Jangan tertawa. Ini serius. Kemarin kita baru bicara tentang kemungkinan mengadakan gerakan
DARMEDIANETWORK | Di kampungku, orang mengenal penyadap sebagai pekerjaan yang berhubungan dengan pohon. Ada penyadap karet, penyadap nira kelapa, dan penyadap aren. Belakangan orang juga mengenal penyadap kolang-kaling, meskipun sebenarnya yang disadap bukan buahnya, melainkan pohon aren tempat buah itu bergantung.
Penyadap biasanya berangkat pagi-pagi. Membawa pisau, ember, atau beberapa potong bambu. Mereka bekerja dalam diam. Tidak banyak bicara. Sebab kalau terlalu banyak bicara, pekerjaan bisa terbengkalai. Hasil sadapan ditampung, dikumpulkan, lalu diolah menjadi sesuatu yang bisa dijual.
Tetapi zaman berubah.
Sekarang ada jenis penyadap baru. Tidak perlu naik pohon, tidak perlu membawa pisau, tidak perlu menggotong ember. Cukup duduk di warung kopi, menghadiri pertemuan, bertamu ke rumah orang, atau pura-pura ikut ngobrol.
Namanya penyadap omongan.
Orang kampung menyebutnya nguping.
Bedanya, penyadap nira mengambil air dari pohon, sedangkan penyadap omongan mengambil sesuatu dari kepala orang lain. Bahan bakunya percakapan. Alat produksinya telinga. Hasil akhirnya bisa berupa analisis, strategi, bahkan gerakan besar yang membuat orang-orang yang sedang diuping merasa seperti orang kehilangan sandal di masjid.
“Heran, padahal kita hanya berbicara bertiga, tapi kok mereka bisa mendengar?”
“Edan.”
“Semua gerakan kita diketahui. Bahkan obrolan mau ngising di mana saja mereka tahu.”
“Kurang ajar.”
Percakapan semacam itu belakangan sering terdengar. Biasanya berlangsung setelah seseorang mengetahui bahwa sesuatu yang belum pernah diumumkan ternyata sudah lebih dahulu diketahui orang lain.
Padahal belum ada keputusan.
Belum ada rapat.
Belum ada surat.
Bahkan belum ada kesepakatan siapa yang akan membayar kopi.
Tahu-tahu, di tempat lain sudah ada gerakan. Orang-orang bergerak serempak. Membawa isu yang tepat, menyasar titik yang tepat, dan muncul pada waktu yang tepat.
Yang diuping masih sibuk mengatur kalimat, yang menguping sudah mengatur langkah.
Ada yang menyebutnya kecerdasan membaca situasi. Ada yang menyebutnya strategi. Ada pula yang menyebutnya ilmu sak durunge winarah.
Aku sendiri tidak tahu. Sebab sak durunge winarah itu biasanya hanya dimiliki orang-orang tertentu dalam cerita pewayangan. Tetapi sekarang rupanya sudah bisa dipelajari sambil ngopi.
Suatu sore aku bertemu seorang teman di warung.
Wajahnya kusut. Kopinya tidak diminum. Rokoknya tinggal separuh.
“Kamu tahu siapa yang menguping kita?” tanyanya.
“Siapa?”
“Itu masalahnya. Kalau tahu, gampang. Ini tidak tahu.”
“Memangnya kamu sedang membicarakan apa?”
“Macam-macam. Rencana pertemuan, persoalan organisasi, siapa yang akan diajak, siapa yang tidak perlu diajak, bahkan rencana makan setelah rapat.”
“Lalu?”
“Semua sudah diketahui.”
Aku tertawa.
Ia tidak ikut tertawa.
“Jangan tertawa. Ini serius. Kemarin kita baru bicara tentang kemungkinan mengadakan gerakan. Hari ini mereka sudah bergerak. Kita baru merancang kalimat, mereka sudah menyebarkan kesimpulan.”
Aku menyeruput kopi.
“Barangkali mereka punya telinga panjang.”
“Kalau telinganya panjang, mestinya kelihatan.”
“Belum tentu. Sekarang telinga bisa disembunyikan di balik kesopanan.”
Ia memandangku lama.
“Kamu jangan-jangan juga penyadap?”
Aku menggeleng.
“Aku cuma petani. Kalau menyadap, paling-paling nira.”
“Jangan bohong. Petani sekarang juga bisa jadi penyadap.”
Aku tertawa lagi. Kali ini ia ikut tertawa, tetapi hanya sebentar.
Yang menarik dari penyadapan omongan ini adalah hasilnya tidak selalu berupa berita. Kadang-kadang justru menjadi senjata.
