Barangkali karena itu manusia tidak cukup hanya menjadi orang yang tahu. Ia harus menjadi orang yang mau menerima, mengolah, lalu memberikan kembali.
DMNETWORK – Ada satu hal dalam bahasa Arab yang selama ini mungkin kita anggap sekadar urusan tata bahasa: jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah. Padahal, kalau kita mau sedikit lebih lama tinggal di dalam maknanya, perbedaan itu seperti membuka sebuah pintu untuk memahami cara Al-Qur’an melihat manusia.
Jumlah ismiyah dimulai dengan kata benda. Struktur kalimatnya menunjuk kepada sesuatu yang sudah jelas, tertentu, hadir sebagai subjek. Sedangkan jumlah fi’liyah dimulai dengan kata kerja. Yang didahulukan adalah perbuatannya. Siapa pelakunya bisa menyusul, bahkan dalam pengertian tertentu tidak perlu disebut.
Di situlah saya melihat ada pelajaran yang lebih besar daripada sekadar nahwu.
Perbuatan kadang lebih penting daripada siapa yang melakukannya.
Dalam bahasa yang sederhana: siapa pun bisa melakukan.
Ayat tentang ilmu dalam QS Al-Mujadalah ayat 11, misalnya, sering kita baca sebagai janji bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Tetapi kalau kita membacanya dengan perhatian kepada struktur kalimat, kita seperti diajak melihat bahwa ilmu bukan benda mati yang cukup disimpan di kepala. Ia bergerak. Ia berpindah. Ia mengubah.
Ilmu yang masuk dari lingkungan kepada diri kita adalah penelitian. Ilmu yang bergerak dari diri kepada orang lain adalah pengajaran. Sedangkan ilmu yang bergerak dari diri kepada benda, pekerjaan, dan lingkungan adalah karya. Semakin banyak ilmu yang ditanamkan ke dalam sebuah karya, semakin tinggi pula nilai karya itu.
Barangkali karena itu manusia tidak cukup hanya menjadi orang yang tahu. Ia harus menjadi orang yang mau menerima, mengolah, lalu memberikan kembali.
Masalahnya justru di sini: pintu ilmu itu kadang ditutup oleh pemiliknya sendiri.
Al-Qur’an menyebut, khatamallahu ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim wa ‘ala absharihim. Allah menutup hati, pendengaran, dan penglihatan mereka. Kalimat itu mengandung gambaran yang menggetarkan: ada manusia yang bukan kekurangan informasi, melainkan kehilangan kemampuan untuk menerima.
Telinganya ada, tetapi tidak mendengar.
Matanya ada, tetapi tidak melihat.
Hatinya ada, tetapi tidak menerima.
Dalam pengertian sosial, manusia dapat mempunyai sebuah karakter yang membuat dirinya hanya mau menerima sesuatu dari orang yang disukainya, dari orang yang dianggap gurunya, dari kelompok yang dianggap sejalan dengannya. Nasihat dari orang lain dianggap gangguan. Kritik dianggap serangan. Pendapat yang berbeda dianggap tidak perlu didengar.
Pintu ilmu pun perlahan menjadi pintu seleksi.
Yang masuk hanya yang kita sukai.
Yang keluar kita anggap salah.
Padahal ilmu tidak selalu datang melalui pintu yang kita pilih.
Kadang ia datang melalui orang yang tidak kita sukai. Kadang melalui anak kecil. Kadang melalui orang yang tidak punya gelar. Kadang melalui kritik yang membuat telinga panas. Dan kadang, justru melalui seseorang yang selama ini kita anggap tidak penting.
Di sinilah saya sering memikirkan anak-anak saya.
Saya tidak sedang menyalahkan mereka. Saya justru sedang menyalahkan keadaan yang perlahan-lahan berubah di sekitar kita.
Dulu anak belajar mendengar perkataan orang tua karena memang hampir tidak ada pilihan lain. Rumah adalah tempat bertanya. Orang tua adalah tempat meminta pertimbangan. Tamu yang datang membawa cerita. Tetangga membawa kabar. Silaturahmi menjadi semacam sekolah yang tidak mempunyai papan tulis.
Sekarang dunia masuk ke kamar melalui telepon genggam.
Informasi tidak lagi harus datang dari ayah dan ibu. Dunia bisa berbicara langsung kepada anak melalui layar. Bahkan kadang dunia berbicara jauh lebih banyak daripada orang tua.
Akibatnya bukan semata-mata anak menjadi pandai menggunakan teknologi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah berkurangnya kebiasaan mendengar manusia kepada manusia.
Anak mendengar suara dari layar, tetapi semakin jarang mendengar cerita dari bapaknya.
Anak melihat ribuan wajah di media sosial, tetapi semakin jarang bertemu wajah tetangga.
Anak mengetahui banyak hal dari internet, tetapi belum tentu memiliki cukup kesempatan untuk bertanya: mengapa?
Di situlah persoalannya.
Rendahnya komunikasi langsung antara anak dan orang tua, berkurangnya silaturahmi, dan semakin kuatnya ketergantungan pada fasilitas telepon genggam, pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi. Ia menyangkut pembentukan karakter.
Sebab ilmu tidak hanya diperoleh dari buku.
Ilmu juga lahir dari perjumpaan.
Dari percakapan.
Dari mendengar orang yang lebih tua.
Dari menerima nasihat.
Dari mengalami perbedaan.
Dan bahkan dari kesediaan mengakui bahwa kita mungkin keliru.
Karena itu, yang saya khawatirkan terhadap anak-anak saya bukan apakah mereka memiliki cukup informasi. Di zaman sekarang, informasi justru berlimpah ruah. Yang saya khawatirkan adalah apakah mereka masih mempunyai pintu yang terbuka untuk menerima ilmu.
Sebab orang yang miskin informasi masih bisa mencari.
Tetapi orang yang menutup pintu terhadap informasi akan sulit ditolong, meskipun dunia mengirimkan ilmu sebanyak-banyaknya ke depan rumahnya.
Mungkin tugas orang tua akhirnya bukan membuat anak mengetahui segala sesuatu.
Tugas orang tua adalah menjaga agar pintu itu jangan sampai tertutup.
Agar anak tetap mau mendengar.
Tetap mau bertanya.
Tetap mau menerima nasihat.
Tetap mau belajar dari orang yang berbeda.
Dan, yang paling penting, tetap memiliki kerendahan hati untuk mengatakan: mungkin saya belum tahu.
Sebab selama kalimat itu masih hidup dalam diri seseorang, sesungguhnya pintu ilmu belum tertutup.
Ngubaedi Achmad, Penulis adalah mantan dosen, tinggal di Semarang