Cerpen Aris Munandar: API

18 Min Read
Ilustrasi gambar cerpen Aris Munandar

Tak seorang pun bertanya apakah orang yang terus-menerus dituduh masih punya alasan untuk membela diri.

DARMEDIANETWORK | Api tidak akan membakar apa-apa kalau tidak ada orang yang sengaja menyalakannya. Api tidak punya niat. Ia tidak mengenal dendam, tidak tahu siapa yang disukainya, dan tidak pernah memilih rumah siapa yang akan dihabisinya. Ia hanya tahu satu hal: selama ada sesuatu yang bisa dibakar, ia akan terus menyala.

Malam itu, api bermula dari tumpukan sampah di samping rumah.

Saya mendengar suara pletak, pletok. Mula-mula saya mengira suara bambu kering yang jatuh atau ranting patah diinjak kucing. Tetapi ketika saya menoleh ke samping rumah, ada cahaya merah membara. Dalam gelap, nyala api tampak kecil, tetapi saya tahu api tidak pernah berjanji akan tetap kecil.

Saya segera mengambil air dan menyiramkannya ke bagian yang terbakar. Berkali-kali. Api melawan sebentar, menjilat-jilat sisa sampah, sebelum akhirnya menyerah dan meninggalkan asap tipis yang berbau hangus.

Saya berdiri agak lama, memandangi bekas kebakaran itu.

Terlambat sedikit saja, sampah akan habis terbakar. Api bisa merambat ke kandang kambing, lalu menyambar rumpun bambu yang tinggi di belakangnya. Dari sana, angin bisa membawa bara ke atap rumah. Dan kalau rumah sudah terbakar, rumah tetangga mungkin ikut menyusul. Api tidak mengenal batas pekarangan. Ia tidak peduli siapa pemilik rumah, siapa yang kaya, siapa yang miskin, siapa yang sedang tidur, dan siapa yang sedang berdoa.

Satu kampung bisa habis hanya karena seseorang bermain-main dengan api.

Pagi harinya, saya mendengar orang menyebut satu nama.

Mbil.

Begitulah orang-orang memanggilnya.

Nama itu sudah lama beredar di kampung kami, seperti kabar buruk yang tak pernah selesai dibicarakan. Mbil dianggap tidak genap pikirannya. Kelakuannya, kata orang, sering aneh. Kadang membuat orang tertawa, kadang membuat orang marah, dan kadang membuat orang kehilangan sesuatu yang tak pernah kembali.

Maka, ketika ada sampah terbakar pada malam hari, orang-orang segera menghubungkan kejadian itu dengan Mbil.

Siapa lagi kalau bukan Mbil?

Begitulah cara mereka berpikir. Cepat, mudah, dan tidak membutuhkan saksi.

Padahal, tak seorang pun melihat Mbil membakar sampah malam itu.

Tetapi siapa yang membutuhkan saksi jika sebuah nama sudah tersedia?

Kampung kami punya banyak cerita tentang Mbil.

Pernah sepeda seorang tetangga dibakar. Tidak ada yang melihat siapa pelakunya, tetapi nama Mbil segera disebut. Pernah pula kelapa di sebuah pohon habis dipetik dalam semalam. Orang-orang kembali menyebut Mbil. Ketika saluran irigasi jebol dan sawah-sawah kebanjiran, mereka juga menyebut nama yang sama.

Begitu pula dengan alat-alat pertanian yang ditinggalkan di sawah. Sore masih ada, pagi sudah raib. Cangkul, sabit, dan barang-barang kecil lainnya hilang entah ke mana. Mbil lagi.

Bahkan ikan di sawah yang hilang pun seolah-olah sudah memiliki pelaku sebelum ada orang yang mulai mencari.

Mbil.

Nama itu menjadi jawaban untuk segala pertanyaan yang tak ingin dijawab dengan susah payah.

Orang-orang tidak perlu memeriksa jejak kaki. Tidak perlu mencari siapa yang terakhir berada di dekat saluran irigasi. Tidak perlu bertanya siapa yang melihat seseorang memetik kelapa pada malam hari. Tidak perlu memikirkan kemungkinan bahwa pencuri bisa saja orang yang selama ini mereka percayai.

