Iblis merasa kurang dihargai. Kurang tinggi. Kurang mulia. Kurang istimewa.
Lalu dari rasa kurang itu tumbuh kesombongan. Dan dari kesombongan lahir pembangkangan.
DMNETWORK – Ada orang yang miskin karena tidak punya. Ada yang lebih celaka: miskin karena tidak pernah merasa punya.
Yang kedua ini bisa mempunyai rumah, tetapi masih menginginkan rumah orang lain. Bisa mempunyai sawah, tetapi masih melirik sawah tetangga. Bisa mempunyai jabatan, tetapi masih merasa kurang kuasa. Bisa mempunyai rekening yang sulit dihabiskan sampai tujuh turunan, tetapi tangannya masih saja sibuk mencari apa yang bisa diambil.
Inilah yang saya sebut mental kere. Kere bukan soal isi dompet. Kere adalah soal isi kepala dan isi hati.
Sebab ada orang yang makan nasi dengan lauk sederhana, tetapi hidupnya penuh syukur. Ada pula orang yang makan di meja mewah, tetapi jiwanya kelaparan. Yang satu tahu kapan cukup. Yang lain, sekalipun sudah memperoleh separuh dunia, masih merasa separuh yang lain adalah haknya.
Orang Jawa mempunyai ungkapan yang tidak panjang-panjang amat, tetapi tepat menghantam sasaran: dikasih ati masih ngerogoh rempela.
Sudah diberi hati, masih menggerogoti rempela. Sudah diberi bagian, mengambil bagian orang. Sudah diberi kepercayaan, menjual kepercayaan. Sudah diberi kekuasaan, mempergunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Sudah diberi hidup, masih ingin memiliki hidup orang lain.
Kalau begitu, yang lapar sebenarnya siapa? Perut? Atau hati?
Barangkali perut manusia memang mempunyai batas. Hati manusialah yang kadang-kadang tidak.
Dan penyakit itu ternyata bukan penyakit baru. Ia sudah tua sekali. Purba. Sangat purba.
Bahkan kalau kita percaya pada kisah awal manusia dalam Al-Qur’an, penyakit itu sudah tampak pada awal drama manusia, ketika Adam diciptakan.
Allah menciptakan Adam dari tanah. Lalu ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak.
Alasannya sederhana, tetapi justru di situlah letak kebodohannya:
Aku lebih baik daripada dia. Aku diciptakan dari api, sedangkan dia dari tanah. Selesai.
Iblis membandingkan bahan penciptaan, lalu merasa berhak menentukan siapa yang lebih mulia.
Ia melihat tanah sebagai sesuatu yang rendah dan api sebagai sesuatu yang tinggi. Ia melihat asal-usul, tetapi gagal melihat hakikat. Ia melihat materi, tetapi tidak melihat kehendak Tuhan. Ia sibuk menghitung dirinya sendiri, lalu lupa bahwa yang menciptakannya adalah Tuhan.
Bukankah itu juga bentuk mental kere?
Mental kere selalu sibuk menghitung apa yang kurang, sampai lupa melihat apa yang sudah diberikan.
Iblis merasa kurang dihargai. Kurang tinggi. Kurang mulia. Kurang istimewa.
Lalu dari rasa kurang itu tumbuh kesombongan. Dan dari kesombongan lahir pembangkangan.
Menariknya, Iblis bukan bodoh karena tidak mempunyai pengetahuan. Ia bodoh karena pengetahuannya tidak membuatnya rendah hati.
Ia tahu dirinya dari api. Ia tahu Adam dari tanah. Tetapi ia tidak tahu bahwa tanah yang ia hina itu menyimpan dunia.
Dari tanah tumbuh padi yang mengenyangkan manusia. Dari tanah tumbuh pohon, buah, dan kehidupan. Dari tanah keluar air.
Di dalam bumi tersimpan mineral, unsur logam, dan berbagai kekayaan yang kemudian memungkinkan manusia membangun peradaban.
Tanah yang dianggap rendah ternyata menjadi tempat kehidupan bertumpu.
Sementara api memang mengandung energi, memberikan panas dan cahaya, tetapi api juga dapat membakar, menghancurkan, dan menghanguskan apa saja ketika tidak terkendali.
Jadi, apakah yang lebih mulia: tanah atau api? Pertanyaan itu sejak awal sudah keliru.
Sebab kemuliaan tidak ditentukan oleh bahan asal, melainkan oleh kehendak Tuhan dan apa yang dilakukan oleh makhluk itu dengan apa yang diberikan kepadanya.
Dan di situlah Iblis jatuh. Bukan karena ia kurang sesuatu. Tetapi karena ia merasa lebih.
Ini paradoks yang sering tidak kita sadari: orang sombong pada dasarnya adalah orang yang sangat miskin.
Miskin kesadaran. Miskin rasa cukup. Miskin rasa syukur. Miskin kemampuan melihat bahwa dirinya bukan pusat alam semesta.
