“Kami tidak hendak bicara pupuk, Pak,” katanya akhirnya.
“Lalu?”
“Kami hendak bicara mulut.”
“Kami tidak hendak bicara pupuk, Pak,” katanya akhirnya.
“Lalu?”
“Kami hendak bicara mulut.”
DMNETWORK – Di gardu bambu dekat pohon asem itu, orang-orang biasa duduk setelah azan Isya. Tidak ada lampu terang. Hanya bohlam kuning yang menggantung seperti bulan kecil kelelahan. Dari sawah terdengar bunyi kodok bersahutan, dan sesekali suara sepeda motor lewat dengan knalpot yang batuk-batuk.
Malam itu gardu lebih penuh daripada biasanya.
Mbah Wiryo datang paling awal, membawa rokok klobot dan tongkat bambu. Menyusul Sastro, petani tembakau yang kulitnya legam seperti tanah yang lama dibakar matahari. Lalu Marni, penjual sayur di pasar, datang sambil mengipasi wajahnya dengan daun pisang kering. Di belakang mereka ada Kelik, guru SD yang suka mencatat apa saja dalam buku kecil, seolah hidup ini rapat panjang yang tak pernah selesai.
Mereka menunggu seseorang.
Dari kejauhan terdengar langkah sandal menyeret tanah. Pak Lurah datang mengenakan sarung kotak-kotak dan baju putih yang kerahnya agak kusut. Ia baru pulang dari kecamatan. Di tangannya masih ada map plastik merah.
“Wah, lengkap sekali,” katanya sambil tertawa kecil. “Ada rapat apa ini?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Angin bergerak pelan. Bohlam kuning bergoyang sedikit.
Pak Lurah duduk. Ia menaruh map merah di sampingnya. “Kalau soal jalan rusak, sudah saya usulkan. Kalau soal pupuk, saya juga sudah bicara dengan dinas.”
Mbah Wiryo mengisap rokoknya lama sekali, seolah sedang menarik malam masuk ke paru-parunya.
“Kami tidak hendak bicara pupuk, Pak,” katanya akhirnya.
“Lalu?”
“Kami hendak bicara mulut.”
Pak Lurah tertawa lebih keras. “Mulut siapa?”
“Panjenengan.”
Tawa itu berhenti mendadak.
Sastro menunduk. “Jangan marah dulu, Pak. Kami ini wong cilik. Kalau salah bicara, anggap saja batang padi tertiup angin.”
Pak Lurah memandang satu per satu wajah di gardu. Tidak ada yang tampak hendak mengejek.
Mereka justru terlihat sungguh-sungguh, dan kesungguhan sering lebih menakutkan daripada kemarahan.
Marni membuka buntalan kecil berisi singkong rebus. “Makan dulu, Pak.”
Pak Lurah mengambil sepotong singkong, tetapi tidak memakannya.
Kelik mengeluarkan buku kecilnya. “Tadi siang saya mengajar anak-anak tentang hemat energi. Pulang sekolah mereka menirukan pidato panjenengan di balai desa minggu lalu. Mereka tertawa-tawa.”
“Memangnya saya salah bicara?”
“Bukan salah,” kata Kelik pelan. “Terlalu banyak.”
Malam terasa semakin rapat.
Beberapa hari terakhir nama Pak Lurah memang sering beredar di telepon genggam warga. Potongan videonya diputar berkali-kali. Dalam video itu ia berbicara panjang tentang semangat desa, tentang ketahanan pangan, tentang pentingnya bersyukur, tentang banyak hal. Ada kalimat yang membuat orang pasar saling pandang sambil menahan senyum pahit. Ada kalimat yang membuat petani berhenti mengayun cangkul.
Pak Lurah sendiri heran mengapa orang marah hanya karena beberapa kata.
“Saya ini berniat baik,” katanya.
“Kami tahu,” jawab Marni cepat.
“Lalu kenapa wajah kalian seperti orang melayat?”
Sastro mengangkat kepala. Matanya merah karena asap rokok. “Pak, tanah tidak mengerti niat baik. Tanah hanya mengerti air, pupuk, dan tenaga.”
Kalimat itu menggantung di udara seperti kelelawar yang enggan pulang.
Mbah Wiryo mengetukkan tongkatnya ke lantai bambu. “Dulu bapak panjenengan, almarhum Pak Lurah Kerto, jarang bicara. Orang datang mengadu, beliau mendengarkan sampai habis. Kadang cuma bilang, ‘nggih’. Anehnya, orang pulang merasa lega.”
Pak Lurah diam.
“Panjenengan beda,” lanjut Mbah Wiryo. “Orang belum selesai bicara, panjenengan sudah pidato.”
Angin membawa bau lumpur sawah.
Dari kejauhan terdengar suara anak kecil membaca teks proklamasi. Rupanya latihan tujuh belasan di balai RT belum selesai. Suaranya patah-patah, tetapi justru karena itu terdengar jujur.
Pak Lurah menatap gelap sawah.