Cukup sebut Mbil, lalu perkara selesai.

Anehnya, Mbil sendiri tidak pernah benar-benar membela diri. Ia kadang hanya tersenyum, kadang tertawa sendirian, kadang pergi begitu saja ketika orang-orang menuduhnya. Sikap itu justru semakin meyakinkan warga bahwa tuduhan mereka benar.

Kalau bukan pelakunya, mengapa ia tidak marah?

Kalau bukan dia yang mencuri, mengapa ia tidak melapor?

Kalau tidak bersalah, mengapa ia hanya tertawa?

Tak seorang pun bertanya apakah orang yang terus-menerus dituduh masih punya alasan untuk membela diri.

Mungkin, bagi Mbil, pembelaan diri hanya akan menjadi hiburan tambahan bagi orang-orang yang sudah memutuskan bahwa dirinya bersalah.

Suatu hari, sabit saya hilang dari sawah.

Sore sebelumnya saya meninggalkannya di dekat pematang. Pagi berikutnya, sabit itu sudah tidak ada. Saya mencari di antara rumpun padi, memeriksa saluran air, bahkan bertanya kepada petani yang kebetulan lewat. Hasilnya nihil.

Saya pun teringat Mbil.

Siapa lagi?

Saya hampir saja ikut menambahkan satu cerita baru ke dalam daftar panjang kesalahan yang dilekatkan kepadanya. Dalam pikiran saya, perkara itu sudah selesai. Mbil mengambil sabit saya, lalu menyembunyikannya entah di mana.

Beberapa hari kemudian, ketika melewati sawah, saya melihat seorang tetangga sedang bekerja. Di tangannya ada sebuah sabit yang bentuknya sangat saya kenal. Gagangnya memiliki bekas retakan kecil, sedangkan bilahnya menyisakan guratan yang pernah saya buat ketika mengasahnya.

Sabit saya.

Saya mendekat dan bertanya dari mana ia mendapatkannya.

Tetangga itu menjawab dengan tenang. Ia bahkan tidak terlihat gugup. Orang itu dikenal baik, sering menjadi muazin di musala, dan tidak pernah dianggap aneh oleh siapa pun.

Saya tidak segera menuduhnya. Saya hanya memandangi sabit itu, kemudian memandangi wajahnya.

Ternyata, sabit saya tidak dicuri oleh Mbil.

Dan tiba-tiba saya merasa malu.

Bukan semata-mata karena telah kehilangan sabit, melainkan karena saya hampir melakukan hal yang sama seperti orang-orang lain: menghukum seseorang dalam pikiran saya tanpa bukti, hanya karena nama orang itu sudah telanjur tersedia sebagai kambing hitam.

Sejak hari itu, saya mulai curiga bahwa mungkin ada orang-orang yang sengaja memanfaatkan keadaan Mbil. Mereka tahu, selama sebuah barang hilang, nama Mbil akan lebih dahulu disebut daripada nama mereka sendiri. Mereka tahu, orang yang dianggap tidak waras akan sulit dipercaya sekalipun berkata benar. Mereka tahu, reputasi buruk bisa menjadi tempat persembunyian yang lebih aman daripada pintu rumah yang terkunci.

Dan mereka memanfaatkannya.

Mbil menjadi semacam karung kosong tempat semua kesalahan kampung dimasukkan. Orang-orang yang benar-benar melakukan kejahatan bisa berjalan melewatinya dengan wajah tenang, bahkan mungkin ikut mengutuk Mbil di depan orang banyak.

Saya mulai membayangkan betapa mudahnya menjadi pencuri di kampung kami.

Cukup pastikan Mbil berada di sekitar cerita, lalu biarkan masyarakat menyelesaikan sisanya.

Malam kebakaran itu kembali terlintas di pikiran saya.

Saya tak tahu siapa yang membakar sampah di samping rumah. Saya tidak melihat Mbil di sana. Saya juga tidak melihat orang lain. Yang saya tahu, api itu nyata, bahayanya nyata, dan saya beruntung sempat memadamkannya.

Selebihnya adalah dugaan.