Ia mungkin kaya harta, tetapi kere dalam jiwa. Ia mungkin tinggi jabatan, tetapi rendah dalam pengendalian diri. Ia mungkin pintar menghitung uang, tetapi gagal menghitung nikmat. Ia mungkin pandai membaca angka, tetapi tidak mampu membaca dirinya sendiri.
Maka mental kere dan kesombongan sebenarnya mempunyai satu akar: ketidakmampuan menerima batas.
Orang serakah tidak menerima batas kepemilikan. Orang sombong tidak menerima batas dirinya. Orang korup tidak menerima batas kekuasaan.
Dan Iblis tidak menerima batas kehendaknya di hadapan Tuhan.
Semua bermula dari satu kalimat yang tampaknya sederhana: “Aku tidak cukup.”
Lalu kalimat itu berubah menjadi: “Aku harus punya lebih.”
Kemudian: “Aku berhak mengambil.”
Dan akhirnya:
“Aku lebih tinggi daripada yang lain.”
Di situlah mental kere menjadi keserakahan. Dan keserakahan, ketika bertemu kekuasaan, bisa berubah menjadi korupsi. Korupsi pada akhirnya bukan hanya soal uang yang dicuri. Ia adalah ketidakmampuan manusia mengatakan: “Ini bukan milikku.”
Ia tahu itu bukan haknya, tetapi tangannya tetap mengambil. Ia tahu orang lain membutuhkan, tetapi ia tetap menimbun. Ia tahu aturan melarang, tetapi ia mencari celah. Ia tahu rakyat menunggu, tetapi kepentingan dirinya didahulukan.
Maka korupsi adalah mental kere yang menemukan kesempatan. Dan dunia kemudian menjadi terasa sempit.
Bukan karena bumi benar-benar kekurangan. Tetapi karena ada manusia yang ingin memiliki terlalu banyak.
Mahatma Gandhi pernah sangat terkenal dengan gagasan bahwa bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia.
Kalimat itu, entah kita memandangnya sebagai nasihat moral, kritik ekonomi, atau sekadar renungan, mempunyai daya pukul yang sulit dihindari.
Sebab bumi ini memang menyediakan banyak. Yang sering tidak tersedia adalah rasa cukup.
Dan mungkin itulah sebabnya kemiskinan tidak pernah selesai hanya dengan membagi-bagi kekayaan.
Kita juga harus membereskan keserakahan.
Kita harus mengajari manusia bukan hanya bagaimana menjadi kaya, tetapi juga bagaimana berhenti ketika sudah cukup.
Sebab orang yang tidak tahu cukup akan selalu menciptakan kekurangan bagi orang lain.
Satu orang menimbun tanah, orang lain kehilangan tempat tinggal.
Satu orang menguasai sumber air, orang lain harus membeli air.
Satu orang mengeruk kekayaan alam, generasi berikutnya menerima tanah yang rusak.
Satu orang menggelembungkan anggaran, anak-anak di pelosok kehilangan sekolah yang layak.
Maka ada kemiskinan yang bukan semata-mata akibat kurangnya sumber daya.
Ada kemiskinan yang diciptakan oleh keserakahan manusia.
Dan di sinilah kita kembali kepada kisah yang sangat tua itu.
Iblis melihat tanah dan berkata, “Aku lebih tinggi.”
Manusia serakah melihat kekayaan dan berkata, “Aku masih kurang.”
Manusia korup melihat uang negara dan berkata, “Aku bisa mengambil.”
Manusia sombong melihat manusia lain dan berkata, “Aku lebih tinggi.”
Kalimatnya berbeda-beda. Tetapi akarnya sama.
Aku. Aku lebih tinggi. Aku lebih berhak. Aku lebih pantas. Aku harus mendapat lebih.
Maka jangan buru-buru menyebut orang miskin sebagai kere hanya karena celananya lusuh atau rumahnya sempit.
Bisa jadi orang yang hidupnya paling sederhana justru paling kaya.
Dan jangan buru-buru menyebut orang kaya sebagai berhasil hanya karena hartanya banyak.
Bisa jadi ia sedang mengalami kemiskinan yang paling menyedihkan: hartanya bertambah, tetapi rasa cukupnya mati.
Pada akhirnya, mungkin ukuran kekayaan manusia bukan berapa banyak yang berhasil dikumpulkannya.
Melainkan apakah setelah memperoleh banyak, ia masih mampu berkata: cukup.
Sebab manusia yang tahu cukup akan berhenti mengambil. Manusia yang tahu syukur akan berhenti membandingkan. Manusia yang tahu dirinya berasal dari tanah akan lebih berhati-hati untuk tidak merasa lebih tinggi daripada manusia lain. Dan manusia yang sungguh mengenal Tuhan akan tahu bahwa di hadapan-Nya, tidak ada yang pantas menyombongkan diri.
Sebab pada akhirnya kita semua kembali ke tanah. Yang membedakan bukan dari apa kita diciptakan.
Tetapi menjadi apa kita setelah diberi kehidupan.
Aris Munandar, petani dan tinggal di Magelang