Kopdar Sudaryono di UGM, Mahasiswa Diajak Menjaga Persatuan Berlandaskan Pancasila

3 Min Read
Mas Dar malam ini, 15 Juni 2026 saat menyampaikan pembuka dialognya di depan mahasiswa (foto: istimewa)

YOGYAKARTA – Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono menggelar acara “Kopdar Kopi Bareng Sudaryono” di Auditorium Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada, Senin (15/6/2026) malam. Kegiatan tersebut mengangkat tema tentang Pancasila sebagai pemersatu bangsa di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berkembang.

Mengawali dialog, Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar mengajak mahasiswa melihat Indonesia sebagai rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh elemen bangsa.

“Kita sama-sama mencintai bangsa ini. Karena itu kita harus sama-sama menjaga,” kata Sudaryono di hadapan mahasiswa dan sivitas akademika yang hadir dalam forum tersebut.

- Iklan -
Ad imageAd image

Menurut dia, kecintaan terhadap Indonesia tidak cukup diwujudkan melalui simbol dan slogan semata, tetapi harus tercermin dalam sikap menghormati perbedaan, menjaga persatuan, serta memberikan kontribusi nyata sesuai bidang masing-masing.

Dalam forum dialog terbuka itu tampak hadir Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Sementara Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi hingga acara berlangsung belum terlihat hadir di lokasi.

Acara yang dikemas dalam suasana santai tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berdialog langsung dengan para pejabat pemerintah. Berbagai isu kebangsaan, demokrasi, pembangunan, hingga tantangan generasi muda di era digital menjadi topik yang mengemuka dalam diskusi.

Sudaryono menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang tidak hanya berperan menyampaikan kritik, tetapi juga menawarkan gagasan dan solusi atas berbagai persoalan bangsa.

Karena itu, menurut dia, komunikasi antara pemerintah dan kalangan akademisi perlu terus dibangun agar kehidupan demokrasi berjalan sehat dan produktif.

- Iklan -
Ad image

Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan dalam kehidupan demokrasi merupakan hal yang wajar. Namun, seluruh perbedaan tersebut harus tetap berada dalam koridor Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Boleh berbeda pendapat, boleh mengkritik, bahkan itu diperlukan. Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan tujuan bersama, yaitu Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera,” ujarnya.

Sejumlah mahasiswa yang hadir memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan pandangan serta pertanyaan terkait arah pembangunan nasional, penguatan demokrasi, hingga peran generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan semakin memahami pentingnya nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai penjaga persatuan dan masa depan Indonesia. (gk)

Share This Article