Saat pemateri bapak Maryono memberikan gambarannya soal pemasaran tembakau yang masih terbuka luas (foto: rist)
SHARE
tembakau garangan, yaitu daun tembakau yang diproses melalui perajangan kemudian dikeringkan menggunakan panas matahari atau proses penggarangan.
TEMANGGUNG, DMNETWORK – Rangkaian Pelatihan Budidaya Tembakau Angkatan V dan VI yang berlangsung di Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Soropadan, Pringsurat, Temanggung, sejak 13 Juli 2026, ditutup pada Kamis (16/7/2026) dengan pembekalan mengenai pemasaran dan penanganan hasil tembakau pascapanen. Maryono , petani asal Boyolali pemateri dalam kelas tersebut menyampaikan bahwa untuk melengkapi pelatihan yang sebelumnya membahas teknik budidaya, pemupukan, pengendalian hama terpadu, hingga praktik budidaya di lapangan.
Dalam sesi penutupan, Maryono menekankan bahwa keberhasilan usaha tani tembakau tidak berhenti ketika daun dipanen. Nilai ekonomi komoditas tersebut justru sangat ditentukan oleh penanganan pascapanen, mutu hasil, dan kemampuan petani memahami kebutuhan pasar.
Peserta diperkenalkan dengan berbagai tahapan penanganan daun tembakau setelah panen, mulai dari sortasi, pemeraman sesuai karakter varietas, perajangan, pengeringan, penyimpanan, hingga penggolongan mutu sebelum dipasarkan kepada pedagang maupun industri.
Menurut Maryono, setiap jenis produk tembakau memiliki perlakuan yang berbeda. Perbedaan tersebut akan menentukan kualitas, aroma, warna, hingga harga jual yang diterima petani.
- Iklan -
Salah satu produk yang banyak dikenal adalah tembakau garangan, yaitu daun tembakau yang diproses melalui perajangan kemudian dikeringkan menggunakan panas matahari atau proses penggarangan. Produk ini umumnya menjadi bahan baku industri rokok kretek. Kualitas garangan dipengaruhi oleh warna rajangan, tingkat kekeringan, aroma, elastisitas, serta kadar nikotin yang dihasilkan.
Selain itu terdapat tembakau lembutan, yakni hasil rajangan halus dengan proses penanganan yang lebih teliti agar karakter daun tetap terjaga. Produk ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan campuran rokok linting maupun kretek berkualitas karena menghasilkan rajangan yang seragam dan memiliki aroma khas.
Peserta juga dikenalkan dengan tembakau daun utuh yang dipersiapkan sebagai bahan baku cerutu. Berbeda dengan tembakau rajangan, daun untuk cerutu dipanen tanpa diiris, kemudian menjalani proses curing, fermentasi, hingga pematangan sebelum dilakukan sortasi berdasarkan ukuran, warna, elastisitas, dan kualitas permukaan daun.
Dalam industri cerutu, daun tembakau memiliki fungsi yang berbeda-beda. Daun dengan kualitas terbaik digunakan sebagai wrapper atau pembungkus luar cerutu, daun kualitas menengah dimanfaatkan sebagai binder atau pengikat, sedangkan daun lainnya digunakan sebagai filler atau isi cerutu yang menentukan karakter rasa dan aroma.
- Iklan -
Maryono menjelaskan bahwa proses pengolahan tersebut membuat tembakau cerutu memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan tembakau rajangan. Karena itu, kualitas budidaya dan penanganan pascapanen menjadi faktor yang sangat menentukan daya saing produk di pasar.
Selain teknik pengolahan, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai strategi pemasaran hasil tembakau. Petani didorong memahami spesifikasi yang dibutuhkan industri agar mampu menghasilkan produk sesuai permintaan pasar. Keseragaman mutu, kebersihan hasil panen, kadar air yang sesuai, hingga proses penyimpanan menjadi bagian penting yang menentukan harga jual.
Dalam kesempatan tersebut, pemateri juga memberikan motivasi kepada peserta agar tetap optimistis terhadap prospek usaha tani tembakau.
“Selama masih ada orang yang merokok, budidaya tembakau tetap memiliki peluang usaha yang menguntungkan dan memberi manfaat bagi petani. Yang harus terus kita tingkatkan adalah kualitas hasil panen agar mampu memenuhi kebutuhan pasar,” ujar Maryono.
Menurutnya, tantangan petani saat ini bukan hanya menghasilkan panen dalam jumlah banyak, melainkan menghasilkan tembakau yang memiliki mutu sesuai standar industri. Dengan kualitas yang baik, peluang memperoleh harga yang lebih tinggi akan semakin terbuka.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kualitas harus dimulai sejak pemilihan benih, penerapan teknik budidaya yang benar, pemanenan pada tingkat kemasakan yang tepat, hingga penanganan pascapanen yang dilakukan secara cermat. Seluruh tahapan tersebut saling berkaitan dan menentukan nilai ekonomi yang diterima petani.
Melalui pelatihan yang berlangsung selama empat hari tersebut, peserta diharapkan tidak hanya menguasai teknik budidaya, tetapi juga memahami rantai usaha tembakau secara menyeluruh, mulai dari proses produksi di lahan hingga strategi pemasaran. Dengan bekal tersebut, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, menghasilkan tembakau bermutu tinggi, serta memperkuat daya saing komoditas tembakau Indonesia di pasar nasional maupun internasional.***