DMN NETWORK | LAPORAN UTAMA Di Dapur Tegal Gundil, Ketika Hati Menjadi Bumbu Utama

6 Min Read
Saat mas Dar sidak di dapur sppg Tegal gundi 5 Bogor (foto: tangkapan layar)

Sidak Subuh Mas Dar di SPPG Tegal Gundil 5 Bogor: Memastikan Setiap Porsi Makanan Dimasak dengan Nurani

Oleh Redaksi DMN Network
Bogor | Jumat, 24 Juli 2026 | 05.00 WIB

DMNETWORK – Subuh belum benar-benar pergi dari langit Bogor. Embun masih menggantung di dedaunan, sementara udara dingin menyelinap melalui celah-celah bangunan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tegal Gundil 5. Di saat sebagian besar kota masih memeluk sisa kantuknya, sebuah mobil berhenti perlahan di depan rolling door dapur.

Dari sanalah Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, turun tanpa banyak protokoler.

Tidak ada karpet merah. Tidak ada podium. Tidak pula sambutan yang dibuat-buat. Yang ada hanyalah aroma nasi yang baru matang, bunyi peralatan dapur yang saling beradu, dan belasan relawan yang sibuk menyiapkan ribuan porsi makanan bergizi bagi anak-anak sekolah.

- Iklan -
Ad imageAd image

Bagi Mas Dar, dapur adalah tempat di mana kebijakan negara diuji untuk pertama kalinya. Sebelum makanan tiba di meja para siswa, kualitasnya lebih dulu ditentukan oleh disiplin, kebersihan, dan hati orang-orang yang mengolahnya.

Ia berjalan pelan, mengamati hampir setiap sudut ruangan.

Tatapannya tidak mencari kesalahan, melainkan memastikan tidak ada satu pun kekeliruan yang luput dari perhatian.

Di depan para penanggung jawab dapur, kalimat pertama yang keluar justru bukan tentang target produksi ataupun jumlah porsi makanan.

“Jangan sampai ada yang sakit perut, ya. Mesti benar-benar.”

Kalimat sederhana itu segera disusul dengan pesan yang kemudian menjadi ruh dari seluruh kunjungannya.

- Iklan -
Ad image

“Kau bikin menu yang kira-kira untuk adikmu, untuk bapakmu, untuk ibumu. Harus pakai hati. Jangan asal bikin.”

Begitulah cara Mas Dar memandang Program Makan Bergizi Gratis. Bukan sekadar memenuhi angka distribusi, tetapi menghadirkan makanan yang layak disajikan kepada keluarga sendiri.

1000955669.jpg
saat memberi semangat kepada relawan sppg Tegal gundi 05 Bogor

Di tangannya, kualitas bukan hanya soal kandungan gizi, melainkan juga soal nurani.

Dengan mengenakan penutup kepala steril dan masker, ia memasuki area pemorsian. Asap tipis mengepul dari makanan yang baru selesai dimasak. Satu demi satu baki stainless steel terisi rapi oleh tangan-tangan relawan yang bekerja nyaris tanpa jeda.

“Masuk ya?” sapanya singkat.

“Boleh, Pak,” jawab para relawan serempak.

Mas Dar tersenyum.

“Rapi ya… pakai hati ya kerjanya. Bagus.”

Di sebuah dapur, hal-hal kecil sering kali menentukan hasil akhir.

Karena itu, perhatian Mas Dar justru berhenti pada sesuatu yang tampak sepele.

Sebuah tampah besar berisi nasi.

“Mana chef-nya?”

Seorang koki segera menghampiri.

“Ini nasi apa?”

“Untuk relawan, Pak.”

“Untuk relawan ya? Bukan buat anak-anak?”

“Bukan, Pak.”

Percakapan singkat itu menunjukkan satu hal. Tidak boleh ada sedikit pun kerancuan dalam alur produksi makanan.

Setelah itu langkahnya beralih ke area pencucian.

Lantai terlihat sedikit basah.

“Ini kenapa?”

“Wastafelnya bocor, Pak.”

Mas Dar langsung meminta agar kerusakan tersebut segera diperbaiki.

“Bilang sama mitranya suruh perbaiki.”

Tidak berhenti di sana.

Ruang pendingin berikut panel pengatur suhu juga diperiksa.

“Suhunya berapa? Temperaturmu kurang dingin. Harus sesuai standar.”

Tidak ada detail yang dianggap terlalu kecil ketika menyangkut keamanan pangan.

Beberapa petugas tampak mulai tegang.

Barangkali mereka mengira sidak pagi itu akan berubah menjadi ruang teguran.

Namun dugaan itu segera sirna.

Mas Dar mendekati salah seorang petugas, menepuk pundaknya, lalu berkata dengan nada yang jauh dari kesan menghakimi.

“Aku ke sini bukan bikin kamu takut. Aku ke sini nyemangati supaya kerjanya lebih bagus. Saya bukan mau marah-marah. Orang kerja memang capek, tapi harus benar.”

Kalimat itu seolah menjadi penutup dari seluruh koreksi yang diberikan pagi itu.

Kedisiplinan memang wajib.

Tetapi penghargaan kepada orang-orang yang bekerja juga tak boleh hilang.

Seorang pemimpin, rupanya, bukan hanya hadir untuk menemukan kesalahan, melainkan juga menjaga semangat mereka yang setiap hari bekerja di balik layar.

Sebelum meninggalkan dapur, Mas Dar kembali mengingatkan seluruh penanggung jawab agar terus menjaga kualitas menu, memperbaiki fasilitas yang rusak, dan memastikan setiap makanan yang keluar dari dapur benar-benar layak dikonsumsi.

“Ini kehormatan kalian. Pakai hati. Dilihat menunya, dicoba makanannya. Yang bocor diperbaiki. Yang kurang dibereskan.”

Subuh perlahan berganti pagi.

Di luar gedung, seluruh relawan berkumpul membentuk lingkaran.

Tangan mereka bertaut di tengah.

Lalu sebuah yel-yel menggema, memecah dinginnya udara Tegal Gundil.

“SPPG TEGAL GUNDIL 05… JAYA! JAYA! JAYA!”

Di balik ribuan porsi makanan bergizi yang setiap hari dikirim ke sekolah-sekolah, tersimpan kisah tentang orang-orang yang bekerja sejak sebelum matahari terbit. Dan pada Jumat pagi itu, 24 Juli 2026, seorang pemimpin memilih hadir di tengah mereka, bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan memastikan bahwa setiap porsi makanan benar-benar dimasak dengan sesuatu yang tak pernah tertulis dalam buku resep: hati. Redaksi

Share This Article
error: Content is protected !!