Menelusuri Anomali Pangan di Pasar Magelang: Saat Dolar Melonjak, Harga Tempe dan Teri Tetap Bergeming

3 Min Read
Tidak ada lonjakan yang berarti di pasar tradisional Magelang saat dollar AS melambung tinggi

MAGELANG, DMNETWORK — Di tengah sentimen negatif global dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus menekan makroekonomi nasional, sebuah anomali ekonomi justru terjadi di tingkat akar rumput. 

Tim lapangan mencoba menelusuri realitas harga pangan di pasar tradisional kawasan Magelang, Jawa Tengah, pada Minggu (24/5/2026) pagi. 

- Iklan -
Ad imageAd image

Hasilnya mengejutkan: harga sejumlah komoditas pangan pokok didapati stabil, bahkan sama dengan harga komoditas pada empat hingga lima tahun lalu.

Ketahanan Harga Komoditas Kering dan Bumbu
Pemantauan pertama dilakukan di lapak pedagang ikan asin dan laut kering. Komoditas ikan teri Medan, yang kerap menjadi indikator pangan praktis masyarakat, dijual dengan harga stabil Rp 10.000 per ons. 

Berdasarkan pengakuan sejumlah konsumen yang biasa membeli komoditas ini, nominal tersebut tidak mengalami perubahan signifikan dalam setengah dekade terakhir.

- Iklan -
Ad image

Beralih ke sektor bumbu dapur (bumbon), dinamika harga terlihat pada komoditas bawang.

Saat ini, bawang merah mengalami tren kenaikan harga di atas bawang putih. Di pasar setempat, bawang merah dibanderol dengan harga Rp 14.000 per seperempat kilogram (Rp 56.000/kg), sementara bawang putih terpantau lebih rendah di angka Rp 9.000 per seperempat kilogram (Rp 36.000/kg). 

Kendati ada selisih harga yang cukup lebar, daya beli masyarakat terhadap dua bumbu utama ini tetap tinggi karena sifatnya yang krusial untuk konsumsi harian.

Untuk sektor sayuran segar, khususnya komoditas hortikultura seperti cabai, harga di tingkat pedagang eceran pasar Magelang tergolong sangat rendah. 

Cabai rawit dan cabai keriting dapat diperoleh hanya dengan harga Rp 3.000 per ons, sebuah angka yang dinilai sangat ekonomis di tengah isu kenaikan biaya logistik nasional.

“Sihir” Tempe Magelang dan Realitas Narasi Politik
Temuan paling menarik dalam investigasi lapangan ini ada pada komoditas tempe. Komparasi ukuran dan harga menunjukkan disparitas yang mencolok dengan wilayah metropolitan seperti Jakarta. 

Di Magelang, satu batang tempe dengan dimensi volume premium—sekitar 4 cm x 6 cm x 30 cm—hanya dihargai Rp 8.000. Secara matematis, dengan ukuran sebesar itu di wilayah urban, harga perkiraan semestinya telah mencapai Rp 15.000 per batang.

Stabilnya harga-harga di pasar domestik pedesaan ini seolah mengonfirmasi kebenaran dari pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang sempat memicu polemik di media sosial. 

Sebelumnya, pernyataan presiden terkait “orang kampung tidak menggunakan dolar saat bertransaksi di warung” menuai kritik tajam dari netizen yang mengkhawatirkan inflasi akibat pelemahan rupiah.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya “sekat pemisah” atau buffer ekonomi yang kuat di tingkat pedesaan.

Ekonomi mikro di pasar tradisional Magelang membuktikan bahwa rantai pasok lokal yang mandiri mampu meredam guncangan sentimen ekonomi global.

Fenomena ini tidak hanya menjaga isi dompet masyarakat lapis bawah tetap aman, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa optimisme dan nasionalisme ekonomi di tingkat tapak. (Rist)

Share This Article