“Kami datang bukan untuk mempermalukan panjenengan,” kata Marni. “Kami datang karena sayang.”
“Sayang?”
“Kalau tidak sayang, kami biarkan saja panjenengan terus bicara sampai habis suara.”
Kelik menutup buku kecilnya. “Kami punya usul.”
“Apa lagi?”
“Topo mbisu.”
Pak Lurah mengerutkan kening. “Bertapa bisu?”
“Sehari saja,” kata Sastro. “Mulai malam Jumat sampai malam Sabtu.”
Pak Lurah tertawa pendek, tetapi tawa itu terdengar rapuh. “Kalian ingin lurah jadi patung?”
“Bukan patung,” kata Mbah Wiryo. “Jadi telinga.”
Tidak ada yang berbicara setelah itu. Kodok di sawah mengambil alih percakapan.
Pak Lurah memandangi map merah di sampingnya. Di dalamnya ada naskah sambutan untuk peringatan tujuh belasan. Tiga belas halaman. Ia menghabiskan dua malam untuk menyusunnya.
“Kalau saya diam, orang nanti mengira saya sakit.”
“Biarkan sekali-sekali rakyat mengira pemimpinnya sedang sehat,” kata Marni.
Pak Lurah menoleh. Ia ingin membalas dengan lelucon, tetapi kata-kata seperti tercekat di tenggorokan.
Malam semakin larut. Satu per satu warga pulang. Tinggal Pak Lurah dan Mbah Wiryo.
“Mbah,” katanya pelan, “apa benar diam bisa menyelesaikan masalah?”
Mbah Wiryo tersenyum. “Diam tidak menyelesaikan masalah. Diam membuat kita mendengar masalah yang sebenarnya.”
“Kalau saya tidak tahan?”
“Berarti panjenengan memang perlu topo mbisu.”
Pak Lurah pulang membawa map merah. Di rumah, istrinya sudah tidur. Ia duduk di ruang tamu ditemani suara jam dinding. Ia membuka map itu, membaca halaman pertama, lalu halaman kedua. Tiba-tiba kalimat-kalimat panjang itu tampak seperti tanaman liar yang tumbuh tanpa dipangkas.
Ia mengambil pensil.
Satu paragraf dicoret.
Lalu paragraf berikutnya.
Sampai tinggal satu halaman.
Ia membaca halaman itu keras-keras. Masih terasa terlalu banyak.
Ia mencoret lagi.
Tinggal lima kalimat.
Ia mencoret lagi.
Tinggal dua kalimat.
Jam dinding berdetak.
Di luar rumah angin menggesek daun pisang seperti orang berbisik.
Malam Jumat tiba.
Pak Lurah benar-benar menjalani topo mbisu. Sejak magrib ia tidak menjawab salam dengan suara, hanya mengangguk. Anak-anak yang lewat depan rumahnya berbisik-bisik. Istrinya beberapa kali lupa lalu bertanya macam-macam, kemudian tertawa sendiri ketika suaminya hanya tersenyum.
Keesokan paginya Pak Lurah berjalan ke sawah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia berjalan tanpa rombongan dan tanpa pidato.
Ia melihat Sastro membungkuk mencabuti rumput. Ia melihat Marni memikul sayur menuju pasar. Ia melihat anak-anak sekolah menyeberangi pematang sambil membawa bendera kecil merah putih.
Tak seorang pun meminta sambutan.
Tak seorang pun meminta penjelasan.
Mereka hanya bekerja.
Siang hari Pak Lurah duduk di gardu bambu sendirian. Ia mendengar suara lesung dari rumah jauh, suara ayam, suara angin menyentuh padi. Ternyata desa selama ini tidak pernah sepi. Yang terlalu bising hanyalah dirinya.
Menjelang malam topo mbisu selesai.
Orang-orang kembali berkumpul di gardu.
“Nah, bagaimana rasanya?” tanya Marni.
Pak Lurah menghela napas panjang.
“Aneh,” katanya. “Ternyata suara sawah lebih masuk akal daripada suara saya sendiri.”
Mbah Wiryo tertawa tanpa suara.
“Pidato tujuh belasan sudah siap?” tanya Kelik.
Pak Lurah mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya. Kertas itu kecil sekali.
“Cuma ini?”
Pak Lurah mengangguk. Ia membacanya pelan:
“Saudara-saudaraku, mari kita bekerja dengan jujur. Saya akan lebih banyak mendengar. Dirgahayu Indonesia.”
Hanya itu.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak.
Namun entah mengapa malam terasa lebih lapang, seolah gardu bambu itu baru saja dibersihkan dari debu yang lama menempel.
Di kejauhan bendera merah putih di balai desa bergerak pelan tertiup angin, dan Pak Lurah untuk pertama kalinya mendengar bunyi kain berkibar seperti suara seseorang yang akhirnya berhenti berbicara.***
Magelang 1 Agustus 2026,
Aris Munandar, petani yang suka menulis