Harga Tetap Murah di Pasar Desa, Narasi “Dollar” Tak Selalu Menyentuh Perut Rakyat

3 Min Read
Papan nama itu masih dengan bandrol 10 ribu dan 8 ribu satu porsi di tengah nilai tukar rupiah terhadap dollar melambung tinggi

MAGELANG, DMNETWORK — Hiruk-pikuk media sosial beberapa pekan terakhir dipenuhi keluhan soal melemahnya rupiah terhadap dollar AS. 

Grafik ekonomi berseliweran di layar ponsel, disusul kecemasan tentang harga kebutuhan pokok yang disebut-sebut makin sulit dijangkau. Namun, suasana berbeda justru terlihat di pasar tradisional kawasan pedesaan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Minggu (24/5/2026) pagi, aktivitas jual beli di Pasar Sraten, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berjalan seperti biasa. Pedagang sayur, penjual ikan asin, penjual bumbu dapur, hingga lapak jajanan pasar tetap ramai dipadati warga.

Setelah berkeliling membeli kebutuhan rumah tangga, rasa lapar membawa langkah menuju sebuah warung makan Padang sederhana di sekitar pasar. 

Di papan menu yang mulai memudar warnanya itu masih tertulis harga lama: Rp10.000 untuk paket nasi dengan lauk, bahkan Rp8.000 jika hanya memakai telur dan sayur Padang.

- Iklan -
Ad image

Yang menarik, harga tersebut nyaris tidak berubah sejak dua tahun terakhir saat warung itu mulai buka.

Padahal dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dollar mengalami fluktuasi cukup tajam dan menjadi bahan perdebatan nasional. 

Namun di meja-meja kayu warung kecil itu, pembeli tetap bisa makan dengan porsi besar, nasi bebas tambah, sambal ijo melimpah, serta kuah gulai yang tetap pekat seperti biasanya.

“Yang dibatasi hanya lauknya. Ayam atau lele satu saja. Kalau tambah baru harganya ikut naik,” ujar salah seorang pembeli sambil tertawa kecil.

Fenomena itu seperti menjadi potret kecil dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya sempat menyatakan bahwa masyarakat desa tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak dollar dalam kehidupan sehari-hari.

Pernyataan tersebut sempat memunculkan perdebatan di ruang publik. Sebagian menganggap ucapan itu terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi nasional. 

Namun di banyak pasar tradisional pedesaan, realitas yang ditemui memang menunjukkan adanya mekanisme ekonomi lokal yang bekerja dengan logika berbeda dibanding pasar modern atau sektor yang bergantung pada impor.

Sebagian besar bahan pangan di pasar desa berasal dari rantai distribusi pendek. Sayur mayur dipasok petani sekitar, cabai dari lereng pegunungan, telur dari peternak lokal, hingga lauk pauk yang diproduksi skala rumahan. Perputaran ekonomi berlangsung dalam radius yang relatif dekat.

Karena itu, perubahan kurs dollar tidak otomatis langsung mengubah harga sepiring nasi Padang di pinggir pasar tradisional.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pasar-pasar desa justru memperlihatkan daya tahan tersendiri. Ada semacam ekonomi akar rumput yang bergerak lebih tenang, tidak terlalu gaduh oleh fluktuasi bursa, tetapi tetap menjaga denyut kebutuhan harian masyarakat.

Asap gulai yang mengepul dari dapur warung kecil di Pasar Sraten pagi itu seolah menjadi penanda sederhana: di lapisan bawah kehidupan rakyat, stabilitas kadang tidak dibaca lewat grafik, melainkan lewat satu pertanyaan paling mendasar, “Hari ini masih bisa makan kenyang atau tidak?” (rist)

Share This Article