Jejak Kakimu Juga Pupuk bagi Tanamanmu

3 Min Read
Jejak Kakimu...

Setiap injakan membawa sesuatu. Bukan hanya berat badan, melainkan perhatian.

DMNETWORK – Ada orang yang percaya bahwa tanaman tumbuh karena pupuk. Ada pula yang meyakini tanaman hidup karena air. Keduanya benar. Tetapi petani tua di kampung saya diam diam menyimpan keyakinan lain. Ia percaya, tanaman juga mengenali jejak kaki orang yang merawatnya.

Maka sawah bukan sekadar hamparan lumpur yang ditanami benih. Ia adalah halaman perjumpaan yang setiap hari menerima langkah langkah yang sama. Pagi, siang, kadang menjelang senja. Ada percakapan yang tidak memakai bahasa. Hanya telapak kaki, embun, dan daun yang bergoyang pelan diterpa angin.

Petani tidak pernah menghitung berapa kilometer ia berjalan di pematang selama satu musim tanam. Barangkali lebih jauh daripada perjalanan seorang pegawai dari rumah ke kantornya. Bedanya, perjalanan petani tidak dicatat mesin absensi. Yang mencatat adalah tanah.

Setiap injakan membawa sesuatu. Bukan hanya berat badan, melainkan perhatian. Mata yang memeriksa apakah daun mulai menguning. 

- Iklan -
Ad imageAd image

Tangan yang mencabut rumput liar. Hidung yang mengenali bau tanah yang terlalu basah atau terlalu kering. 

Semua itu tidak dapat dimasukkan ke dalam karung pupuk, tetapi sering kali justru itulah yang membuat tanaman selamat.

Orang modern menyebutnya monitoring. Petani menyebutnya nengok sawah.

Barangkali karena itu tanaman sering tampak lebih subur di lahan yang rajin dikunjungi pemiliknya. Bukan semata karena pupuknya lebih mahal, melainkan karena pemiliknya lebih sering hadir. Kehadiran, rupanya, mempunyai daya pupuk yang tidak dijual di kios pertanian.

Ilmu pertanian akan menjelaskan bahwa tanah memperoleh unsur hara dari nitrogen, fosfor, kalium, bahan organik, dan berbagai mikroorganisme. Semua itu benar adanya. Tetapi pengalaman petani sering menambahkan satu unsur lagi yang tidak tertulis dalam buku pelajaran, yakni kesetiaan.

Sebab sawah yang ditinggalkan terlalu lama akan lebih cepat dikuasai gulma daripada padi. 

Hama datang bukan hanya ketika pestisida kurang, melainkan juga ketika pemiliknya jarang datang. Seakan alam tahu kapan ia diperhatikan dan kapan ia dilupakan.

- Iklan -
Ad image

Mungkin terdengar berlebihan bila dikatakan jejak kaki menjadi pupuk. Namun bukankah setiap langkah membuat petani melihat lebih banyak, berpikir lebih cepat, dan bertindak sebelum terlambat? Dari sanalah tanaman memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.

Maka jangan heran bila petani tua lebih percaya pada sandal yang penuh lumpur daripada sepatu yang mengilap di ruang rapat. Sandal itu telah mengantarkan pemiliknya berkali kali menyusuri pematang. Di setiap tapaknya, ada doa yang tidak diucapkan. Ada harapan yang tidak ditulis. Ada kerja yang tidak dipamerkan.

Barangkali, pada akhirnya, tanaman memang tidak memakan jejak kaki. Tetapi tanaman tumbuh karena orang yang meninggalkan jejak itu tidak pernah berhenti datang.

Dan dalam dunia yang semakin sibuk menghitung hasil, barangkali kita perlu mengingat kembali satu perkara sederhana. Bahwa sebelum pupuk menyuburkan tanaman, kehadiran telah lebih dahulu menyuburkan kehidupan.***

Share This Article
error: Content is protected !!