pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, bantuan pemerintah, maupun permodalan.
BATU, DMNETWORK – Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia resmi membuka Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tani Merdeka Indonesia Angkatan III bagi peserta dari Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu.
Sebanyak 165 peserta yang terdiri atas kader organisasi, petani muda, serta penggerak sektor pertanian dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur dan DIY mengikuti pelatihan tersebut.
Selama diklat, peserta mendapatkan pembekalan mengenai kepemimpinan organisasi, penguatan kelembagaan petani, pengembangan usaha tani, penerapan teknologi pertanian, hingga pemahaman terhadap kebijakan pemerintah di sektor pertanian.
Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, mengatakan diklat menjadi bagian dari upaya organisasi dalam mencetak sumber daya manusia pertanian yang mampu menjawab tantangan sektor pertanian di masa depan.
Menurut Don, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, bantuan pemerintah, maupun permodalan. Sektor pertanian juga membutuhkan kader-kader yang memiliki integritas, kapasitas kepemimpinan, dan komitmen untuk mendampingi petani.
“Petani harus menjadi pelaku utama pembangunan bangsa.”
Karena itu, kader Tani Merdeka harus hadir sebagai penggerak perubahan, mampu mendampingi petani, menguasai ilmu pengetahuan, serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Don Muzakir dalam sambutannya.
Ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan setiap materi yang diberikan selama pelatihan sebagai bekal untuk diterapkan di daerah masing-masing.
“Jangan berhenti belajar setelah diklat ini selesai. Bangun jejaring, saling berbagi pengalaman, dan terus hadir di tengah petani. Jadilah solusi atas berbagai persoalan pertanian di lapangan dan buktikan bahwa petani Indonesia mampu maju dengan ilmu pengetahuan dan inovasi,” katanya.
Don menegaskan, regenerasi petani menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia. Karena itu, Tani Merdeka Indonesia berkomitmen mencetak generasi petani yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus memiliki kemampuan membangun organisasi dan usaha tani yang berkelanjutan.
“Kalian yang hadir di ruangan ini adalah calon pemimpin pertanian Indonesia. Jadilah petani yang berintegritas, berkarakter, dan mampu membawa perubahan bagi masyarakat di daerah masing-masing,” ujarnya.
Melalui Diklat Angkatan III ini, Tani Merdeka Indonesia berharap para peserta dapat kembali ke daerah masing-masing dengan membawa pengetahuan, jejaring yang lebih luas, serta semangat baru untuk memperkuat organisasi dan meningkatkan kesejahteraan petani.***