Ketua Yayasan Dharma Putra Banokeling, Ritam, turut berkeliling meninjau lima lokasi longsor dan sejumlah titik yang terdampak banjir Kali Winong.
BANYUMAS, DARMEDIANETWORK – Hujan yang berlangsung cukup lama menyebabkan banjir dan tanah longsor di wilayah masyarakat adat Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Bencana tersebut tidak hanya merusak lahan milik warga, tetapi juga memutus jaringan air bersih yang selama ini menjadi sumber kebutuhan rumah tangga masyarakat.
Sedikitnya lima titik tanah longsor terjadi di lahan milik warga yang berada di sekitar kawasan Hutan Adat Pohon Mundu. Pada saat bersamaan, luapan Kali Winong di kawasan Banokeling menghantam dan menghanyutkan sejumlah jaringan pipa paralon yang mengalirkan air bersih dari mata air pegunungan menuju rumah-rumah warga.
Hampir seluruh jaringan paralon di sejumlah jalur terdampak mengalami kerusakan. Pipa-pipa patah, terputus, bahkan sebagian terbawa arus banjir Kali Winong.
Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Puluhan warga terpaksa mengambil air bersih dari rumah tetangga untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama minum dan memasak nasi. Kondisi semakin sulit karena sebagian sumur milik warga juga kemasukan material tanah dan lumpur sehingga airnya berubah keruh dan tidak dapat digunakan.
Sejak Minggu (1/11/2026) hingga Senin (2/11/2026), masyarakat adat Banokeling terus bergotong royong membersihkan material longsor dan memperbaiki jaringan pipa air bersih yang rusak.
Ketua Yayasan Dharma Putra Banokeling, Ritam, turut berkeliling meninjau lima lokasi longsor dan sejumlah titik yang terdampak banjir Kali Winong. Dalam peninjauan tersebut, Ritam juga memberikan bantuan kepada warga yang masih bekerja bersama-sama memulihkan kondisi lingkungan dan memperbaiki saluran air.
Ritam mengatakan, kerja bakti masyarakat masih berlangsung karena kerusakan jaringan pipa menyebabkan pasokan air dari mata air di pegunungan terhenti ke sejumlah rumah warga.
“Dari kemarin sampai hari ini masyarakat masih terus bahu-membahu menyingkirkan sisa tanah longsor dan memperbaiki paralon yang patah dan terputus dari mata air di atas gunung,” kata Ritam.
Menurut dia, pemulihan jaringan air bersih menjadi salah satu pekerjaan mendesak. Selain memperbaiki pipa yang rusak akibat longsor, warga juga harus menelusuri jalur saluran yang dihantam banjir Kali Winong dan mengganti bagian pipa yang hanyut.
Ritam juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan hujan susulan yang dapat memicu longsor maupun banjir kembali.
Di tengah penanganan bencana, Ritam mengajak masyarakat melakukan introspeksi diri dan kembali menjaga nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur. Ia menyebut bencana kali ini secara tidak langsung berkaitan dengan sejumlah kejadian ganjil yang sebelumnya berlangsung di wilayah adat.
“Saatnya introspeksi diri, memperbaiki diri, untuk berbuat baik dan jangan melakukan hal-hal yang memang menjadi tabu atau dilarang oleh leluhur kita,” ujar Ritam.
Sementara itu, bencana hidrometeorologi juga melanda sejumlah wilayah lain di Kabupaten Banyumas. Hujan deras berkepanjangan menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa kecamatan, termasuk Jatilawang dan wilayah sekitarnya.
BPBD Kabupaten Banyumas sebelumnya melaporkan puluhan kejadian bencana pada akhir Oktober, meliputi banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan besarnya ancaman bencana hidrometeorologi ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan berlangsung dalam waktu lama.
Bagi masyarakat adat Banokeling, dampak bencana kali ini bukan hanya persoalan tanah longsor dan banjir. Rusaknya jaringan air bersih serta tercemarnya sejumlah sumur membuat kebutuhan dasar rumah tangga ikut terganggu.
Di tengah keterbatasan tersebut, gotong royong menjadi kekuatan masyarakat untuk memulihkan akses air bersih. Warga masih bekerja bersama memperbaiki jaringan pipa dari mata air pegunungan agar kebutuhan air bersih dapat kembali terpenuhi.
Editor: Aris Munandar