Namun, di warung, orang-orang sudah membicarakannya dengan penuh keyakinan. Mereka mengatakan Mbil harus diawasi. Ada yang menyarankan agar ia dimarahi. Ada yang menganggap kelakuannya sudah keterlaluan. Bahkan ada yang tertawa sambil bercerita bahwa sejak dulu Mbil memang begitu.

Saya mendengarkan mereka tanpa menyela.

Seseorang lalu berkata bahwa orang seperti Mbil memang tidak bisa dibiarkan hidup bebas. Hari ini membakar sampah, besok bisa membakar rumah orang.

Saya ingin bertanya, apakah mereka melihatnya?

Tetapi saya urung.

Sebab saya mulai mengerti bahwa yang mereka perlukan bukanlah jawaban. Mereka hanya membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Kebenaran terlalu merepotkan, sementara tuduhan bisa dibagikan secara gratis.

Saya pulang dengan membawa pikiran yang terasa lebih berat daripada sekarung gabah.

Di rumah, saya memeriksa kandang kambing. Semuanya selamat. Saya melihat rumpun bambu yang berdiri di belakang rumah, bergoyang pelan tertiup angin malam. Saya membayangkan apa yang mungkin terjadi seandainya api itu terlambat saya padamkan.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri: jika rumah saya benar-benar terbakar, apakah saya akan ikut menuduh Mbil tanpa bukti?

Pertanyaan itu tidak segera mendapatkan jawaban.

Beberapa hari kemudian, saya melihat Mbil duduk sendirian di pinggir jalan.

Ia sedang memperbaiki sebuah sandal dengan potongan kawat. Tangannya kotor. Bajunya kusam. Di dekatnya ada sebotol air minum yang tinggal separuh.

Saya berhenti dan menyapanya.

Ia mendongak, lalu tersenyum.

Saya bertanya apakah ia tahu siapa yang membakar sampah di samping rumah saya.

Mbil menggeleng.

Kemudian, tanpa saya duga, ia bertanya, “Kalau ada barang hilang, orang-orang selalu bilang saya yang mengambil. Kalau ada yang rusak, saya juga yang merusak. Kalau ada kebakaran, pasti saya lagi. Memangnya orang lain di kampung ini tidak bisa berbuat jahat?”

Saya terdiam.

Kalimat itu sederhana. Bahkan sangat sederhana. Tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat saya tak mampu segera menjawab.

Mbil melanjutkan pekerjaannya memperbaiki sandal.

“Kalau saya yang melakukan, mestinya ada yang melihat. Kalau tidak ada yang melihat, kenapa mereka yakin?”

Ia mengangkat wajahnya lagi.

“Kalau saya bilang bukan saya, mereka tidak percaya. Kalau saya diam, mereka bilang saya mengaku. Kalau saya tertawa, mereka bilang saya gila.”

Ia berhenti sebentar, lalu kembali memasang kawat pada sandalnya.

“Jadi, saya harus bagaimana?”

Saya tidak punya jawaban.

Untuk pertama kalinya, saya merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang memahami keadaan jauh lebih baik daripada orang-orang yang setiap hari membicarakannya.

Saya pamit pulang. Mbil kembali duduk di pinggir jalan, menunduk di atas sandalnya yang hampir selesai diperbaiki.

Di sepanjang perjalanan, saya terus memikirkan pertanyaannya.

Jika seseorang tidak diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, lalu atas dasar apa kita menyebut diri kita adil?

Sejak percakapan itu, saya mulai memperhatikan orang-orang di kampung dengan cara berbeda.

Saya melihat mereka menuduh Mbil sambil tersenyum. Saya melihat orang yang kehilangan barang langsung menyebut namanya sebelum memeriksa tempat lain. Saya melihat orang-orang yang mengaku paling memahami keadaan Mbil, padahal tak seorang pun benar-benar mau duduk dan mendengarkan perkataannya.

Mereka menyebut Mbil gila.

