondisi tersebut berdampak pada proses pembentukan struktur organisasi hingga tingkat kecamatan dan desa yang berjalan lebih lambat dibandingkan target yang diharapkan.

Namun tantangan terbesar sesungguhnya bukan hanya soal geografis.

Karakter masyarakat tani Wonogiri memiliki corak yang berbeda dibandingkan sebagian wilayah lain di Jawa Tengah. Petani Wonogiri dikenal lebih mandiri, tidak mudah terpengaruh, dan cenderung menilai sebuah organisasi berdasarkan manfaat nyata yang dirasakan secara langsung.

Bagi sebagian masyarakat desa, kehadiran organisasi belum tentu menjadi kebutuhan utama apabila belum mampu menjawab persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Karena itu, membangun kepercayaan petani di Wonogiri membutuhkan proses yang lebih panjang dibandingkan sekadar membentuk kepengurusan di atas kertas.

- Iklan -
Ad image

Kondisi tersebut diakui menjadi salah satu penyebab mengapa konsolidasi organisasi memerlukan pendekatan yang berbeda. Pengurus tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan seremonial, melainkan harus hadir langsung di tengah petani, mendengarkan persoalan mereka, dan membangun hubungan yang berkelanjutan.

Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir dalam arahannya mengingatkan bahwa tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bergerak.

Menurutnya, kepengurusan baru harus menjadikan pengalaman pergantian pengurus sebelumnya sebagai bahan pembelajaran untuk membangun organisasi yang lebih kuat dan berumur panjang.

“Wonogiri memiliki karakter yang khas. Karena itu jangan terburu-buru. Bangun organisasi dengan sabar, perkuat kecamatan, perkuat desa, dan hadir di tengah petani. Kalau pondasinya kuat, organisasi akan bertahan,” ujar Don.

Kepemimpinan baru di bawah Totok Afriyanto kini dihadapkan pada tugas besar untuk menyatukan kembali energi organisasi sekaligus memperluas jaringan TMI hingga ke seluruh wilayah kabupaten.

Bagi banyak pengurus, keberhasilan TMI Wonogiri tidak hanya diukur dari jumlah anggota yang berhasil direkrut, tetapi juga dari kemampuan organisasi membangun kepercayaan di tengah masyarakat tani yang selama ini dikenal tangguh, kritis, dan memiliki ikatan kuat dengan tradisi pertanian yang telah diwariskan turun-temurun.

Dengan berbagai tantangan tersebut, pelantikan kepengurusan baru menjadi titik awal babak berikutnya bagi Tani Merdeka Indonesia Wonogiri. Sebuah perjalanan yang mungkin tidak mudah, tetapi justru mencerminkan karakter masyarakat Wonogiri sendiri: berjalan perlahan, kokoh, dan tidak mudah menyerah. (Rist)

Share This Article