Iran Tutup Selat Hormuz, AS Dihadapkan Tujuh Syarat: Dunia Terancam Krisis Energi

3 Min Read
Selat hormuz, yang masih dikuasai Iran. AS sudah dengan berbagai cara untuk membukanya. Tetapi hasilnya? (Foto: ilustrasi)

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

TEHERAN, DMNETWORK – Iran menahan pembukaan kembali Selat Hormuz dan mengajukan tujuh syarat kepada Amerika Serikat (AS). Jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi pasokan energi dunia itu belum sepenuhnya kembali normal, sementara upaya diplomasi untuk mengatasi kebuntuan menghadapi hambatan.

Kabar tersebut disampaikan kantor berita Iran, Tasnim, dan dikutip ANTARA pada Minggu (13/9/2026). Sumber yang mengetahui persoalan itu menyebut Iran telah menyampaikan tujuh syarat melalui mediator kepada Washington.

“Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai tujuh syarat yang telah disetujui pejabat tinggi Iran tersebut dipenuhi,” demikian keterangan sumber yang dikutip Tasnim.

Kesepakatan Iran-Oman Belum Buka Selat

Sebelumnya, Iran dan Oman dilaporkan telah mencapai kesepahaman mengenai pengaturan rute keluar-masuk Selat Hormuz. Namun, kesepahaman tersebut tidak serta-merta berarti jalur pelayaran dibuka kembali.

- Iklan -
Ad imageAd image

Laporan Reuters pada 12 September 2026 menyebut kesepahaman Iran-Oman belum mencakup pembukaan segera Selat Hormuz. Pembukaan masih bergantung pada pemenuhan tuntutan Iran terhadap Amerika Serikat.

Rencana pertemuan Iran, Oman, Irak, dan negara-negara Teluk Persia untuk membahas jalur aman pelayaran juga menghadapi penundaan. Reuters melaporkan pertemuan yang sedianya digelar di Oman ditunda karena persoalan konsensus regional.

Jalur Energi Dunia dalam Tekanan

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi memengaruhi pasokan minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair ke pasar internasional.

Reuters melaporkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada akhir pekan masih jauh di bawah rata-rata 10 hari sebelumnya. Hanya empat kapal keluar dan 10 kapal masuk yang tercatat, dibandingkan rata-rata 14 transit harian. Sebagian kapal mungkin tidak terdeteksi karena transponder tidak aktif.

Kondisi tersebut memperpanjang ketidakpastian di pasar energi global. Reuters juga melaporkan harga minyak mentah Brent telah menembus lebih dari 100 dolar AS per barel dalam perkembangan krisis yang berkepanjangan.

- Iklan -
Ad image

Washington Prioritaskan Isu Nuklir

Di tengah kebuntuan pembukaan Selat Hormuz, Amerika Serikat disebut lebih memprioritaskan pembicaraan mengenai program nuklir Iran.

Laporan ANTARA pada Senin (14/9/2026) menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump memberi tahu negara-negara Teluk Persia bahwa pembicaraan mendatang dengan Iran akan berfokus pada program nuklir, bukan pembukaan kembali pelayaran melalui Selat Hormuz.

Perbedaan prioritas tersebut menambah rumit upaya diplomasi.

Tujuh Syarat Belum Diungkap Lengkap

Hingga laporan ini disusun, daftar lengkap tujuh syarat Iran yang disebut telah disampaikan kepada AS belum dipublikasikan secara utuh melalui sumber primer yang dapat diverifikasi.

Karena itu, informasi mengenai tujuh syarat tersebut perlu diperlakukan sebagai laporan yang bersumber dari Tasnim, bukan sebagai dokumen tuntutan resmi yang seluruh isinya telah diketahui publik.

Yang telah jelas, Iran mengaitkan pembukaan Selat Hormuz dengan pemenuhan tuntutan kepada Amerika Serikat.

Dengan posisi tersebut, jalur pelayaran strategis itu masih menjadi titik tekan dalam konflik Iran-AS. Ketidakpastian pembukaan selat berpotensi terus memengaruhi perdagangan, biaya transportasi, dan pasokan energi dunia. (Rist)

Share This Article
error: Content is protected !!