Tetapi mereka juga bisa mencuri barang tetangganya, lalu pulang untuk mengerjakan salat. Mereka bisa merusak saluran irigasi, kemudian ikut mengeluh ketika sawah kebanjiran. Mereka bisa mengambil kelapa orang lain, lalu menyalahkan Mbil ketika pemiliknya bertanya. Mereka bisa membiarkan seseorang menanggung kesalahan yang tidak dilakukannya, sebab dengan begitu mereka tidak perlu memeriksa diri sendiri.

Mereka tetap dianggap waras.

Barangkali kewarasan di kampung kami memang tidak diukur dari kemampuan membedakan benar dan salah. Kewarasan cukup ditentukan oleh apakah seseorang masih bisa bekerja, bercakap-cakap dengan tetangga, menghadiri kenduri, dan berdiri di saf yang sama ketika azan berkumandang.

Adapun kejujuran, rupanya perkara lain.

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali menyebut Mbil gila. Mungkin seseorang yang pernah melihat tingkahnya. Mungkin pula seseorang yang membutuhkan nama untuk menutupi perbuatannya. Yang saya tahu, sebutan itu kemudian tumbuh lebih cepat daripada kebenaran.

Mbil tidak punya kuasa untuk menghentikannya.

Ia tidak memiliki kedudukan. Tidak memiliki suara yang didengar orang banyak. Tidak pula memiliki reputasi yang bisa dipakai untuk membela dirinya.

Yang ia miliki hanya dirinya sendiri, dan itu pun sudah lama dirampas oleh penilaian orang-orang.

Suatu malam, ketika melewati musala, saya mendengar seseorang berceramah tentang dosa, fitnah, dan kezaliman. Suaranya lantang. Orang-orang duduk mendengarkan dengan khusyuk. Di antara mereka ada yang pernah menuduh Mbil mencuri, ada yang pernah menyebarkan cerita tentangnya, dan ada pula yang pernah memanfaatkan namanya untuk menyelamatkan diri.

Mereka mengangguk-angguk ketika sang penceramah berkata bahwa manusia harus berhati-hati sebelum menuduh sesamanya.

Saya berdiri di luar, di bawah cahaya lampu yang redup.

Entah mengapa, saya teringat sabit saya.

Saya juga teringat api yang nyaris membakar rumah.

Dan saya teringat Mbil yang bertanya, kalau saya tidak melakukannya, kenapa mereka yakin?

Ceramah selesai. Orang-orang keluar, saling bersalaman, lalu pulang ke rumah masing-masing. Beberapa di antara mereka melewati saya sambil membicarakan Mbil. Katanya, kemarin ada ayam yang hilang. Katanya, semalam terdengar suara mencurigakan di belakang rumah seseorang.

Mereka belum tahu siapa pelakunya.

Tetapi mereka sudah punya nama.

Saya ingin berteriak bahwa ada sesuatu yang salah di kampung ini. Bahwa api tidak bisa dipadamkan dengan tuduhan. Bahwa kejahatan tidak menjadi kebenaran hanya karena dilakukan oleh orang yang dianggap waras. Bahwa seseorang tidak menjadi bersalah hanya karena masyarakat sepakat menyalahkannya.

Namun, saya hanya berdiri diam.

Sebab saya sadar, jika saya mengatakan itu, mungkin mereka akan mulai memandang saya dengan cara yang sama seperti mereka memandang Mbil.

Dan mungkin, besok pagi, ketika ada barang hilang atau sampah terbakar, nama saya akan ikut disebut.

Pagi berikutnya, saya mendapati Mbil sedang menyapu halaman kecil di depan rumahnya. Ia mengumpulkan daun-daun kering, memasukkannya ke dalam karung, lalu memindahkannya ke tempat yang jauh dari bangunan.

Saya menghampirinya.

“Untuk apa daun-daun itu dipindahkan?” tanya saya.

Mbil menjawab tanpa berhenti menyapu.

“Supaya tidak terbakar kalau ada yang membakar sampah.”

Saya memandangnya lama.

Ia tidak sedang membela diri. Tidak pula berusaha membuktikan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ia hanya sedang melakukan sesuatu yang menurutnya perlu dilakukan agar api tidak menjalar.

Sementara itu, orang-orang di kampung masih sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Mbil menyapu halaman.

Mbil memindahkan daun-daun kering.

