DMNETWORK.COM – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp17.796 pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Pelemahan mata uang nasional itu mulai menimbulkan tekanan serius terhadap sektor industri dan memicu kekhawatiran meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa bulan mendatang.
Di pasar spot, rupiah ditutup turun 53 poin atau sekitar 0,29 persen dibanding perdagangan sebelumnya. Tekanan eksternal akibat konflik geopolitik global disebut menjadi salah satu pemicu utama depresiasi mata uang Garuda.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai situasi global yang kembali memanas, terutama terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, membuat pelaku pasar cenderung mencari aset aman seperti dolar AS.
Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia yang saat ini masih menghadapi tantangan pemulihan ekonomi domestik.
Konflik AS-Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah muncul laporan bahwa militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap fasilitas peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di wilayah selatan Iran.
Washington menyebut operasi militer tersebut dilakukan sebagai langkah pertahanan diri. Namun, aksi terbaru itu justru memperbesar ketidakpastian pasar karena belum ada respons resmi yang jelas dari Teheran.
Padahal sebelumnya, pasar sempat merespons positif kabar mengenai peluang tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran, termasuk pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Situasi tersebut sempat menekan harga minyak dunia. Akan tetapi, ketidakjelasan perkembangan di lapangan membuat pasar kembali bergerak fluktuatif.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengisyaratkan adanya perkembangan dalam negosiasi nuklir dengan Iran. Trump mengklaim Iran bersedia menyerahkan sebagian cadangan uranium yang telah diperkaya, meski pemerintah Iran belum sepenuhnya membenarkan pernyataan tersebut.
Rupiah Melemah Jadi Beban Industri Nasional
Rupiah melemah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga mulai menekan aktivitas industri dalam negeri. Pelemahan kurs membuat biaya impor bahan baku meningkat tajam, terutama bagi sektor manufaktur yang masih bergantung pada komponen dari luar negeri.
Ibrahim mengatakan kondisi tersebut mulai memicu krisis kepercayaan di kalangan pelaku usaha. Banyak perusahaan menghadapi lonjakan biaya operasional di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.
Menurutnya, tekanan terbesar dialami industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor dan pasar ekspor. Kenaikan nilai dolar AS membuat ongkos produksi melonjak sehingga perusahaan harus melakukan efisiensi.
“Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan,” ujar Ibrahim.
Ancaman PHK Mulai Terlihat di Sejumlah Daerah
Rupiah melemah juga mulai berdampak pada ketenagakerjaan. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah perusahaan dilaporkan mengurangi jumlah pekerja hingga menghentikan operasional usaha akibat tekanan biaya produksi.
Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat. Penutupan tersebut menyebabkan sekitar 350 pekerja kehilangan pekerjaan.
Kondisi serupa terjadi di sektor otomotif. Perusahaan CV Asri di Sidoarjo, Jawa Timur, disebut telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan kendaraan.
Kenaikan harga kendaraan yang dipicu mahalnya komponen impor membuat permintaan pasar melemah. Situasi itu membuat industri otomotif harus menyesuaikan kapasitas produksi.
Tak hanya itu, sektor tekstil, garmen, dan alas kaki juga mulai menghadapi tekanan serius. Industri padat karya tersebut mengalami kenaikan biaya produksi di saat daya beli masyarakat menurun.
Potensi PHK Diprediksi Terus Bertambah
Ibrahim memperkirakan potensi PHK di sektor formal industri dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan mendatang apabila tekanan global belum mereda. Sementara itu, data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 15.425 pekerja terdampak PHK sepanjang Januari hingga April 2026.
Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat meningkat apabila nilai tukar rupiah belum menunjukkan pemulihan signifikan dan kondisi geopolitik dunia terus memburuk.
Ekonom menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memperkuat sektor industri nasional agar tidak semakin tertekan oleh gejolak global.
Selain menjaga cadangan devisa dan stabilitas pasar keuangan, pemerintah juga dinilai perlu memberikan stimulus bagi industri padat karya yang paling rentan terdampak pelemahan ekonomi.
Tanpa intervensi yang tepat, tekanan terhadap sektor industri dikhawatirkan memicu perlambatan ekonomi nasional sekaligus memperbesar angka pengangguran dalam waktu dekat.(*)