Menanam Sosiologi di Jempol Anak DKV

6 Min Read
Ilustrasi gambar: sawah di tengah kota dan kotak pelangi (foto: rist)

Oleh: Nur Cahya (Guru DKV SMK Muhammadiyah Gunung Putri)

Ada saat ketika sebuah wilayah berhenti menjadi bentang alam, lalu perlahan berubah menjadi bahasa. Gunung Putri sedang mengalami perubahan itu. Sawah tidak lagi dibaca sebagai ruang tempat air, lumpur, dan benih saling menyempurnakan, melainkan sebagai angka dalam proposal investasi. Pohon kehilangan namanya sebagai makhluk yang berakar, lalu memperoleh identitas baru sebagai hambatan pembangunan. Bahkan sungai, yang dahulu menjadi penanda musim dan arah pulang, kini lebih sering hadir sebagai persoalan teknis yang dapat diselesaikan melalui laporan laboratorium.

Yang menghilang sesungguhnya bukan hanya lanskap. Yang perlahan lenyap ialah cara kita memandangnya.

Di ruang kelas Desain Komunikasi Visual, perubahan semacam itu tidak selalu tampak. Yang tampak adalah layar monitor, perangkat lunak desain, kumpulan warna, tipografi, dan tugas membuat identitas visual. Pendidikan kejuruan memang menuntut keterampilan. Seorang murid harus menguasai perangkat yang kelak membawanya memasuki dunia kerja. Namun keterampilan, bila dipisahkan dari kemampuan membaca kenyataan, akan menjelma menjadi kecakapan yang kehilangan arah.

- Iklan -
Ad imageAd image

Saya mulai bertanya kepada diri sendiri: apa arti mengajarkan desain kepada anak-anak jika mereka tidak pernah diajak melihat dunia yang sedang mereka gambarkan? Apa arti estetika bila ia hanya menjadi pelayan pasar, sementara lingkungan tempat mereka hidup diam-diam sedang kehilangan napasnya?

Pertanyaan itu membawa kami keluar kelas.

Kami memandang Gunung Putri bukan sebagai latar belakang kehidupan, melainkan sebagai teks yang dapat dibaca. Ruko-ruko yang berdiri rapat, kawasan industri yang terus bertambah, perumahan yang menggantikan sawah, hingga Sungai Cileungsi yang berubah warna, semuanya membentuk semacam narasi mengenai hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Di titik inilah pelajaran desain bertemu dengan sosiologi.

Saya memperkenalkan kepada mereka gagasan tentang keretakan metabolik, istilah yang dikembangkan Jason W. Moore untuk menjelaskan retaknya hubungan timbal balik antara manusia dan alam akibat logika kapitalisme modern. Alam tidak lagi dipahami sebagai mitra kehidupan, melainkan sebagai cadangan sumber daya yang harus terus diekstraksi. Tanah dipaksa menghasilkan nilai ekonomi tanpa kesempatan memulihkan dirinya. Air diperlakukan sekadar saluran yang dapat menerima apa saja. Hubungan yang semula bersifat ekologis berubah menjadi hubungan transaksional.

- Iklan -
Ad image

Konsep itu tidak saya ajarkan sebagai hafalan. Saya meminta mereka menerjemahkannya ke dalam gambar.

Saya ingin mereka membayangkan tanah yang kehilangan pori-porinya karena beton. Saya ingin mereka menggambar hujan yang tidak lagi menemukan jalan untuk meresap ke bumi. Saya ingin mereka menghadirkan retakan itu bukan sebagai ilustrasi bencana, melainkan sebagai metafora tentang putusnya percakapan antara manusia dan alam.

Desain, pada saat seperti itu, berhenti menjadi pekerjaan dekoratif. Ia mulai bekerja sebagai cara berpikir.

Lalu kami berbicara mengenai Sungai Cileungsi.

Sungai selalu memiliki dua wajah. Yang pertama adalah sungai sebagaimana adanya: air yang mengalir, kehidupan yang bertaut di sekitarnya, dan ingatan kolektif masyarakat. Yang kedua adalah sungai sebagaimana dipresentasikan melalui bahasa pembangunan. Dalam brosur pemasaran, ia tampil sebagai panorama yang hijau. Dalam laporan resmi, ia hadir sebagai indikator yang dapat diukur. Dalam iklan properti, ia menjadi ornamen visual yang menyenangkan mata.

Jean Baudrillard menyebut gejala semacam itu sebagai simulakra: ketika representasi tidak lagi merujuk kepada kenyataan, melainkan menggantikannya.

Murid-murid DKV segera memahami paradoks itu. Mereka kemudian membuat poster-poster yang meminjam bahasa iklan perumahan, tetapi diam-diam menyisipkan pipa limbah, air yang menghitam, dan lanskap yang retak. Mereka tidak sedang membuat propaganda. Mereka sedang memperlihatkan bagaimana citra dapat membongkar citra yang lain.

Barangkali di situlah pendidikan memperoleh makna yang paling sederhana.

Sekolah bukan sekadar tempat menghasilkan tenaga kerja yang cekatan memenuhi kebutuhan industri kreatif. Sekolah juga semestinya melahirkan manusia yang sanggup mempertanyakan dunia yang sedang mereka layani. Sebab desain yang kehilangan kesadaran sosial hanya akan menjadi alat reproduksi berbagai ilusi baru.

Martin Heidegger pernah mengingatkan bahwa modernitas cenderung memandang segala sesuatu sebagai standing reserve, sebagai persediaan yang siap digunakan. Cara pandang semacam itu bukan hanya mengubah hubungan manusia dengan alam, tetapi juga mengubah manusia terhadap dirinya sendiri. Kita perlahan belajar melihat segala sesuatu berdasarkan manfaat ekonominya, bukan berdasarkan keberadaannya.

Karena itulah saya ingin anak-anak DKV memiliki lebih dari sekadar kemampuan mengolah bentuk.

Saya ingin mereka memiliki kepekaan membaca tanda.

Mereka mungkin tidak turun ke jalan membawa pengeras suara. Mereka mungkin tidak berdiri di depan gedung pemerintahan. Namun mereka dapat menyusun infografis tentang pencemaran Sungai Cileungsi, merancang poster yang menggugat cara pembangunan memperlakukan ruang hidup, atau menciptakan bahasa visual yang membuat orang berhenti sejenak sebelum kembali menganggap kerusakan lingkungan sebagai harga yang wajar bagi kemajuan.

Pada akhirnya, desain bukan hanya soal membuat sesuatu tampak indah.

Desain adalah cara mengatur perhatian.

Dan barangkali, pada zaman ketika begitu banyak hal berlalu tanpa benar-benar dilihat, kemampuan mengarahkan perhatian itulah bentuk paling sunyi dari sebuah perlawanan.

Gunung Putri, Bogor, 20 Juli 2026

Share This Article
error: Content is protected !!