Seseorang mendengar keluhan orang lain, kemudian mengolahnya menjadi isu. Seseorang mendengar rencana kecil, kemudian membesarkannya menjadi gerakan. Seseorang mendengar percakapan yang belum tentu merupakan keputusan, lalu menyebarkannya seolah-olah keputusan itu sudah ditandatangani dan disaksikan seluruh warga.
Yang lebih hebat, penyadap tidak harus ikut rapat.
Tidak perlu diundang.
Tidak perlu mengenal semua orang.
Bahkan tidak perlu mengetahui persoalan secara utuh.
Cukup mengumpulkan potongan-potongan percakapan, menyusunnya, kemudian membuat kesimpulan sendiri. Kadang kesimpulannya benar. Kadang meleset. Tetapi kalau gerakannya sudah terlanjur masif, orang yang menjadi sumber percakapan tidak punya banyak kesempatan untuk membantah.
Sebab orang ramai lebih suka mendengar kesimpulan daripada memeriksa bagaimana kesimpulan itu dibuat.
Di sinilah penyadap menemukan pasar yang sangat luas.
Orang yang tidak punya informasi bisa membeli hasil sadapan. Orang yang punya kepentingan bisa memanfaatkan hasil sadapan. Orang yang sedang berjuang bisa menggunakannya untuk menyerang lawan. Bahkan orang yang tidak punya urusan apa-apa bisa ikut bergerak karena merasa sudah mengetahui sesuatu.
Maka jangan heran kalau sebuah percakapan di ruang kecil tiba-tiba menjadi persoalan besar di ruang publik.
Aku pernah bertanya kepada seorang penyadap.
“Apakah kamu tidak merasa bersalah mengambil omongan orang?”
Ia tersenyum.
“Aku tidak mengambil. Mereka sendiri yang bicara.”
“Tapi mereka bicara bukan untuk disebarkan.”
“Kalau begitu, jangan bicara.”
Aku terdiam.
Jawabannya sederhana, tetapi berbahaya.
Sebab kalau semua orang takut berbicara karena takut didengar, lama-lama dunia akan dipenuhi orang yang hanya berani mengangguk. Tidak ada diskusi, tidak ada kritik, tidak ada gagasan. Semua orang akan menyimpan pikirannya sendiri, sementara para penyadap menjadi pemilik tunggal informasi.
“Jadi, apa pekerjaanmu sebenarnya?” tanyaku.
“Menyadap.”
“Untuk siapa?”
“Untuk kepentingan.”
“Kepentingan siapa?”
Ia tertawa.
“Itulah rahasianya.”
Aku pulang dengan pikiran yang semakin ruwet.
Di jalan aku melihat seorang penyadap nira sedang menurunkan bambu dari pohon kelapa. Air nira menetes perlahan. Ia mengerjakannya dengan hati-hati. Tidak mengambil lebih dari yang bisa diberikan pohon. Tidak pula menyebarkan hasil sadapannya kepada orang yang tidak berkepentingan.
Aku berhenti sebentar.
“Pak, hasil sadapan hari ini banyak?”
“Biasa saja.”
“Kalau menyadap omongan orang, bisa lebih banyak?”
Orang itu tertawa.
“Kalau menyadap nira, pohonnya jelas. Kalau menyadap omongan, kita tidak pernah tahu pohon mana yang sedang kita panjat.”
Aku mengangguk.
Barangkali benar.
Pohon nira bisa diketahui pemiliknya. Tetapi pohon percakapan tidak punya pagar. Akarnya bisa tumbuh di mana saja. Daunnya bisa menutupi siapa saja.
Dan penyadapnya bisa berada di antara kita.
Bahkan mungkin sedang duduk di sebelah kita.
Mendengarkan.
Tersenyum.
Mengangguk.
Lalu pulang membawa hasil sadapan.
Besok pagi, ketika kita belum sempat bangun, ia mungkin sudah bergerak.
Sementara kita masih sibuk mencari tahu siapa yang membocorkan percakapan, ia sudah sibuk menyadap percakapan berikutnya.
Begitulah zaman sekarang.
Penyadap nira menghasilkan gula.
Penyadap karet menghasilkan getah.
Penyadap omongan menghasilkan gerakan.
Dan yang paling mengerikan, kadang-kadang orang yang disadap baru tahu dirinya sedang menjadi bahan baku setelah produknya beredar di mana-mana.
Ternyata, tidak semua orang yang diam itu mendengarkan. Tetapi semua orang yang mendengarkan belum tentu sedang diam.
Aris Munandar, seorang petani tinggal di Magelang