Mbil memastikan api tidak mudah merambat.

Tidak ada yang memujinya. Tidak ada yang menganggap tindakannya sebagai tanda bahwa ia memahami bahaya. Tidak ada pula yang tertarik mengetahui mengapa ia melakukan itu.

Mungkin karena kebaikan yang dilakukan Mbil tidak cocok dengan cerita yang sudah telanjur mereka percaya.

Saya pun pulang.

Di rumah, saya memandang tumpukan sampah di samping kandang kambing. Saya segera memindahkannya ke tempat yang aman. Setelah itu, saya memeriksa pintu kandang dan memastikan tidak ada bara tersisa di sekitar rumah.

Saya tidak tahu siapa yang menyalakan api malam itu.

Saya tidak tahu siapa yang mengambil sabit saya.

Saya tidak tahu siapa yang merusak irigasi, memetik kelapa, atau mencuri ikan di sawah.

Tetapi sekarang saya tahu satu hal: orang yang tidak mengetahui kebenaran seharusnya berhati-hati ketika berbicara tentang kesalahan orang lain.

Sebab ada api yang membakar sampah, ada api yang membakar rumah, dan ada api yang membakar nama seseorang sampai tak tersisa apa-apa darinya.

Api yang terakhir itu tidak mengeluarkan asap.

Tidak menimbulkan suara pletak, pletok.

Tidak pula membuat orang berlari mengambil air.

Ia menyala di mulut orang-orang, tumbuh di dalam prasangka, lalu berpindah dari satu kepala ke kepala lain. Semakin banyak orang membicarakannya, semakin besar nyalanya.

Dan ketika semuanya habis terbakar, mereka masih merasa tidak melakukan apa-apa.

Mbil, kata mereka, orang gila.

Saya mulai berpikir, mungkin justru itulah satu-satunya hal yang benar-benar mereka yakini tanpa pernah memeriksanya.

Mbil mungkin memang berbeda. Mungkin pikirannya tidak selalu berjalan seperti pikiran orang kebanyakan. Mungkin ia melakukan hal-hal yang sulit dipahami. Tetapi setidaknya, ketika ia tidak tahu siapa yang menyalakan api, ia tidak berpura-pura tahu.

Sementara orang-orang yang merasa waras telah menjadikan ketidaktahuan sebagai kepastian, prasangka sebagai bukti, dan kerumunan sebagai pengadilan.

Malam itu, saya kembali mendengar suara pletak, pletok dari kejauhan.

Saya segera keluar rumah.

Ternyata hanya seorang tetangga yang membakar ranting kering. Api kecil menyala di halaman, sementara beberapa orang berdiri mengelilinginya.

Salah seorang dari mereka melihat saya, lalu tertawa.

“Tenang saja. Bukan Mbil yang membakar.”

Mereka tertawa bersama.

Saya tidak ikut tertawa.

Saya hanya memandangi api itu, lalu memandangi wajah mereka satu per satu.

Untuk pertama kalinya, saya merasa takut bukan kepada api yang bisa membakar rumah, melainkan kepada orang-orang yang begitu mudah menunjuk seseorang sebagai penyebab kebakaran, tanpa pernah bertanya siapa yang sebenarnya menyalakan api.

Dan di antara mereka, saya teringat Mbil, yang sedang menyapu halaman rumahnya sendiri, mengumpulkan daun-daun kering agar tak ada lagi yang terbakar.

Barangkali, di kampung ini, orang yang paling waras memang orang yang paling mereka anggap gila.

Sebab hanya Mbil yang tahu bahwa api harus dipadamkan sebelum menjalar.

Sedangkan yang lain masih sibuk mencari siapa yang bisa mereka bakar hidup-hidup dengan tuduhan.

Dan saya, yang semula mengira sedang menyaksikan kisah tentang seorang lelaki gila, akhirnya mengerti: yang paling menakutkan bukanlah ketika seorang manusia kehilangan akal sehatnya, melainkan ketika seluruh masyarakat kehilangan akal sehat bersama-sama, lalu menyebutnya kewarasan.
Aris Munandar, seorang petani tinggal di Magelang 
Share This Article
error: Content is protected !!