Hidup, untuk Apa?

3 Min Read
Ilustrasi gambar

Kita ingin dihormati, tetapi lupa menghormati

Sebenarnya, hidup itu apa?

Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Lalu menghabiskan sebagian besar umur untuk mengumpulkan sesuatu. Uang, jabatan, kekuasaan, kehormatan, bahkan pengakuan dari orang lain. Anehnya, setelah semua terkumpul, kita masih sering merasa ada sesuatu yang hilang.

Manusia memang makhluk yang pandai mengejar, tetapi tidak selalu pandai memahami apa yang sedang dikejarnya.

Ketika kecil ingin cepat dewasa. Setelah dewasa ingin kembali muda. Ketika miskin mengejar kekayaan. Ketika berkuasa ingin mempertahankan kekuasaan. Bahkan ketika sudah memiliki segalanya, masih saja merasa kurang. Seolah-olah hidup adalah perlombaan yang garis finisnya terus dipindahkan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Kita bekerja untuk hidup, tetapi sering kali justru kehilangan kehidupan karena pekerjaan. Kita mencari uang untuk membeli kebahagiaan, lalu mengorbankan waktu bersama orang-orang yang sebenarnya menjadi sumber kebahagiaan itu.

Kita ingin dihormati, tetapi lupa menghormati. Ingin dimengerti, tetapi enggan memahami. Ingin ditolong, tetapi kadang merasa terlalu tinggi untuk menolong.

Lalu, apa sebenarnya tujuan hidup?

Mungkin hidup bukan soal berapa lama kita bernapas, berapa banyak harta yang kita tinggalkan, atau seberapa panjang nama kita disebut orang. Sebab, sejarah penuh dengan nama orang besar yang akhirnya hanya menjadi catatan kaki.

Hidup barangkali adalah kesempatan untuk mengalami, memahami, dan memberi arti. Mengalami berbagai peristiwa, memahami diri sendiri dan sesama, kemudian memberi manfaat selama masih diberi kesempatan bernapas.

- Iklan -
Ad image

Pada usia tertentu, manusia semestinya mulai mengubah pertanyaannya. Bukan lagi berapa banyak yang bisa saya miliki, melainkan berapa banyak yang bisa saya berikan.

Saya teringat pohon di tepi sawah. Ia tidak pernah meminta penghormatan kepada orang yang berteduh di bawahnya. Tidak pernah memasang papan pengumuman bahwa buahnya telah dinikmati burung, manusia, dan makhluk lainnya. Ia hanya tumbuh, memberi, lalu suatu hari mati.

Barangkali manusia perlu belajar dari pohon. Tidak semua kebaikan membutuhkan panggung. Tidak semua pertolongan harus dicatat sebagai utang. Dan tidak semua orang yang berjasa harus sibuk mengingatkan orang lain tentang jasanya.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa penting kita merasa menjadi seseorang. Melainkan seberapa berarti keberadaan kita bagi kehidupan yang lain.

Saya semakin menyadari, hidup bukan semata-mata tentang bagaimana saya memanfaatkan dunia, tetapi juga tentang bagaimana dunia, manusia, dan makhluk lain dapat memanfaatkan keberadaan saya.

Sebab, kalau selama hidup kita hanya sibuk mengambil, lalu apa bedanya kita dengan parasit yang pandai berbicara tentang kehormatan?

Barangkali ukuran paling jujur dari kehidupan bukanlah berapa banyak orang yang berlutut di hadapan kita, melainkan berapa banyak manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk di muka bumi yang pernah merasakan kebaikan karena kita pernah hidup.


Aris Munandar, seorang petani tinggal di Magelang 

Share This Article
error: Content is protected !!